MENYUSUI
Bikin Khawatir, PFAS Ditemukan di Semua Sampel ASI di Negara Ini
Dwi Indah Nurcahyani | HaiBunda
Minggu, 12 Jul 2026 08:55 WIBPAFS menjadi salah satu zat kimia berbahaya yang tersembunyi di berbagai produk. Terbaru, bikin khawatir, PFAS ditemukan di semua sampel ASI di negara ini.
PFAS adalah sekelompok bahan kimia buatan manusia yang meliputi PFOA, PFOS, GenX, dan banyak lainnya. Senyawa-senyawa ini telah dibuat dan digunakan di berbagai industri di seluruh dunia sejak tahun 1940-an.
Diperkirakan ada sekira 9.000-12.000 jenis bahan kimia ini, yang dapat ditemukan di lebih dari 4.700 produk, termasuk alat-alat penyelamat jiwa untuk petugas pertolongan pertama, instrumen medis, dan berbagai barang rumah tangga dan konsumen, seperti dikutip dari laman Truthnscience.
Menyusui dan PFAS
Menyusui seharusnya menjadi nutrisi terbaik untuk bayi. Namun, kemunculan zat kimia berbahaya seperti PFAS yang tanpa disadari terserap di ASI membuat kekhawatiran tersendiri akan keselamatan dan kesehatan bayi ke depannya.
Ketika menyusui, memang ada hal yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya, adanya risiko paparan bayi terhadap bahan kimia lingkungan seperti PFAS yang dapat masuk ke ASI.
Kondisinya, PFAS banyak tersebar luas di lingkungan. Sebagian besar orang di AS dan negara-negara industri lainnya memiliki jumlah PFAS yang terukur dalam darah mereka. Studi penelitian menunjukkan bahwa PFAS dapat ditemukan dalam ASI manusia dan dikeluarkan melalui laktasi seperti dikutip dari laman CDC.
PFAS ditemukan dalam sampel ASI
Menurut sebuah penelitian terbaru, seperlima bayi yang disusui di Belanda menerima jumlah bahan kimia PFAS yang berlebihan dalam ASI ibu mereka.
PFAS ditemukan di semua 1.629 sampel ASI yang diuji oleh para ilmuwan RIVM, dengan 18 persen mengandung jumlah di atas tingkat aman. Peneliti utama Joke Herremans menyebut hasil tersebut mengejutkan.
PFAS adalah istilah kolektif untuk sekelompok 29 bahan kimia yang digunakan dalam produk seperti sampo, kemasan makanan, kosmetik, dan cat, yang dikenal sebagai 'bahan kimia abadi' karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.
Keberadaannya di lingkungan banyak dikaitkan dengan kanker dan gangguan hormon. Sementara itu, pada pemakaian dalam jumlah yang tinggi dapat merusak sistem kekebalan tubuh bayi dan membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit dan mengurangi efek vaksin.
RIVM menyatakan bahwa dua jenis PFAS, yang dikenal sebagai PFOS dan PFOA, terdapat di hampir setiap sampel dan empat jenis lainnya terdapat di 93 persen sampel, tetapi 21 jenis lainnya hampir tidak tercatat sama sekali.
RIVM juga menyatakan bahwa kadar tersebut lebih rendah daripada yang ditemukan dalam sampel skala kecil enam tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mengurangi penggunaan komersial PFAS telah berhasil. Bahan kimia PFOS telah dilarang sejak tahun 2008, sedangkan PFOA dilarang pada tahun 2020.
“Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Herremans.
Terkait hal tersebut, RIVM menyarankan para ibu baru untuk menyusui bayi mereka jika memungkinkan, terutama karena susu bubuk juga mengandung PFAS dalam jumlah tinggi.
“ASI tidak hanya mengandung nutrisi penting, tetapi juga zat yang melindungi dari penyakit,” kata Herremans seperti dikutip dari laman Dutchnews.
Ia juga menyarankan agar para perempuan tidak menggunakan tes komersial untuk mengukur kadar PFAS dalam ASI mereka. "Tidak ada yang bisa kamu lakukan dengan hasilnya. Hasil tersebut memberi tahu kamu berapa banyak PFAS yang terkandung di dalamnya, tetapi saat ini kami belum menetapkan tingkat di mana kami menyarankan orang untuk berhenti menyusui," imbuhnya.
Haruskah tetap Bunda melanjutkan menyusui?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar PFAS dapat bervariasi tergantung pada waktu pengumpulan ASI selama satu kali menyusui atau sepanjang masa laktasi. Selain itu, hingga saat ini belum ada studi biomonitoring skala besar untuk PFAS dalam ASI untuk menetapkan nilai referensi untuk perbandingan yang mewakili populasi perempuan menyusui khususnya di AS.
Nilai referensi memungkinkan dokter dan ilmuwan untuk menentukan apakah seseorang atau kelompok memiliki paparan yang luar biasa tinggi. Lebih lanjut, tidak ada tingkat PFAS yang ditetapkan untuk ASI yang diperkirakan menimbulkan risiko kesehatan bagi bayi atau ibu.
Hal terpenting, dengan berbagai manfaat kesehatan yang terlindungi, ASI tetap menjadi nutrisi ideal bagi bayi. Dan dalam hampir setiap keadaan, the American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar ibu menyusui terus menyusui bayi mereka meskipun ada potensi adanya kontaminan lingkungan.
Ada beberapa situasi di mana bayi mungkin tidak dapat menyusui. Dalam kasus ini, jika menggunakan susu formula bubuk atau cair pekat, susu tersebut harus dicampur dengan air dari sumber yang aman.
Selain itu, penting bagi semua orang termasuk ibu menyusui dan perempuan usia produktif untuk mengambil langkah-langkah dalam mengurangi atau menghilangkan sumber paparan PFAS, misalnya dari makanan atau kemasan makanan tertentu, air minum yang terkontaminasi dan bahan anti noda dan anti air.
Seiring perkembangannya, ilmu pengetahuan tentang risiko kesehatan akibat paparan PFAS terus berkembang. Namun, berdasarkan pemahaman ilmiah saat ini, manfaat menyusui lebih besar daripada potensi risiko paparan PFAS melalui ASI.
Karenanya, selain perawatan prenatal rutin, ibu menyusui harus terus menerima perawatan pascanatal rutin yang direkomendasikan dan secara rutin berkonsultasi dengan dokter ketika muncul pertanyaan atau kekhawatiran. Selain itu, bayi dan anak-anak juga harus menerima pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi yang direkomendasikan, dan tes skrining kesehatan yang sesuai dengan usia.
Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Bayi Menyusu Lama tapi Berat Tak Naik, Kenapa?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Cara agar ASI Mengandung Lebih Banyak Lemak agar Berat Badan Si Kecil Bertambah
Pecahkan Rekor Dunia, Bunda Ini Jadi Donatur ASI Terbanyak Hampir 1.600 Liter
Viral Bayi Usia Satu Hari Diberi Air Putih, Ini Kata Dokter
Bayi Baru Lahir Bisa Bertahan 3 Hari Tanpa Minum ASI, Mitos atau Fakta?
TERPOPULER
Kaba Anak Zaskia Adya Mecca Jalani Operasi Hidung karena Radang dan Alergi
Jarang Disadari, Ini 10 Ciri Kepribadian Orang Tulus & Baik Hati Menurut Psikologi
Korban Keracunan MBG di Jawa Timur Capai 664 Siswa, Begini Kondisinya Saat Ini...
Seberapa Aman Minyak Jarak untuk Bayi? Ketahui Manfaat hingga Risikonya
Kisah Syahrini Kenang Pengalaman Alami Keguguran Dua Kali, Salah Satunya Kembar
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Tanah Liat Terbaik, Cocok untuk Dapur Rumahan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lulur untuk Kulit Cerah, Halus, dan Glowing
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi AC 1/2 PK Inverter Low Watt, Bagus dan Hemat Listrik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Portable Solar Generator untuk Cadangan Listrik di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Stiker Label Nama Buku Tulis & Pelajaran yang Aesthetic hingga Lucu
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Fakta di Balik Foto Baby Bump Zendaya yang Viral dan Picu Rumor Hamil
Kaba Anak Zaskia Adya Mecca Jalani Operasi Hidung karena Radang dan Alergi
Seberapa Aman Minyak Jarak untuk Bayi? Ketahui Manfaat hingga Risikonya
Korban Keracunan MBG di Jawa Timur Capai 664 Siswa, Begini Kondisinya Saat Ini...
Jarang Disadari, Ini 10 Ciri Kepribadian Orang Tulus & Baik Hati Menurut Psikologi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Parfum Hermes Terre Klasik Ini Versi Lebih Intens, Apa Bedanya dari Formula Aslinya?
-
Beautynesia
5 Barang yang Sebaiknya Tidak Dipinjamkan ke Orang Lain
-
Female Daily
Mencoba Tren Anti-Blush. Apakah Cocok di Kulit Light Medium?
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sinopsis Moonfall di Bioskop Trans TV Hari Ini, Dibintangi Halle Berry
-
Mommies Daily
Jangan Langsung Murka saat Tahu Anak Sering Bohong, Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya