Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kembar Ini Lahir Saling Berpelukan, Ternyata Berbagi Satu Kantung Ketuban

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Selasa, 08 Sep 2026 07:30 WIB

ilustrasi bayi kembar
Kembar Ini Lahir Saling Berpelukan, Ternyata Berbagi Satu Kantung Ketuban.Foto: iStock
Daftar Isi
Jakarta -

Momen kelahiran bayi kembar memang selalu mencuri perhatian. Namun, kisah dua bayi perempuan asal New Jersey, Amerika Serikat, ini terbilang sangat langka. Saat dilahirkan melalui operasi caesar, keduanya bahkan terlihat seperti saling berpelukan di dalam satu kantung ketuban.

Bayi kembar bernama Shednhee dan Claydee ini lahir pada 26 Mei 2026 di Newark Beth Israel Medical Center. Keduanya lahir prematur pada usia kehamilan 32 minggu setelah sang ibu, Shedeline Pierre Louis, menjalani kehamilan kembar dengan kondisi yang cukup berisiko.

Yang membuat kehamilan ini istimewa adalah keduanya merupakan monokorionik-monoamniotik atau MoMo twins. Artinya, kedua bayi berbagi satu plasenta sekaligus satu kantung ketuban. Berikut kisahnya dikutip dari People.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apa itu bayi kembar MoMo?

Bunda mungkin pernah mendengar istilah kembar identik, kembar fraternal, atau kembar satu plasenta. Nah, MoMo merupakan salah satu jenis kehamilan kembar yang sangat jarang.

MoMo adalah singkatan dari monochorionic-monoamniotic, yaitu kehamilan ketika dua janin berbagi satu plasenta dan satu kantung ketuban. Karena tidak terdapat membran pemisah di antara kedua janin, keduanya berada dalam ruang yang sama selama berada di dalam rahim.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Perinatology menyebutkan bahwa kembar monokorionik-monoamniotik terjadi sekitar 1 dari 10.000 kehamilan. Kondisi ini juga dikaitkan dengan risiko komplikasi seperti keterikatan tali pusar, kelainan bawaan, twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS), dan kelahiran prematur.

Sementara itu, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga menyebut kehamilan monoamniotik sebagai kehamilan kembar yang jarang tetapi berisiko tinggi. Salah satu masalah yang paling sering menjadi perhatian adalah komplikasi pada tali pusar.

Mengapa berbagi satu kantung ketuban bisa berisiko?

Pada kehamilan kembar yang memiliki dua kantung ketuban, setiap bayi memiliki ruang sendiri. Namun, kondisi ini berbeda pada kembar MoMo. Karena tidak ada sekat di antara kedua bayi, tali pusar mereka dapat berada sangat berdekatan dan berisiko saling melilit atau terjerat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Ultrasound in Obstetrics & Gynecology menemukan bahwa keterikatan tali pusar merupakan masalah yang sangat umum pada kehamilan monoamniotik. Dalam tinjauan literatur tersebut, angka keterikatan tali pusar mencapai sekitar 74 persen.

Meski demikian, penting untuk tidak langsung menganggap bahwa setiap tali pusar yang terlilit pasti menyebabkan masalah. Penelitian lain yang diterbitkan di American Journal of Obstetrics and Gynecology menemukan bahwa keterikatan tali pusar tidak secara langsung terbukti meningkatkan angka kesakitan atau kematian sebelum kelahiran pada semua kehamilan kembar monoamniotik. Dari 228 janin yang diteliti, angka keselamatannya mencapai 88,6 persen.

Jadi, yang menjadi perhatian bukan sekadar ada atau tidaknya lilitan, tetapi apakah lilitan tersebut sampai mengganggu aliran darah melalui tali pusar.

Kehamilan MoMo perlu pemantauan lebih ketat

Karena risikonya lebih tinggi, kehamilan MoMo umumnya membutuhkan pemantauan yang lebih intensif oleh dokter, terutama dokter spesialis fetomaternal. Studi multicenter di Inggris yang diterbitkan dalam Ultrasound in Obstetrics & Gynecology menganalisis kehamilan MoMo yang ditangani di berbagai rumah sakit selama periode 2000–2013.

Penelitian tersebut menemukan bahwa angka kematian perinatal masih cukup tinggi pada kehamilan MoMo, terutama ketika persalinan terjadi pada usia kehamilan yang sangat muda. Angka kematian perinatal dalam penelitian tersebut adalah 14,7 persen secara keseluruhan, tetapi mencapai 69,2 persen pada kelahiran sebelum usia kehamilan 30 minggu.

Temuan tersebut menunjukkan mengapa dokter perlu melakukan pemantauan secara ketat dan mempertimbangkan waktu persalinan dengan hati-hati. ACOG juga menyebut bahwa risiko kematian perinatal pada kehamilan kembar monoamniotik diperkirakan berada pada kisaran 12–23 persen, sehingga pengawasan kehamilan perlu dilakukan secara individual dan melibatkan spesialis kedokteran maternal-fetal.

Bayi MoMo juga berisiko lahir prematur

Selain masalah tali pusar, kelahiran prematur menjadi salah satu tantangan pada kehamilan MoMo. Penelitian terhadap 14 studi yang melibatkan 685 kehamilan kembar monoamniotik tanpa kelainan janin menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari kehamilan tersebut memiliki risiko mengalami berbagai masalah neonatal, termasuk gangguan pernapasan, gangguan neurologis, infeksi, dan membutuhkan perawatan di NICU.

Hal tersebut membuat kisah Shednhee dan Claydee menjadi semakin menarik. Kehamilan Shedeline sendiri bukan perjalanan yang mudah. Setelah diketahui mengandung bayi kembar MoMo, ia mendapatkan pemantauan medis secara ketat. Pada usia kehamilan 26 minggu, Shedeline bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan lebih intensif.

Dokter awalnya berharap persalinan dapat dilakukan ketika usia kehamilan mencapai sekitar 34 minggu. Namun, tim medis kemudian menemukan adanya tanda bahwa pertumbuhan salah satu bayi mulai mengalami penurunan. Akhirnya, pada usia kehamilan 32 minggu, dokter memutuskan untuk melahirkan kedua bayi melalui operasi caesar. Bagian paling mengharukan terjadi ketika kedua bayi dilahirkan.

Dokter yang melakukan operasi caesar terhadapnya, Dr. Alexander L. Juusela, seorang spesialis kedokteran ibu dan janin di Newark Beth Israel Medical Center, mengatakan bahwa komplikasinya bisa berkisar dari hambatan pertumbuhan janin hingga sang ibu mengalami preeklamsia. Namun, risiko terbesarnya adalah terlilit tali pusat, yang memang terjadi selama kehamilan Pierre Louis.

"Risikonya adalah jika lilitan menjadi terlalu kencang dan memutus aliran darah, salah satu atau bahkan kedua bayi bisa meninggal di dalam kandungan," ujar Juusela, yang juga merupakan asisten profesor klinis di Rutgers New Jersey Medical School.

Menurut dokter yang menangani persalinan, Dr. Alexander L. Juusela, kedua bayi lahir masih berada di dalam kantung ketuban yang sama. Keduanya bahkan terlihat seperti sedang berpelukan.

Setelah kantung ketuban dibuka, kedua bayi tersebut masih terlihat sangat berdekatan satu sama lain. Momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi keluarga maupun tim medis. Pasalnya, kehamilan MoMo sendiri sudah tergolong langka dan membutuhkan pemantauan khusus.

Lahir prematur dan harus dirawat di NICU

Meski persalinannya berjalan dengan baik, perjalanan Shednhee dan Claydee belum selesai setelah lahir. Keduanya lahir pada usia kehamilan 32 minggu sehingga tergolong bayi prematur. Setelah lahir, mereka mendapatkan perawatan untuk membantu kondisi pernapasan dan membutuhkan tambahan oksigen.

Kedua bayi kemudian menjalani perawatan selama hampir dua bulan di NICU sebelum akhirnya diperbolehkan pulang pada 23 Juli 2026. Kondisi ini sejalan dengan temuan penelitian mengenai kehamilan MoMo. Bayi yang lahir prematur memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah pernapasan dan membutuhkan perawatan neonatal dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

Setelah hampir dua bulan menjalani perawatan, Shednhee dan Claydee akhirnya diperbolehkan pulang bersama kedua orang tuanya. Sesampainya di rumah, orang tua mereka mulai melihat karakter masing-masing bayi. Shednhee disebut lebih cepat tidak sabar ketika waktunya menyusu, sementara Claydee cenderung lebih tenang dan menunggu gilirannya.

Meski memiliki karakter berbeda, keduanya tetap terlihat dekat satu sama lain. Sang ayah bahkan mengatakan bahwa kedua putrinya senang bersama-sama.

Bagi sang ibu, kedekatan tersebut terasa semakin istimewa karena kedua putrinya sudah melewati perjalanan bersama sejak masih berada di dalam rahim. Kini, setelah melewati kehamilan berisiko tinggi, persalinan prematur, hingga hampir dua bulan di NICU, Shednhee dan Claydee akhirnya bisa tumbuh bersama di rumah.

Kisah mereka memang menggemaskan, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa kehamilan kembar dengan satu plasenta dan satu kantung ketuban membutuhkan pengawasan medis yang lebih ketat.

Setiap kehamilan tentu memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, Bunda yang sedang mengandung bayi kembar sebaiknya mengikuti jadwal pemeriksaan yang diberikan dokter agar pertumbuhan dan kondisi kedua janin dapat dipantau dengan baik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda