HaiBunda

KEHAMILAN

Bukan Cuma Suhu Panas, Kelembapan Udara Ternyata Bisa Memengaruhi Kehamilan

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Jumat, 06 Nov 2026 18:20 WIB
Kelembapan Udara Ternyata Bisa Memengaruhi Kehamilan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes

Masa-masa kehamilan memang suka sensitif terhadap berbagai hal, termasuk kondisi udara, Bunda. Bahkan, bukan cuma suhu panas, kelembapan udara ternyata bisa memengaruhi kehamilan.

Saat hamil, mungkin Bunda merasa jadi lebih suka merasa 'gerah' atau kepanasan dari biasanya. Hal ini wajar saja kok, Bunda, karena sebagian besar bumil juga merasakannya. Ya, selama kehamilan kondisi perempuan memang perlu beradaptasi dengan berbagai hal. Tidak saja fisiknya yang berubah, emosionalnya yang lebih sensitif, serta kebiasaan kehamilan yang membuat bumil jadi ekstra lelah, tetapi ada juga adaptasi terhadap kelembapan udara.

Untuk meneliti lebih lanjut terkait hal tersebut, sebuah penelitian terbaru dilakukan University of Michigan di mana mereka menavigasi kehamilan di tengah meningkatnya panas dan kelembapan di Nigeria. Tim peneliti memang berfokus pada Nigeria, sebab negara ini diketahui memiliki populasi terbanyak di Afrika dan menjadi negara dengan salah satu tingkat kesuburan tertinggi di dunia serta sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.


Namun, kelembapan tinggi, yang membatasi kemampuan orang untuk mendinginkan diri dan meningkatkan risiko serangan panas, mendapat perhatian terbatas dari studi yang menyelidiki dampak perubahan iklim terhadap kesuburan dan kesehatan manusia. Hal ini terutama berlaku untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Nigeria.

"Ada cukup banyak literatur epidemiologi yang melihat suhu dan hasil kehamilan, tetapi sebagian besar ada di AS dan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya," kata Nina Brooks, asisten profesor di U-M School for Environment and Sustainability. 

Ditambahkan Brooks bahwa kelembapan memainkan peran yang sangat penting dalam panas kehamilan dan kami ingin fokus pada peran tidak hanya panas, tetapi juga panas lembap.

Untuk data kehamilan, tim beralih ke dua gelombang Survei Demografi dan Kesehatan Nigeria, yang mencakup informasi dari tahun 2003 hingga 2016. Untuk memperkirakan pengaruh gabungan suhu udara dan kelembapan, tim menghitung pengukuran resolusi tinggi dari apa yang disebut suhu bola basah. Para peneliti memperoleh suhu maksimum bola basah harian di seluruh Nigeria antara tahun 1983 dan 2016 dengan menggabungkan data yang diperoleh dari stasiun darat dengan data satelit.

"Ketika dikombinasikan dengan stasiun, satelit dapat meningkatkan pengukuran stres panas di negara-negara seperti Nigeria di mana kami memiliki sedikit stasiun cuaca dengan catatan sejarah panjang," kata Cascade Tuholske, rekan penulis studi yang kini menjadi profesor di Universitas Aix-Marseille di Prancis.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Secara keseluruhan, tim menemukan bahwa jumlah kelahiran sedang meningkat di Nigeria, namun ada beberapa hal menarik dan penting dalam penelitian ini. Misalnya, meningkatnya panas lembap sangat terkait dengan kemungkinan yang lebih besar untuk pengguguran kehamilan dini. Namun, survei tersebut tidak menanyakan apakah pemutusan itu diinduksi atau spontan.

"Tentu saja ada alasan untuk berpikir bahwa salah satu saluran tersebut bisa terpengaruh. Namun kami cenderung berpikir bahwa terminasi fisiologis dan spontan lebih masuk akal terkait dengan paparan panas,"katanya. 

Selain temuan di atas, peneliti juga menemukan temuan penting lainnya. Yakni bahwa selama sebulan paparan suhu bola basah yang tinggi, konsepsi turun sekira 1,4 persen dibandingkan rata-rata yang berada di atas 15 konsepsi per 1.000 perempuan. Namun tingkat konsepsi tersebut meningkat dibandingkan rata-rata tersebut yakni sebesar 2,3 persen pada bulan berikutnya dan 5 persen setelah dua bulan. Hasil akhirnya adalah probabilitas konsepsi secara keseluruhan meningkat, tetapi waktu kehamilan berubah.

