kesehatan

Soal Main Terompet di Tahun Baru dan Risiko Anak Kena Difteri

Radian Nyi Sukmasari 29 Des 2017
Soal Main Terompet di Tahun Baru dan Risiko Anak Kena Difteri (Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance) Soal Main Terompet di Tahun Baru dan Risiko Anak Kena Difteri (Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance)
Jakarta - Hawa-hawa tahun baru udah deket nih, Bun. Biasanya, untuk menyambut pergatian tahun anak-anak senang banget main terompet. Apalagi sekarang banyak banget model terompet yang dijual di pasaran. Eits, tapi kita perlu tahu kalau ada kaitan antara main terompet sama risiko anak kena difteri.

Beberapa waktu lalu, di grup WhatsApp saya ada salah satu kerabat yang membagikan pesan buat orang tua untuk hati-hati dan kalau bisa nggak perlu membelikan anak terompet dalam merayakan tahun baru. Ini mengingat difteri yang saat ini statusnya sudah Kejadian Luar Biasa di beberapa daerah di Indoneisa bisa ditularkan lewat droplet.

Saya pun minta penjelasan kaitan dua hal ini sama dr Marlyn Cecilia Malonda SpA dari Mayapada Hospital Tangerang. Menanggapi hal ini, dr Marlyn bilang pada prinsipnya difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae yang gampang banget menular. Nggak cuma mudah menular, difteri juga berbahaya karena dapat menyababkan kematian akibat sumbatan jalan napas dan gangguan jantung akibat aktivasi eksotoksin kuman difteri.

Kita juga perlu tahu kalau difteri sangat menular melalui percikan cairan atau ludah (droplet), Bun. Terus, penularan bisa terjadi nggak cuma dari si pasien aja tapi juga dari karier (pembawa), baik anak-anak maupun orang dewasa yang kelihatannya sehat ke orang-orang di sekitarnya. Tapi, dr Marlyn ngingetin penyakit ini nggak menular untuk jarak yang relatif jauh.



"Menyikapi beberapa fakta mengenai penyakit difteri, maka orang tua harus meningkatkan kewaspadaan terhadap anak-anaknya. Berhati-hati dan berjaga-jaga lebih baik, pembelian terompet juga bisa menularan difteri ya, apabila orang yang meniupnya karier difteri atau bahkan sedang menderita difteri yang masih gejala awal," kata dr Marlyn waktu ngobrol sama HaiBunda.

Nah, pencegahan difteri yang terpenting adalah dengan imunisasi. Seperti kata dr Marlyn, vaksin difteri adalah salah satu vaksin tertua yang masih digunakan sampai sekarang. Kemampuan vaksin ini sangat baik. Tapi ingat, vaksinnya nggak cukup cuma dikasih tiga kali ya. Minimal, seseorang harus mendapat 6 sampai 7 kali vaksin difteri selama hidupnya.

dr Marlyn menyarankan, sebisa mungkin untuk sementara hindari pembelian terompet kalau anak-anak belum dapat imunisasi difteri lengkap atau sama sekali belum diimunisasi. Soalnya, penularan kan bisa terjadi.

"Apabila anak sudah diimunisasi lengkap setidaknya tubuh sudah membentuk antibodi terhadap kuman difteri, sehingga risiko penularan lebih sedikit. Namun ada baiknya waspada lebih ditingkatkan," pesan dr Marlyn.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi