HaiBunda

KEHAMILAN

KB IUD Bisa Bikin Siklus Haid Lebih Lama? Simak Penjelasannya

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 04 Sep 2026 14:00 WIB
KB IUD Bisa Bikin Siklus Haid Lebih Lama? Simak Penjelasannya/Foto: Getty Images/kyonntra
Jakarta -

Bunda sedang menggunakan KB spiral dan merasa menstruasi jadi lebih lama atau lebih banyak dari biasanya? Kondisi ini memang bisa terjadi, tetapi efeknya bergantung pada jenis KB spiral yang digunakan.

Secara umum, ada dua jenis KB spiral atau intrauterine device (IUD), yaitu IUD tembaga dan IUD hormonal. Keduanya sama-sama efektif untuk mencegah kehamilan, tetapi dapat memberikan efek yang berbeda terhadap pola menstruasi.

Pada IUD tembaga, haid dapat menjadi lebih deras dan lebih lama, terutama pada beberapa bulan pertama. Sementara itu, IUD hormonal umumnya membuat perdarahan semakin sedikit seiring waktu.


KB IUD bisa bikin siklus haid lebih lama?

Bisa Bunda, terutama pada pengguna IUD tembaga.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perdarahan yang lebih banyak atau berlangsung lebih lama merupakan hal yang umum terjadi pada 3–6 bulan pertama setelah pemasangan IUD tembaga. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan cenderung berkurang seiring bertambahnya waktu penggunaan.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga menyebutkan bahwa IUD tembaga dapat menyebabkan menstruasi menjadi lebih banyak, terutama selama tahun pertama pemakaian. Artinya, kalau Bunda baru menggunakan spiral tembaga dan mendapati menstruasi lebih deras atau lebih lama dari biasanya, perubahan tersebut bisa menjadi efek samping dari alat kontrasepsi.

Kenapa spiral tembaga bisa membuat haid lebih banyak?

IUD tembaga bekerja tanpa hormon. Alat ini melepaskan tembaga di dalam rahim yang kemudian menciptakan kondisi yang tidak mendukung pergerakan dan fungsi sperma sehingga mencegah terjadinya pembuahan.

Efek lokal dari IUD tembaga juga dapat memengaruhi pola perdarahan. Karena itu, sebagian perempuan mengalami menstruasi yang lebih banyak, lebih lama, atau lebih nyeri setelah pemasangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Shaw dkk. terhadap 127 perempuan menemukan bahwa penggunaan Copper T meningkatkan volume darah menstruasi rata-rata sekitar 42 persen dibandingkan sebelum pemasangan. Peningkatan tersebut terutama terlihat pada periode awal setelah pemasangan dan kemudian berkurang pada siklus berikutnya.

Studi lain oleh Larsson, Hamberger, dan Rybo yang mengamati 43 perempuan juga menemukan adanya peningkatan kehilangan darah menstruasi sekitar 20 ml per periode setelah penggunaan IUD tembaga.

Meski demikian, hasil penelitian tidak berarti setiap pengguna IUD tembaga pasti akan mengalami haid lebih lama. Respons tubuh setiap perempuan dapat berbeda.

Bagaimana dengan spiral hormonal?

Nah, kalau Bunda menggunakan IUD hormonal, ceritanya berbeda. IUD hormonal melepaskan hormon levonorgestrel yang bekerja terutama di dalam rahim. Hormon ini membuat lapisan rahim menjadi lebih tipis sehingga jumlah darah menstruasi dapat berkurang.

CDC menjelaskan bahwa pada 3–6 bulan pertama, pengguna IUD hormonal dapat mengalami spotting atau perdarahan yang tidak teratur. Namun, seiring waktu, perdarahan biasanya semakin sedikit. Banyak pengguna akhirnya hanya mengalami menstruasi ringan atau bahkan tidak menstruasi sama sekali.

ACOG juga menyebutkan bahwa pada awal pemakaian IUD hormonal, Bunda mungkin mengalami spotting, perdarahan yang lebih sering, atau lebih banyak hari perdarahan. Setelah tubuh beradaptasi, jumlah dan lama menstruasi biasanya menurun. Jadi, jangan menyamakan efek spiral tembaga dan spiral hormonal terhadap haid, ya, Bunda.

Mana yang lebih berpengaruh pada perdarahan, spiral tembaga atau hormonal?

Salah satu uji klinis acak yang membandingkan IUD tembaga dengan IUD yang melepaskan levonorgestrel menemukan bahwa pengguna IUD tembaga lebih sering menghentikan penggunaan alat karena perdarahan menstruasi berat dan nyeri haid.

Dalam studi tersebut, angka penghentian penggunaan karena perdarahan berat dan nyeri adalah sekitar 9,7 per 100 perempuan pada kelompok IUD tembaga, dibandingkan 1,3 per 100 perempuan pada kelompok IUD levonorgestrel.

Penelitian lain oleh Andrade dkk. yang mengukur kehilangan darah menstruasi secara kuantitatif juga menemukan perbedaan yang cukup jelas. Pada pengguna IUD levonorgestrel, rata-rata kehilangan darah menstruasi berkurang sekitar 90 persen, sedangkan pada kelompok IUD tembaga kehilangan darah justru meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya.

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa spiral hormonal sering kali menjadi pilihan bagi perempuan yang ingin menggunakan kontrasepsi jangka panjang sekaligus mengalami menstruasi yang lebih ringan.

Berapa lama perubahan haid akibat spiral bisa berlangsung?

Kalau Bunda menggunakan IUD tembaga, perubahan perdarahan biasanya paling terasa pada beberapa bulan pertama. CDC menyebutkan bahwa perdarahan berat atau berkepanjangan umum terjadi selama 3–6 bulan pertama dan umumnya berkurang dengan penggunaan yang lebih lama.

Sementara itu, pada IUD hormonal, spotting atau perdarahan tidak teratur juga dapat terjadi pada 3–6 bulan pertama. Namun, jumlah perdarahan biasanya semakin berkurang seiring waktu. Jadi, tubuh Bunda membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah pemasangan spiral.

Apakah haid lebih lama setelah pasang spiral berbahaya?

Tidak selalu ya Bunda. Perubahan pola menstruasi merupakan salah satu efek samping yang memang dapat terjadi setelah penggunaan IUD. Pada IUD tembaga, perdarahan yang lebih banyak atau lebih lama pada beberapa bulan pertama umumnya bukan kondisi berbahaya. Namun, Bunda tetap perlu memperhatikan seberapa banyak darah yang keluar dan apakah ada gejala lain.

Perdarahan yang sangat banyak dapat menyebabkan kehilangan zat besi dan pada kondisi tertentu berkontribusi terhadap anemia. ACOG menjelaskan bahwa perdarahan menstruasi berat dapat menyebabkan anemia akibat kekurangan zat besi.

Kapan Bunda perlu periksa ke dokter?

Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika perdarahan terasa sangat banyak, berlangsung terus-menerus, atau justru baru muncul setelah sebelumnya pola haid sudah normal.

CDC menyarankan dokter mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain, seperti IUD bergeser, kehamilan, infeksi menular seksual, gangguan tiroid, polip, atau fibroid, terutama jika perdarahan berat atau berkepanjangan baru muncul setelah beberapa bulan penggunaan IUD.

Segera periksa jika perdarahan disertai:

  • Nyeri perut atau panggul yang hebat.
  • Demam.
  • Keputihan yang berbau tidak biasa.
  • Pusing atau lemas berat.
  • Perdarahan yang sangat banyak.
  • Kecurigaan IUD bergeser atau keluar.

Jangan lupa, perubahan menstruasi tidak selalu disebabkan oleh KB. Karena itu, pemeriksaan diperlukan jika pola perdarahan berubah secara signifikan.

Apakah KB spiral bisa bikin siklus haid lebih lama?

Bisa ya Bunda, terutama jika Bunda menggunakan spiral tembaga.

IUD tembaga dapat membuat menstruasi lebih banyak, lebih lama, atau lebih nyeri, terutama pada beberapa bulan pertama setelah pemasangan. Seiring waktu, keluhan tersebut pada banyak pengguna dapat berkurang.

Sebaliknya, IUD hormonal justru cenderung mengurangi jumlah dan lama perdarahan menstruasi setelah tubuh beradaptasi. Pada sebagian pengguna, menstruasi bahkan dapat berhenti.

Jadi, kalau Bunda mengalami perubahan haid setelah memakai KB spiral, tidak perlu langsung khawatir. Perhatikan jenis spiral yang digunakan, berapa lama sudah memakainya, serta seberapa banyak perubahan perdarahannya.

Jika haid sangat banyak, berlangsung lama secara terus-menerus, atau disertai nyeri dan gejala lain, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kandungan untuk memastikan penyebabnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Pijat Perut untuk Program Hamil, Benarkah Efektif?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Orang Tua Ucap "Kamu Pintar" pada Anak Ternyata Tak Selalu Baik, Ini Kata Profesor Stanford

Parenting Annisa Karnesyia

11 Ciri Orang yang Membawa Energi Positif bagi Sekitarnya

Mom's Life Tim HaiBunda

KB IUD Bisa Bikin Siklus Haid Lebih Lama? Simak Penjelasannya

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Manfaat Anak Ikut OSIS, Bukan Cuma Soal Leadership

Parenting Adi Prakoso & Tiara Jasmine

Surat Menyentuh Joanna Alexandra untuk Suami di 1 Bulan Pernikahan: Tak Selalu Mudah, tapi Bersyukur

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Amanda Manopo Ajarkan Alfabet Lewat Video Edukasi untuk Anak, Dijuluki Ms Rachel versi Indonesia

KB IUD Bisa Bikin Siklus Haid Lebih Lama? Simak Penjelasannya

Orang Tua Ucap "Kamu Pintar" pada Anak Ternyata Tak Selalu Baik, Ini Kata Profesor Stanford

Sepakat Cerai Baik-baik, Ini Alasan Audi Marissa Serahkan Hak Asuh Anak kepada Anthony Xie

Manfaat Anak Ikut OSIS, Bukan Cuma Soal Leadership

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK