KEHAMILAN
Kasus Hipertensi saat Hamil Terus Meningkat, Ini Penyebab dan Risikonya
Melly Febrida | HaiBunda
Selasa, 29 Sep 2026 07:30 WIBHipertensi saat hamil bukan kondisi sepele, Bunda. Tekanan darah rutin diperiksa selama kehamilan, tapi ketika angka meningkat bisa berkaitan dengan berbagai komplikasi pada ibu dan janin.
Data terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menunjukkan kasus hipertensi gestasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Lantas, apa yang menyebabkan hipertensi saat hamil dan apa saja risikonya untuk ibu dan bayi?
Kasus hipertensi saat hamil terus meningkat
Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics, CDC, yang dirilis pada 29 Juli 2026, kasus hipertensi gestasional meningkat cukup tajam di Amerika Serikat.
Pada 2024, sekitar 10,4 persen ibu yang melahirkan mengalami hipertensi gestasional. Angka tersebut meningkat dari 6 persen pada 2016, atau naik sekitar 73 persen dalam delapan tahun.
Dengan kata lain, pada 2024 sekitar 1 dari 10 ibu yang melahirkan mengalami hipertensi gestasional.
"Gangguan hipertensi (yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi) pada kehamilan... merupakan komplikasi kehamilan yang umum terjadi dan termasuk penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu di Amerika Serikat," lapor Pusat Statistik Kesehatan Nasional CDC melansir laman UPI.
Ahli statistik Elizabeth C.W. Gregory dari National Center for Health Statistics mengatakan bahwa data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hipertensi pada kehamilan, tetapi penelitian itu tidak menjelaskan penyebab kenaikannya.
Dr. Elizabeth K. Cherot, dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang dikutip UPI dari The New York Times, juga menyebut peningkatan tersebut sebagai peningkatan yang substansial. Ia menambahkan bahwa kondisi ini kemungkinan masih kurang tercatat dalam akta kelahiran sehingga angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
Cherot mengatakan bahwa American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mulai menyerukan deteksi dini tekanan darah tinggi pada ibu hamil sejak tahun 2018, serta penanganan masalah tersebut yang lebih baik.
Pada tahun 2023, sebuah gugus tugas juga merekomendasikan agar penyedia layanan kesehatan secara rutin memeriksa tekanan darah pada ibu hamil, sejak tahap awal kehamilan.
Apa penyebab hipertensi saat hamil?
Sampai saat ini, belum ada satu penyebab tunggal yang bisa menjelaskan mengapa kasus hipertensi saat hamil meningkat. Namun, data CDC menunjukkan beberapa karakteristik yang berkaitan dengan risiko hipertensi gestasional yang lebih tinggi.
Salah satunya adalah usia ibu. Pada 2024, angka hipertensi gestasional paling tinggi ditemukan pada ibu berusia 40 tahun atau lebih. Selain itu, angka hipertensi gestasional juga meningkat seiring dengan semakin tingginya indeks massa tubuh atau BMI sebelum kehamilan.
Kehamilan kembar atau lebih juga berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi. Dalam data CDC, angka hipertensi gestasional pada kehamilan multipel hampir dua kali lipat dibandingkan kehamilan tunggal.
Selain faktor tersebut, beberapa kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko gangguan hipertensi dalam kehamilan. Seperti hipertensi kronis, penyakit ginjal, diabetes, serta penyakit autoimun tertentu seperti lupus. Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya juga menjadi salah satu faktor risiko.
Karena itu penting membedakan antara faktor yang berkaitan dengan risiko hipertensi saat hamil dan penyebab meningkatnya hipertensi secara keseluruhan. Data CDC menunjukkan hubungan dengan beberapa karakteristik ibu, tetapi belum bisa menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan penyebab kenaikan 73 persen tersebut.
Jenis hipertensi saat hamil yang perlu diketahui
Hipertensi saat hamil bisa muncul dalam beberapa kondisi. Mayo Clinic membaginya menjadi beberapa jenis.
1. Hipertensi kronis
Kondisi ini sudah ada sebelum kehamilan atau muncul pada 20 minggu pertama kehamilan.
2. Hipertensi gestasional
Tekanan darah tinggi pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, tanpa adanya protein berlebih dalam urine atau tanda kerusakan organ lainnya. Namun, pada sebagian ibu, kondisi ini dapat berkembang menjadi preeklamsia.
3. Hipertensi kronis dengan preeklamsia superimposed
Kondisi ini terjadi ketika ibu yang sudah mengalami hipertensi kronis kemudian mengalami preeklamsia selama kehamilan.
4. Preeklamsia
Preeklamsia merupakan kondisi serius ketika tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan disertai tanda adanya gangguan pada organ lain. Gangguan dapat melibatkan ginjal, hati, darah, otak, atau paru-paru.
Preeklamsia bahkan dapat berkembang menjadi eklamsia, yaitu kondisi yang ditandai dengan kejang dan termasuk keadaan darurat medis.
Berapa tekanan darah yang termasuk hipertensi saat hamil?
Menurut ACOG, hipertensi dalam kehamilan umumnya ditandai dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih.
Pada hipertensi gestasional, tekanan darah tinggi tersebut pertama kali terdeteksi setelah usia kehamilan 20 minggu pada ibu yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal.
Sementara itu, tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih termasuk hipertensi berat dalam kehamilan dan memerlukan penanganan medis segera karena dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.
Karena tekanan darah dapat berubah sepanjang hari, diagnosis tidak hanya ditentukan dari satu kali pengukuran. Dokter dapat melakukan pengukuran ulang dan pemeriksaan lain sesuai kondisi ibu.pemeriksaan lain sesuai kondisi ibu.
Apa risiko hipertensi saat hamil bagi ibu dan bayi?
Hipertensi saat hamil perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan ibu sekaligus aliran darah ke plasenta.
Beberapa risiko yang dapat terjadi antara lain:
1. Preeklamsia
Hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia. Kondisi ini dapat memengaruhi organ tubuh ibu dan pada kondisi berat dapat menyebabkan kejang atau stroke.
2. Solusio plasenta
Tekanan darah tinggi dan preeklamsia dapat meningkatkan risiko solusio plasenta, yaitu kondisi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir.
Kondisi yang berat dapat menyebabkan perdarahan hebat dan membahayakan ibu serta bayi.
3. Pertumbuhan janin terhambat
Tekanan darah tinggi dapat mengurangi aliran darah menuju plasenta. Akibatnya, janin bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi yang lebih sedikit sehingga pertumbuhannya dapat melambat.
4. Bayi lahir dengan berat badan rendah
Gangguan aliran darah ke plasenta dapat memengaruhi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
5. Kelahiran prematur
Dalam kondisi tertentu, persalinan lebih awal mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada ibu atau bayi.
6. Kerusakan organ pada ibu
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat membebani berbagai organ, termasuk ginjal, hati, otak, jantung, dan paru-paru. Pada kondisi berat, komplikasi ini dapat mengancam nyawa.
7. Risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari
Risiko yang berkaitan dengan preeklamsia juga dapat berlanjut setelah persalinan. Mayo Clinic menyebut perempuan yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
Kenaikan kasus hipertensi gestasional yang tercatat di Amerika Serikat menjadi pengingat bahwa tekanan darah merupakan bagian penting dari pemantauan kehamilan.
Meski laporan CDC belum dapat menjelaskan penyebab meningkatnya kasus tersebut, faktor seperti usia ibu, BMI sebelum hamil, dan kehamilan kembar berkaitan dengan angka hipertensi gestasional yang lebih tinggi.
Hipertensi saat hamil juga tidak selalu berarti ibu atau bayi pasti mengalami komplikasi. Dengan pemantauan dan penanganan yang tepat, risiko dapat dikelola. Karena itu, jangan melewatkan pemeriksaan kehamilan dan jangan menunggu muncul gejala untuk memeriksakan tekanan darah.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Hamil Anak Pertama, Intip Style Maternity ala Alexandra Leclerc
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Studi Ungkap Hipertensi saat Hamil Dapat Menyebabkan Penyakit Jantung Koroner Parah
Risiko Ibu Hamil Alami Hipertensi, Catat Faktor Pemicunya Bun
Studi Terbaru: Hipertensi saat Hamil Bisa Pengaruhi Masalah Memori pada Wanita
Waspadai Hipertensi dalam Kehamilan, Penyebab, Cara Mengobati & Mencegah
TERPOPULER
7 Kebiasaan yang Sering Dianggap Aneh tapi Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Tinggi
Kasus Hipertensi saat Hamil Terus Meningkat, Ini Penyebab dan Risikonya
Banjir Bangkok, Idol K-Pop Sorn Evakuasi Keluarga dan Beri Bantuan untuk Komunitas
Potret Moana dan Sulaiman, Terlihat Kompak Meski Suka Bertengkar
3 Cara Buat Pepes Tahu Pedas, Rasanya Enak Gurih seperti Masakan Nenek
REKOMENDASI PRODUK
7 Smart Door Lock Terbaik untuk Rumah Lebih Aman Anti Maling
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Mesin Cuci Termahal, Fitur Canggih dan Harganya Bikin Melongo
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Jet Cleaner Terbaik, Ampuh & Cepat Bersihkan Noda
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Shenina Cinnamon & Angga Yunanda Rayakan 2 Bulan Kelahiran Segara, Bagikan Momen Menyusui
40 Rekomendasi Film Netflix Indonesia Terbaik Rating Tertinggi
Kasus Hipertensi saat Hamil Terus Meningkat, Ini Penyebab dan Risikonya
7 Kebiasaan yang Sering Dianggap Aneh tapi Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Tinggi
Terpopuler: Momen Manis Jerome Polin Lamar Gracia Caroline di Jepang
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Butuh Rekaman Tetap Tajam Saat Hujan dan Malam Hari? Cek Action Cam Ini
-
Beautynesia
Panduan Pakai Retinol yang Aman Menurut Dermatolog
-
Female Daily
Kenali Cara Memilih Warna Blush yang Sesuai dengan Skin Tone dan Undertone!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Ramalan Zodiak 29 September: Capricorn Hadapi Rintangan, Pisces Jangan Galau
-
Mommies Daily
Tas Kerja untuk Commuter: Ini 7 Fitur Wajib Anti Pegal!