menyusui
Alasan Busui Sebaiknya Tak Pakai Parfum, Benarkah Bisa Bikin ASI Seret?
HaiBunda
Minggu, 26 Apr 2026 08:50 WIB
Daftar Isi
Banyak hal kecil yang ternyata punya pengaruh besar terhadap kenyamanan Si Kecil saat menyusui termasuk penggunaan parfum. Mungkin Bunda pernah dengar bahwa parfum bisa mengurangi produksi ASI. Tapi, benarkah demikian? Yuk, kita bahas Bunda.
Parfum dan produksi ASI, apa hubungannya?
Produksi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin, yang sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan efektif bayi menyusu. Selama proses menyusui berjalan lancar, penggunaan parfum sebenarnya tidak akan berdampak langsung pada jumlah ASI. Namun, ada hal penting yang sering luput disadari, yaitu pengaruh aroma terhadap perilaku bayi saat menyusu.
Menurut American Academy of Pediatrics, bayi mengandalkan indera penciuman untuk mengenali ibunya dan menemukan sumber ASI. Aroma alami kulit ibu menjadi “petunjuk” penting bagi bayi untuk merasa nyaman dan aman saat menyusu.
Ketika Bunda menggunakan parfum dengan aroma yang cukup kuat, bau alami tersebut bisa tertutupi. Akibatnya, bayi mungkin:
- Bingung saat mencari puting
- Menjadi kurang nyaman
- Menyusu lebih singkat atau bahkan menolak menyusu
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, frekuensi menyusui bisa menurun. Padahal, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, semakin sering bayi menyusu, semakin banyak ASI yang diproduksi.
Jadi, hubungan antara parfum dan produksi ASI sebenarnya bersifat tidak langsung. Parfum tidak menghentikan produksi ASI, tetapi bisa memengaruhi kenyamanan bayi, yang pada akhirnya berdampak pada pola menyusui.
Bayi mengenali Bunda dari aroma alami tubuh
Tahukah Bunda bahwa sejak hari-hari pertama kehidupan, bayi sudah bisa mengenali ibunya hanya dari aroma alami tubuh?
Indra penciuman bayi berkembang sangat baik sejak lahir. Bahkan, tanpa perlu melihat dengan jelas, bayi bisa 'menemukan' Bundanya melalui bau khas kulit dan ASI. Aroma ini menjadi sinyal penting yang membuat bayi merasa aman dan nyaman.
Menurut American Academy of Pediatrics, bayi mampu mengenali aroma ibunya dalam waktu singkat setelah lahir. Aroma alami tersebut membantu bayi:
- Menemukan puting dengan lebih mudah saat menyusu
- Merasa tenang saat berada di dekat ibu
- Membangun kedekatan emosional (bonding)
Tak hanya itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia juga menyebutkan bahwa kombinasi antara kontak kulit langsung dan aroma alami ibu dapat meningkatkan keberhasilan menyusui, terutama pada masa awal kehidupan bayi.
Ketika aroma alami ini tertutupi oleh parfum yang terlalu kuat, bayi bisa menjadi bingung atau kurang nyaman. Hal ini bisa membuat proses menyusui tidak berjalan optimal. Karena itu, penting bagi Bunda untuk menjaga aroma alami tubuh, terutama saat menyusui. Sebab bagi si kecil, aroma Bunda adalah sumber rasa aman, kenyamanan, dan cinta pertama yang ia kenal
Dampaknya aroma parfum pada produksi ASI
Nah, di sinilah kaitannya mulai terlihat. Meskipun parfum tidak secara langsung memengaruhi produksi ASI, dampaknya tetap bisa terasa secara tidak langsung.
Produksi ASI sangat bergantung pada prinsip sederhana: semakin sering bayi menyusu, semakin banyak ASI yang diproduksi. Hal ini karena setiap hisapan bayi akan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin untuk terus memproduksi dan mengalirkan ASI.
Namun, jika bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena aroma parfum yang terlalu kuat, ia bisa menyusu lebih singkat, menjadi rewel saat menyusu dan bahkan menolak menyusu
Ketika frekuensi menyusu berkurang, otomatis rangsangan pada payudara juga menurun. Akibatnya, tubuh Bunda 'membaca' bahwa kebutuhan ASI tidak terlalu banyak, sehingga produksi ASI bisa ikut berkurang.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, frekuensi dan efektivitas menyusui merupakan faktor utama dalam menjaga produksi ASI tetap optimal. Jadi, penting untuk memastikan bayi merasa nyaman saat menyusu, termasuk dari segi aroma. Karena hal kecil seperti ini bisa berdampak besar pada kelancaran ASI. Intinya, bukan parfum yang langsung mengurangi ASI, tetapi pengaruhnya terhadap pola menyusui bayi yang perlu Bunda perhatikan
Kandungan parfum yang perlu diwaspadai
Bunda, selain aroma yang bisa memengaruhi kenyamanan bayi, penting juga untuk memperhatikan kandungan di dalam parfum yang digunakan. Beberapa bahan dalam parfum berpotensi kurang ramah untuk bayi, apalagi jika digunakan terlalu dekat dengan area menyusui.
1. Alkohol dengan kadar tinggi
Sebagian besar parfum mengandung alkohol sebagai pelarut. Kandungan ini memang membantu aroma lebih tahan lama, tetapi parfum mengandung volatile organic compounds (VOCs), zat kimia yang mudah menguap dan terhirup.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Air Quality, Atmosphere & Health menemukan bahwa produk beraroma (termasuk parfum) dapat melepaskan lebih dari 150 jenis VOCs. Selain itu, beberapa di antaranya termasuk zat yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan pada bayi dengan sistem pernapasan masih berkembang. Karena, paparan zat ini bisa memicu iritasi atau ketidaknyamanan.
2. Phthalates (zat kimia sintetis)
Phthalates sering digunakan untuk mempertahankan aroma parfum agar lebih awet. Penelitian dalam jurnal Jornal de Pediatria menunjukkan bahwa banyak produk anak mengandung fragrance dengan phthalates dan bahan sintetis lain. Zat ini dikaitkan dengan potensi efek seperti gangguan hormon dan alergi. Paparan berlebih dikhawatirkan dapat mengganggu sistem hormon dan memberikan efek jangka panjang jika terpapar terus-menerus.
Meski dampaknya pada bayi masih terus diteliti, banyak ahli menyarankan untuk meminimalkan paparan bahan ini, terutama pada bayi baru lahir.
3. Fragrance atau pewangi sintetis
Label 'fragrance' pada kemasan parfum sering kali merupakan campuran berbagai bahan kimia. Pada bayi, hal ini bisa:
- Memicu reaksi alergi
- Menyebabkan iritasi pada kulit sensitif
- Mengganggu kenyamanan saat menyusu
Kulit bayi masih sangat sensitif dan lebih mudah menyerap zat dari lingkungan sekitar. Selain itu, bayi juga lebih rentan terhadap paparan zat kimia melalui udara yang dihirup. Karena itu, penggunaan parfum, terutama di area dada perlu dibatasi agar tidak mengenai kulit bayi atau terhirup saat menyusu.
Sebab menyusui bukan hanya soal nutrisi, tapi juga tentang kedekatan antara ibu dan bayi. Aroma alami tubuh ibu berperan penting dalam menciptakan rasa aman bagi bayi. Jika tertutup oleh parfum yang terlalu kuat, proses bonding bisa menjadi kurang optimal. Padahal, bonding yang baik akan membuat bayi lebih tenang dan menyusu lebih efektif.
Tips aman pakai parfum untuk busui
Bunda tetap boleh kok menggunakan parfum saat menyusui. Kuncinya adalah menggunakannya dengan bijak agar tidak mengganggu kenyamanan dan kesehatan Si Kecil. Berikut beberapa tips aman yang bisa Bunda terapkan antara lain:
1. Pilih aroma yang ringan dan lembut
Hindari parfum dengan aroma terlalu menyengat. Pilih wangi yang soft, segar, atau natural agar tidak 'menutupi' aroma alami tubuh Bunda yang penting bagi bayi.
2. Jangan semprot di area dada
Ini yang paling penting. Hindari penggunaan parfum di area:
- Dada
- Leher bagian depan
- Sekitar payudara
Bunda bisa menyemprotkan parfum di:
- Pergelangan tangan
- Belakang telinga
- Pakaian bagian luar
Dengan begitu, aroma tetap tercium tanpa langsung terpapar ke bayi.
3. Gunakan secukupnya saja
Tidak perlu berlebihan. Cukup 1–2 semprotan agar aromanya tidak terlalu kuat dan tetap nyaman bagi bayi.
4. Pilih produk yang lebih aman
Jika memungkinkan, pilih parfum dengan label:
- Hypoallergenic
- Bebas phthalates
- Rendah alkohol
Langkah ini membantu meminimalkan risiko iritasi atau paparan bahan kimia pada bayi.
5. Perhatikan reaksi bayi
Setiap bayi berbeda. Jika setelah Bunda memakai parfum bayi menjadi:
- Rewel saat menyusu
- Menolak menyusu
- Tampak tidak nyaman
Sebaiknya hentikan penggunaan sementara dan lihat apakah kondisinya membaik. Demikian informasinya, semoga membantu ya Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Menyusui
Pola Diet Ibu Menyusui agar Produksi ASI Lancar
Menyusui
5 Cara agar Produksi ASI Banyak dan Berkualitas dari Makanan hingga Cara Pijat
Menyusui
9 Cara Memperbanyak Produksi ASI yang Sudah Sedikit secara Alami dan Efektif
Menyusui
Kandungan ASI Penting yang Dibutuhkan Bayi, Bunda Perlu Tahu
Menyusui
Benarkah Puting Harus Selalu Dicuci Sebelum Menyusui?
7 Foto
Menyusui
7 Potret Terbaru Aurel Hermansyah, Sukses Turunkan BB hingga 15 Kg saat Menyusui Anak Kedua
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kenapa Payudara Gatal? Kenali Penyebab, Cara Mengatasi, dan Waspada Tanda Berbahaya Ini
7 Cara Membersihkan Puting Payudara untuk Ibu sejak Hamil hingga Menyusui
Alasan Kourtney Kardashian Tak Gunakan Deodoran saat Menyusui, Benarkah Berbahaya?