HaiBunda

MENYUSUI

Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah & Sakit yang Jarang Dibahas

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 06 Oct 2026 08:55 WIB
Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah & Sakit yang Jarang Dibahas/Foto: Getty Images/iStockphoto/Avril Morgan
Jakarta -

Kisah menyusui setiap ibu berbeda-beda. Ada yang merasa prosesnya berjalan lancar sejak awal, tetapi ada juga yang harus melewati rasa sakit, kebingungan, hingga rasa bersalah. Pengalaman inilah yang dibagikan aktris India, Divyanka Tripathi, setelah melahirkan bayi kembar.

Divyanka Tripathi dan suaminya, Vivek Dahiya, menyambut kelahiran bayi kembar laki-laki mereka pada Mei 2026. Dua bulan setelah menjadi ibu, Divyanka membagikan cerita mengenai perjalanan menyusuinya melalui vlog YouTube.

Divyanka mengakui bahwa menyusui ternyata tidak sesederhana yang selama ini ia bayangkan. Ia justru merasa masih terus belajar memahami tubuhnya dan kebutuhan kedua bayinya.


Curhat tersebut juga menyoroti satu hal yang mungkin dirasakan banyak ibu baru, tetapi tidak selalu dibicarakan secara terbuka, yaitu rasa sakit dan rasa bersalah selama menyusui.

Kisah menyusui Divyanka Tripathi dengan bayi kembarnya

Dalam vlog yang dibagikan sekitar dua bulan setelah kelahiran anak-anaknya, Divyanka mempertanyakan mengapa pembahasan mengenai menyusui sering kali hanya berfokus pada manfaat ASI untuk bayi. Ia merasa pembahasan tentang persiapan untuk ibu menyusui masih kurang.

"Mengapa tidak ada yang membahas soal menyusui secara terbuka?" ujarnya, seperti diberitakan The Economic Times.

Divyanka mengatakan, banyak orang membicarakan bagaimana ASI memberikan manfaat untuk bayi. Namun menurutnya, pengalaman fisik dan emosional yang dialami ibu juga layak mendapatkan perhatian.

Bahkan, ia mengaku orang-orang terdekatnya seperti ibu, saudara perempuan, dan teman-temannya tidak banyak menceritakan bagaimana sebenarnya pengalaman menyusui. Ini membuatnya merasa tidak sepenuhnya siap menghadapi perubahan yang terjadi setelah melahirkan.

ASI bisa merembes saat bayi menangis

Divyanka membagikan salah satu pengalaman yang berkaitan dengan produksi ASI. Ia mengatakan ASI dapat mulai merembes ketika sudah waktunya menyusui, bahkan ketika mendengar bayinya menangis.

Untuk ibu yang baru pertama kali mengalaminya, kondisi tersebut tentu bisa terasa mengejutkan. Divyanka bahkan mengaku situasi itu terkadang membuatnya merasa malu. Padahal, keluarnya ASI secara spontan dapat terjadi pada ibu menyusui. Tubuh memang dapat mengalami refleks pengeluaran ASI sebagai respons terhadap rangsangan tertentu.

Jadi, ibu tidak perlu merasa bahwa tubuhnya melakukan sesuatu yang "aneh" ketika ASI merembes.

Rutinitas Divyanka semakin padat dengan kehadiran bayi kembarnya. Ia bercerita bahwa ada kalanya sesi menyusui tertunda karena banyak tamu datang untuk melihat bayi-bayinya.

Ketika waktu menyusui terlewat, ia merasakan payudara menjadi sangat tidak nyaman dan sakit. Kondisi payudara yang terasa penuh dan nyeri memang dapat terjadi ketika bayi tidak menyusu selama beberapa waktu. 

NHS menjelaskan bahwa pembengkakan payudara atau breast engorgement dapat membuat payudara terasa keras, kencang, dan sakit.

Penundaan menyusui juga dapat berhubungan dengan penumpukan ASI. NHS menyebut saluran ASI yang tersumbat dapat terjadi ketika ASI tidak dikeluarkan dengan baik, termasuk ketika jadwal menyusui terlewat atau tertunda.

Namun, ini bukan berarti setiap ibu yang telat menyusui pasti akan mengalami sumbatan atau mastitis. Kondisinya bisa berbeda pada setiap orang.

Divyanka sebut ada rasa sakit dan bersalah saat menyusui

Hal lain yang menjadi perhatian Divyanka adalah sisi emosional dalam perjalanan menyusui. Ia mengatakan ada rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang menurutnya jarang dibicarakan.

Padahal, menjadi ibu baru bukan hanya soal memastikan bayi mendapatkan ASI. Ibu juga sedang beradaptasi dengan perubahan tubuh, kurang tidur, rutinitas baru, dan berbagai tuntutan setelah melahirkan.

Apalagi dengan ibu yang memiliki bayi kembar, kebutuhan menyusui dapat datang lebih sering dan membutuhkan pengaturan waktu yang berbeda.

Karena itu, pengalaman Divyanka mengingatkan bahwa kesulitan menyusui tidak selalu berarti seorang ibu kurang berusaha.

Menyusui bukan ujian, ibu dan bayi sama-sama belajar

Dalam curhatnya, Divyanka juga menyampaikan pesan kepada ibu baru bahwa menyusui bukanlah sebuah ujian. Menurutnya, kemampuan bayi untuk melakukan latch atau melekat pada payudara bukanlah bakat yang otomatis dimiliki sejak lahir. Ibu dan bayi sama-sama perlu belajar.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan NHS bahwa latching on merupakan keterampilan yang perlu dipelajari ibu dan bayi bersama-sama. Posisi serta perlekatan yang baik juga membantu mencegah puting menjadi sakit atau lecet.

Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) juga menjelaskan bahwa posisi dan perlekatan yang kurang optimal dapat menyebabkan shallow latch sehingga puting mengalami tekanan dan akhirnya menimbulkan nyeri.

Jadi, ketika proses menyusui belum langsung terasa nyaman, bukan berarti ibu atau bayi gagal.

Nyeri saat menyusui tidak selalu harus ditahan

Ibu menyusui umum merasa tidak nyaman pada awal menyusui. Tetapi nyeri yang menetap sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus ditahan begitu saja.

NHS menyebut nyeri puting sering kali berkaitan dengan posisi atau perlekatan bayi yang kurang tepat. Jika puting terus terasa sakit setiap kali menyusui, mulai lecet atau berdarah, ibu dianjurkan mencari bantuan dari bidan, tenaga kesehatan, atau konselor menyusui.

Penelitian terbaru juga mendukung pentingnya penanganan yang tepat. Sebuah meta-analisis yang mencakup 18 penelitian menemukan bahwa intervensi khusus untuk masalah nyeri dan cedera puting lebih efektif dibandingkan intervensi yang tidak spesifik dalam menurunkan nyeri serta cedera puting terkait menyusui.

Artinya, ibu tidak harus terus menahan sakit sambil berharap semuanya akan membaik sendiri.

WHO tekankan ibu menyusui membutuhkan dukungan

WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping hingga usia dua tahun atau lebih sesuai keinginan ibu dan anak.

Namun, rekomendasi tersebut bukan berarti perjalanan setiap ibu akan sama.

WHO juga menekankan pentingnya dukungan bagi ibu menyusui. Di Indonesia, WHO dan UNICEF sebelumnya menyoroti perlunya memperkuat dukungan menyusui, termasuk akses terhadap konseling menyusui yang berkualitas serta dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan lingkungan kerja.

Dengan dukungan yang tepat, ibu dapat memperoleh bantuan ketika mengalami kesulitan dalam posisi menyusui, perlekatan, produksi ASI, maupun masalah lain yang muncul setelah melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Bunda Merasa Kesal Saat Menyusui? Kenali Nursing Aversion

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Surat Cinta Gewa untuk Sang Bunda, Haru Bikin Mutia Ayu Tak Kuat Tahan Air Mata

Parenting Amira Salsabila

Ketahui 7 Jenis Sayuran untuk MPASI Pertama Bayi dan Manfaatnya

Parenting Kinan

Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah & Sakit yang Jarang Dibahas

Menyusui Melly Febrida

7 Zodiak Paling Gampang Baper, Hal Kecil Saja Bisa Kepikiran

Mom's Life Elia Amaliana

Terpopuler: Potret Olivia Jensen dan Suami yang Jarang Tersorot

Mom's Life Pritadanes

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

150 Nama Bayi Bermakna Jiwa Bebas untuk Anak Perempuan & Laki-Laki Beserta Artinya

Surat Cinta Gewa untuk Sang Bunda, Haru Bikin Mutia Ayu Tak Kuat Tahan Air Mata

Ketahui 7 Jenis Sayuran untuk MPASI Pertama Bayi dan Manfaatnya

Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah & Sakit yang Jarang Dibahas

Spider-Man 5 Dapat Bocoran Terbaru, Destin Daniel Cretton Dikabarkan Kembali Menyutradarai

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK