kehamilan

Yuk, Bun, Kenali Depresi Jelang Melahirkan

Melly Febrida 10 Des 2017
Yuk, Bun, Kenali Depresi Jelang Melahirkan/ Foto: ilustrasi/thinkstock Yuk, Bun, Kenali Depresi Jelang Melahirkan/ Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Kalau postpartum depression mungkin sering kita dengar ya, Bun. Tapi kalau prepartum depression alias depresi jelang kelahiran, sepertinya jarang didengar ya. Hmm, seperti apa ya?

Jadi begini Bun, saat aktris dan penulis Jenny Mollen mengandung anak keduanya, dia berterus terang tentang pengalamannya dengan prepartum depression di Instagram-nya.

Dari cerita Jenny, memiliki bayi adalah hal yang paling menakutkan yang bisa terjadi pada seorang wanita. Meski begitu, Jenny mengatakan perasaan seperti itu adalah hal yang normal. Demikian seperti dilansir Refinery29.

Apa yang disampaikan Jenny itu kemudian memunculkan diskusi tentang prepartum depression yang jarang dikenal karena jarang pula dibicarakan. Catherine Monk, PhD, profesor psikologi medis di Columbia University Medical Center mengatakan kebanyakan orang lebih fokus dan lebih memperhatikan depresi pasca melahirkan. Padahal prepartum depression atau pralahir sama pentingnya,

Sayangnya, lanjut Catherine, banyak orang, termasuk beberapa dokter, yang tidak paham bahwa prepartum depression mempengaruhi ibu hamil.

Siapa yang berisiko mengalami prepartum depression? Kata pakar, mereka yang punya riwayat depresi atau kecemasan berisiko mengalaminya.

Sebenarnya, depresi prenatal ini umum terjadi. Karena itu Catherine mengatakan dokter kandungan juga perlu memperhatikan kesehatan mental ibu hamil.

American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) secara resmi merekomendasikan skrining, perawatan, dan tindak lanjut untuk depresi selama kehamilan.

"Dokter memang perlu bertanya, 'bagaimana rahimmu?' tapi juga perlu bertanya 'Bagaimana kabarmu dan perasaan?'," saran Catherine.

Tanda Umum Prepartum Depression

Kata Catherine, tanda prepartum depression itu mirip dengan depresi lainnya Bun, seperti ketika merasakan suasana hati yang down, energi berkurang, dan merasa nggak punya harapan. Bahkan Bun, seseorang yang mengalami prepartum depression juga berpikir bunuh diri secara pasif ataupun aktif.

"Mereka berpikir bahwa dunia akan menjadi lebih baik tanpanya, atau sering memikirkan kematian," jelas Catherine.

Selain itu Bun, perempuan yang mengalami prepartum depression mungkin merasa stres, sangat khawatir, atau merasa kurang optimis memiliki bayi. Selain itu, ada beberapa gejala yang tumpang tindih dengan kehamilan pada umumnya Bun, misalnya saja sulit tidur. Padahal selama kehamilan, umumnya ibu sulit tidur dan nafsu makannya berubah.

Karena kadang gejalanya membingungkan, penting untuk konsultasi ke dokter sehingga dapat membantu membedakan depresi atau hal normal pada ibu hamil ya, Bun.

Prepartum Depression Hilang Setelah Bayi Lahir?

Setiap perempuan itu berbeda. Catherine bilang, pada beberapa orang, prepartum depression hilang setelah melahirkan, di mana mereka merasa jauh lebih baik bahkan tanpa perawatan. Tapi, bagi orang lain, depresi pasca melahirkan juga mungkin terjadi.

Menurut ACOG, ibu hamil yang mengalami depresi ini diperkirakan sekitar 14 sampai 23 persen. Nah, dari situ, antara 5 sampai 25 persen diperkirakan mengalami depresi pasca melahirkan.

"Seorang profesional kesehatan mental bisa membantu Bunda mendapatkan yang terbaik, mengetahui seberapa seriusnya hal ini, juga apa yang harus diwaspadai untuk memantau suasana hati dan kesejahteraan Bunda sendiri," sambung Catherine.

Kabar baiknya Bun, seperti depresi lainnya, prepartum depression seringkali dapat diatasi dengan terapi, perubahan gaya hidup, dan pengobatan pada kasus yang parah. "Ada banyak cara untuk mendapatkan pertolongan, tapi penting untuk memulai ke profesional kesehatan mental," imbuh Catherine. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi