Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Orang Tua Ucap "Kamu Pintar" pada Anak Ternyata Tak Selalu Baik, Ini Kata Profesor Stanford

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 04 Sep 2026 13:35 WIB

ucapan orang tua agar punya hbungan positif dengan anak
Dampak ucapan orang tua memuji anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid
Jakarta -

Mengucapkan 'kamu pintar' kepada anak mungkin terdengar seperti bentuk pujian yang sederhana. Banyak orang tua melontarkan pujian ini dengan tujuan agar anak merasa disayangi dan dicintai.

Padahal tanpa diketahui orang tua, ucapan 'kamu pintar' ternyata bisa menjadi boomerang bagi si anak. Menurut seorang profesor dari Stanford, Jo Boaler, cara orang tua memberikan pujian dapat memengaruhi bagaimana anak memandang kemampuan dirinya sendiri.

Para pendidik dan psikolog percaya bahwa ketika orang tua memuji anak-anak karena pintar, anak-anak akan berpikir, 'Oh bagus, aku pintar'. Kemudian ketika anak-anak itu melakukan kesalahan, mereka jadi berpikir, 'Oh tidak, ternyata aku tidak pintar. Orang-orang akan berpikir aku tidak pintar'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menciptakan pola pikir itu adalah risiko yang harus dihindari saat anak mulai belajar. Anak-anak yang 'pintar' cenderung menjadi sangat enggan untuk membuat kesalahan, yang sebenarnya sangat penting untuk meraih kesuksesan.

Mereka yang dilabeli sebagai 'anak pintar' atau 'berbakat' sering kali cenderung kurang berani menantang diri sendiri dibandingkan anak-anak lain. Anak-anak ini mungkin melakukan lebih sedikit kesalahan, tetapi itu karena mereka hanya berani di zona nyamannya dan berhenti berkembang serta beradaptasi dengan tantangan baru. Pada akhirnya, hal tersebut membuat anak lebih sulit untuk mengerahkan kemampuannya di masa depan.

Dampak pujian pada anak saat tumbuh dewasa

Menurut Boaler, pola pikir tetap yang tercipta dari dampak pujian 'kamu pintar' dapat berlanjut hingga dewasa. Kelompok yang paling dirugikan adalah anak perempuan berprestasi tinggi.

"Mengapa? Karena masyarakat memberi tahu anak perempuan bahwa mereka mungkin tidak akan sebaik anak laki-laki dalam matematika dan sains," kata Boaler, dilansir Your Tango.

"Itu berarti anak perempuan cenderung lebih menghindari tantangan dalam bidang sains dan matematika, dan keengganan untuk membuat kesalahan menyebabkan berkurangnya pembelajaran dan kemajuan. Semakin disiplin ilmu tertentu berpegang teguh pada gagasan tentang bakat, maka semakin sedikit perempuan yang meraih gelar PhD di bidang tersebut."

Bicara soal pujian 'kamu pintar', pakar spsialisasi psikologi olahraga dan pengasuhan anak Jim Taylor Ph.D., juga setuju dengan pernyataan Boaler. Menurutnya, pujian dengan mengatakan, "Kamu pintar," itu kurang spesifik.

Pujian itu tidak memberi tahu anak-anak apa tepatnya yang mereka lakukan dengan baik, dan tanpa informasi itu, mereka tidak dapat mengetahui apa yang harus dilakukan di masa depan untuk mendapatkan hasil yang sama. Kemudian, kata pujian itu hanya berfokus pada hasil, bukan prosesnya.

Penelitian menunjukkan bahwa cara orang tua memuji anak-anaknya memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan mereka. Peneliti dari The Columbia University, Claudia Mueller dan Carol Dweck, menemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena kecerdasan dibandingkan dengan usaha mereka, menjadi terlalu fokus pada hasil.

"Setelah kegagalan, anak-anak yang sama ini kurang gigih, menunjukkan kurang menikmati, mengaitkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan, dan berkinerja buruk dalam upaya pencapaian di masa mendatang," ungkap Taylor, dikutip dari Psychology Today.

Pengganti kata 'kamu pintar' untuk anak

Alih-alih mengatakan 'kamu pintar' ke anak, Bunda bisa menggantinya dengan pernyataan yang lebih bersifat umum, seperti 'Kamu melakukan pekerjaan yang hebat!' atau, 'Kamu bekerja keras, dan itu membuahkan hasil!'.

Nah, jika kata 'pintar' dilarang, maka menyebut anak sebagai 'ahli matematika' juga masuk dalam daftar kalimat yang perlu dihindari. Memberi label seseorang sebagai 'orang yang ahli sains' atau 'bukan orang yang ahli sains' sama saja akan merusaknya, karena hal itu tidak memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan.

Boaler menyarankan agar orang tua menunjukkan simpati ketika seorang anak yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian. Hal itu dilakukan karena anak tidak diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka.

"Ketika kita menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa kesalahan itu baik, bahwa orang sukses pun melakukan kesalahan, hal itu dapat mengubah seluruh jalan hidup mereka," ungkap Boaler.

Demikian penjelasan pakar terkait dampak mengatakan 'kamu pintar' pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda