menyusui
Studi Temukan Waktu Terbaik untuk IMD dan Skin to Skin Pasca Operasi Caesar
HaiBunda
Kamis, 08 Oct 2026 08:55 WIB
Daftar Isi
- Waktu terbaik untuk IMD dan skin to skin pasca operasi caesar
- Menilik sejarah pemisahan orang tua dan bayi setelah kelahiran
- Kapan perubahan mulai terjadi?
- Pentingnya IMD dan kontak skin to skin setelah persalinan
- Praktik kontak skin to skinÂ
- Kapan waktu terbaik kontak skin to skin pada bayi baru lahir?
Mempraktikkan perawatan kontak seperti IMD dan skin to skin merupakan proses alami yang melibatkan bayi baru lahir dalam keadaan telanjang dada dan diletakkan di atas dada Bundanya yang juga terbuka bagian dadanya.
Idealnya, perawatan ini dapat dimulai sesegera mungkin atau tak lama setelah kelahiran, dengan bayi tetap berada di atas dada ibunya setidaknya hingga sesi menyusui pertama usai.
Waktu terbaik untuk IMD dan skin to skin pasca operasi caesar
Terkait perawatan IMD dan juga kontak skin to skin sendiri sebenarnya dapat dimulai pada waktu yang berbeda-beda. Dalam penelitian, terdapat tiga jenis utama perawatan IMD dan kontak skin to skin dini untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan, di antaranya sebagai berikut:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Kontak skin to skin saat lahir atau segera setelah lahir dimulai pada menit pertama pascakelahiran
2. Kontak skin to skin yang sangat dini dimulai dalam waktu 30–40 menit setelah kelahiran
3. Kontak skin to skin dini mencakup waktu kontak kulit-ke-kulit apa pun yang terjadi dalam 24 jam pertama
Sebagaimana diketahui bahwa kontak skin to skin memiliki banyak manfaat termasuk bagi para perempuan dan bayinya setelah menjalani operasi caesar. Sayangnya, orang tua yang sedang dalam masa pemulihan pasca-caesar seringnya tidak dapat melakukan kontak skin to skin jika mereka terpisah dari bayinya. Untuk mewujudkan hal tersebut, orang tua dan bayi baru lahir harus berada bersama.
Menilik sejarah pemisahan orang tua dan bayi setelah kelahiran
Pemisahan antara orang tua dan bayi baru lahir merupakan fenomena yang khas pada abad ke-20 dan ke-21, serta merupakan bagian dari sejarah alami manusia. Di masa lampau, kelangsungan hidup bayi bergantung pada kontak yang erat dan hampir tanpa jeda antara bayi dan orang tua yang melahirkannya.
Praktik memisahkan orang tua dan bayi baru lahir secara rutin bermula pada awal tahun 1900-an, ketika proses kelahiran mulai beralih dari rumah ke rumah sakit. Pada masa itu, sebagian besar orang yang melahirkan menerima anestesi umum (obat-obatan yang menyebabkan hilangnya kesadaran) selama fase mengejan.
Hal tersebut membuat orang tua yang melahirkan dan bayi mereka tidak dapat berinteraksi setelah kelahiran. Mengingat sang ibu tidak dapat merawat bayinya, rumah sakit kemudian menyediakan ruang perawatan bayi khusus untuk merawat bayi baru lahir, dan bayi biasanya dipisahkan dari orang tua mereka selama 24 hingga 48 jam setelah lahir.
Kapan perubahan mulai terjadi?
Pada tahun 1961, Dr. Berry Brazelton menerbitkan sebuah studi klasik yang menunjukkan bahwa anestesi umum selama persalinan berdampak buruk bagi bayi baru lahir. Akibatnya, para dokter mulai beralih dari penggunaan anestesi umum saat melahirkan, yang membuat orang tua dan bayi tetap terjaga serta mampu berinteraksi segera setelah kelahiran.
Saat ini, sebagian besar orang yang menjalani operasi caesar menerima anestesi regional (epidural, spinal, atau kombinasi spinal-epidural) daripada anestesi umum, sehingga mereka pun biasanya tetap sadar setelah melahirkan.
Menariknya, para peneliti menemui adanya temuan menarik terkait praktik tersebut. Ketika para peneliti mempelajari interaksi antara orang tua dan bayi baru lahir pada 1900-an dan awal 2000-an, aktivitas menjaga orang tua dan bayi tetap bersama dianggap sebagai intervensi yang bersifat eksperimental.
Sebaliknya, saat peneliti mempelajari mamalia non-manusia, menjaga ibu dan bayi tetap bersama justru merupakan kondisi normal, sedangkan memisahkan bayi baru lahir dari induknya dianggap sebagai tindakan eksperimental.
Pentingnya IMD dan kontak skin to skin setelah persalinan
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) serta kontak skin to skin memang sangat direkomendasikan untuk dipraktikkan dalam waktu satu jam setelah kelahiran, seperti disarankan WHO dan UNICEF.
Setelah IMD, rutinitas pemberian ASI eksklusif tersebut direkomendasikan untuk diberikan selama enam bulan pertama kehidupan, dengan dimulai dalam waktu satu jam setelah kelahiran bayi tersebut. Kemudian, pemberian ASI secara eksklusif yang diberikan sebaiknay tanpa disertai makanan lainnya selama enam bulan pertama guna mendukung perkembangan sensorik dan kognitif, serta melindungi bayi dari penyakit menular maupun kronis.
Terkait manfaat IMD segera setelah bayi lahir diantaranya dapat membantu mengatur suhu tubuh bayi baru lahir dan memaparkan mereka pada bakteri baik dari kulit ibunya. akteri baik ini melindungi bayi dari penyakit menular dan membantu membangun sistem kekebalan tubuh mereka.
Kemudian, sesi kontak skin to skin segera setelah lahir hingga sesi menyusui pertama juga memiliki banyak manfaat lain. Praktik ini terbukti meningkatkan peluang bayi mendapatkan ASI, memperpanjang durasi menyusui, serta meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif seperti dikutip dari laman Unicef.
Praktik kontak skin to skinÂ
Kangaroo Mother Care atau kontak skin to skin dengan bayi baru lahir merupakan praktik menempatkan bayi yang kondisi medisnya masih rentan dalam posisi skin to skin dengan orang tuanya.
Metode ini dikembangkan pada akhir 1970-an oleh dokter anak dan neonatolog asal Kolombia, Edgar Rey Sanabria dan Hector Martinez Gomez. Pada saat itu, terdapat kebutuhan mendesak terkait solusi berbiaya rendah untuk merawat bayi prematur dengan berat badan lahir rendah.
Terinspirasi oleh kanguru, yang menjaga anaknya di dalam kantong untuk waktu yang lama setelah lahir, para dokter tersebut mengembangkan metode perawatan Kanguru untuk mendukung bayi dengan berat badan lahir rendah tanpa memerlukan inkubator atau rawat inap di rumah sakit.
Gagasannya sangatlah sederhana yakni bahwa kontak skin to skin yang berkelanjutan dengan orang tua akan membantu bayi yang kondisinya rentan untuk mengatur suhu tubuh mereka sendiri sampai mereka mampu melakukannya secara mandiri.
Para dokter melaporkan keberhasilan yang signifikan dengan metode perawatan Kanguru. atau menunjukkan bahwa perawatan Kanguru menurunkan angka kematian bayi baru lahir, meningkatkan tingkat pemberian ASI, dan mencegah infeksi.
Para peneliti dari luar Kolombia mengetahui program ini dan mulai menerapkan perawatan Kanguru, baik di lingkungan dengan sumber daya terbatas maupun yang memiliki sumber daya memadai.
Pada akhir tahun 1990-an, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mempromosikan perawatan Kanguru sebagai bagian dari strateginya untuk menurunkan angka kematian dan penyakit serius pada bayi. Saat ini, perawatan Kanguru digunakan di seluruh dunia, dan para peneliti terus mengkaji berbagai cara untuk memanfaatkan metode perawatan Kanguru tersebut.
Kapan waktu terbaik kontak skin to skin pada bayi baru lahir?
Mengutip dari laman Nature, sebuah penelitian dilakukan guna membandingkan efek inisiasi kontak skin to skin pada tiga waktu berbeda terhadap tingkat pemberian ASI eksklusif pada usia 6 minggu pada bayi cukup bulan yang sehat dan lahir melalui operasi caesar.
Dalam uji coba terkontrol acak berlabel terbuka, bayi baru lahir dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan kontak skin to skin di ruang persalinan, kelompok kedua melakukan kontak skin to skin setela dipindahkan ke ruang pemulihan, dan kelompok ketiga melakukan inisiasi menyusui diikuti dengan kontak skin to skin di ruang pemulihan.
Hasilnya didapatkan bahwa karakteristik awal serupa di antara 750 bayi yang diikutsertakan (250 bayi per kelompok). Pada kelompok 1, sebanyak 46 bayi atau 18.4 persen menghadapi tantangan dalam inisiasi kontak skin to skin dan dialihkan ke kelompok lain. Dan, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam tingkat pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6 minggu.
Mengingat adanya tantangan dalam pelaksanaan kontak skin to skin segera saat operasi (intraoperatif) pada persalinan sesar, studi kami menemukan bahwa memulai kontak skin to skin di ruang pemulihan merupakan alternatif yang praktis dan efektif, dengan dampak yang serupa terhadap tingkat pemberian ASI.Â
Meskipun waktu pelaksanaan kontak skin to skin tidak berdampak signifikan terhadap tingkat pemberian ASI eksklusif pada usia 6 minggu atau 6 bulan, hal tersebut tetap menjadi faktor krusial. Temuan menunjukkan bahwa kontak skin to skin segera secara signifikan mengoptimalkan tingkat inisiasi menyusui dini. Selain itu, tingkat pemberian ASI eksklusif yang tinggi dan bertahan pada semua kelompok menunjukkan bahwa dukungan institusional yang kuat merupakan faktor pendorong utama keberhasilan pemberian ASI jangka panjang.Â
Dengan manfaatnya yang luar biasa, jangan lewatkan sesi IMD dan kontak skin to skin apa pun jalan persalinan yang Bunda lewati, termasuk dengan persalinan caesar sekalipun. Tetap semangat mengASIhi dan semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Menyusui
Studi Ungkap Inisiasi Menyusu Dini Cegah Risiko Kematian Bayi Baru Lahir
Menyusui
Kenali Pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) untuk Kesehatan Bayi & Bunda
Menyusui
10 Teknik IMD yang Benar Usai Melahirkan, Ikuti yuk Bunda
Menyusui
Berencana Melahirkan di Rumah Sakit? Pastikan 5 Hal Ini agar IMD Sukses
Menyusui
Ingin Melakukan IMD Usai Melahirkan? Catat Faktor Pendukung Keberhasilannya
5 Foto
Menyusui
5 Potret Indah Permatasari saat Menyusui, Curhat Ingin Berteman dengan Sang Anak Kelak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Demi Lancar IMD, Annisa Pohan juga Didampingi Konselor Laktasi saat Persalinan Kedua
Dokter Gambarkan Bagaimana Kolostrum 'Membangun' Imunitas di Tubuh Bayi
Shenina Cinnamon Ungkap 4 Jam IMD dengan Bayi Jadi Momen Tak Terlupakan dalam Hidup