"Meskipun perubahan waktu saja mungkin menunjukkan adaptasi efektif oleh populasi yang terpapar panas, peningkatan bersih dalam konsepsi ini dapat menimbulkan biaya sosial bagi rumah tangga jika bertentangan dengan keinginan perempuan tentang melahirkan," kata Katie McMahon, rekan penulis studi dan kandidat doktoral di University of California Santa Barbara. 

"Jika perubahan ini terutama memengaruhi rumah tangga yang rentan secara sosial, kami juga mungkin khawatir bahwa perubahan tersebut akan memperburuk ketimpangan yang ada,"tambahnya.

Perubahan ini sangat umum terjadi pada perempuan dengan pendidikan rendah dan perempuan di daerah pedesaan. Selain itu, ada juga perbedaan geografis yang mencolok, yang sesuai dengan perbedaan agama dan ekonomi di Nigeria.

Seperti diketahui bahwa di Nigeria utara, mayoritas komunitasnya adalah Muslim. Sementara  Kristen adalah agama utama di Nigeria selatan. Bagian selatan sendiri merupakan negara bagian yang lebih kaya. Dalam praktiknya, perubahan waktu kehamilan lebih terasa di utara, sementara waktu kurang terpengaruh, atau cenderung ke arah sebaliknya, di bagian selatan.

"Perbedaan regional dalam hasil yang diamati dalam studi ini mencerminkan disparitas regional yang telah lama terjadi dalam pembangunan Nigeria yang belum diatasi oleh kebijakan sosial," kata Kwaw Andam, salah satu penulis studi seperti dikutip dari News.umich.

Tim mengatakan bahwa memahami dampak panas lembap dan bagaimana dampak tersebut berbeda antar komunitas akan sangat membantu bagi petugas kesehatan masyarakat di seluruh Nigeria saat mereka memberikan nasihat kepada perempuan selama kehamilan mereka. Brooks menambahkan bahwa tujuan ke depan adalah menghubungkan studi tingkat tinggi seperti ini dengan pengalaman hidup di komunitas untuk memastikan perempuan mendapatkan input terkait kesehatan yang terbaik.

"Saya pikir langkah maju yang sangat penting adalah melakukan pekerjaan di lapangan untuk benar-benar memahami bagaimana orang memandang efek ini dan bagaimana mereka memandang risiko terhadap kesehatan mereka. Mereka kemudian dapat menggunakan itu untuk merancang panduan kesehatan masyarakat yang lebih baik,"kata Brooks.

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Hasil USG Laki-Laki, Lahirnya Perempuan? Ini Penjelasannya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Rumah Artis Tanah Air yang Dikelilingi Pemandangan Asri, Ada yang Tinggal Dekat Sawah

Mom's Life Annisa Karnesyia

Tren Loud Working Muncul saat Ancaman PHK Menghantui, Apa Artinya?

Mom's Life Arina Yulistara

Jarang Disadari, 7 Kebiasaan Ini Sering Dimiliki Orang dengan EQ Tinggi

Mom's Life Elia Amaliana

Pendaftaran CPNS Dibuka November 2026, Ini yang Perlu Disiapkan Calon Pelamar

Mom's Life Amira Salsabila

Bukan Cuma Suhu Panas, Kelembapan Udara Ternyata Bisa Memengaruhi Kehamilan

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Resep Soto Ayam, Gurih dan Segar Bikin Nambah Terus

Bukan Diet Ketat, Artis Korea Shin Min Ah Andalkan Pola Makan Ini untuk Jaga Bentuk Tubuh

Potret Rumah Artis Tanah Air yang Dikelilingi Pemandangan Asri, Ada yang Tinggal Dekat Sawah

Tren Loud Working Muncul saat Ancaman PHK Menghantui, Apa Artinya?

Bukan Cuma Suhu Panas, Kelembapan Udara Ternyata Bisa Memengaruhi Kehamilan

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK