sign up SIGN UP search


menyusui

Curhat Bunda Pertama Kali Menyusui Anak Adopsi dengan Induksi Laktasi: Rasanya Priceless

Siti Masitoh   |   Haibunda Rabu, 23 Nov 2022 07:10 WIB
suplemen herbal ibu menyusui Curhat Bunda Pertama Kali Menyusui dengan Induksi Laktasi: Rasanya Priceless/Curhat Bunda Pertama Kali Menyusui dengan Induksi Laktasi: Rasanya Priceless/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Jakarta -

Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan ya Bunda. Jika terselip kesedihan perihal apa yang dialami itu wajar dan hak setiap individu untuk mengekspresikannya. Tapi, tetap bersyukur, pantang menyerah, dan putus asa ya Bunda.

Seperti kisah inspiratif dari salah satu Bunda bernama Ade Fariyani yang terus berjuang, tidak putus asa untuk menjadi seorang ibu dengan kekurangan yang dimiliki. Bunda Ade yang terlahir dengan sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser (MRKH).

MRKH merupakan kondisi bawaan dengan seseorang terlahir dengan rahim atau vagina yang kurang berkembang atau hilang. Meski begitu, Bunda Ade memiliki semangat yang kuat untuk menjadi seorang ibu karena, menurutnya, semua perempuan berhak merasakan nikmatnya menjadi ibu.


Awal mula diagnosis MRKH

Kala itu Bunda Ade berusia 17 tahun dan berada di bangku tiga SMA. Di usia tersebut, mungkin kebanyakan perempuan sudah mengalami menstruasi, tapi berbeda dengannya. Ia yang belum pernah mengalami menstruasi, memutuskan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaannya.

Saat itu dokter mengatakan bahwa kondisinya normal dan rahim pun ada. Kemudian, dokter memberinya semacam obat hormon untuk merangsang terjadinya menstruasi. Tapi, setelah tujuh hari dikonsumsi, menstruasi tidak kunjung terjadi.

Dokter pun sempat mengatakan, jika setelah tujuh hari mengonsumsi obat tersebut tapi menstruasi tidak juga keluar, silakan datang untuk berkonsultasi lagi. Namun karena harga obat yang tidak murah, Bunda Ade akhirnya tidak melanjutkan perawatannya.

“Karena waktu itu masih SMA terus ini juga lumayan kan obat-obat cyclo itu agak mahal ya, isi tujuh bijinya waktu tahun berapa itu kan SMA, 300 ribu. Jadi, karena mahal jadi aku gak ke sana lagi gitu kan,” ujar Bunda Ade, dalam obrolan bersama HaiBunda beberapa waktu lalu.

Setelah itu, waktu berjalan hingga Bunda Ade berusia 22 tahun, tepatnya saat itu di tahun 2011 ia pergi untuk memeriksa keadaannya lagi untuk keperluan taaruf dengan seorang pria yang sekarang menjadi suaminya.

Saat diperiksa, Bunda Ade mendapat jawaban yang belum pasti mengenai keadaannya karena dokter pun masih ragu dengan hasilnya. “Di USG tapi dokternya masih ragu-ragu waktu itu, apa namanya katanya rahimnya gak tau nampak ada atau misalnya kecil atau gimana,” ujarnya.

Kemudian, ia dirujuk untuk melakukan USG besar bersama dokter radiologi dan terlihat bahwa rahimnya tidak terbentuk. Sampai akhirnya, ibu dari Bunda Ade menyarankan untuk tidak usah lagi periksa ke dokter dan tidak perlu memberitahu calon suaminya tentang kondisi tersebut.

Namun, Bunda Ade merasa karena ini adalah taaruf dan harus saling terbuka satu sama lain, ia pun menceritakan semuanya. Namun, ternyata calon suami menerima Bunda Ade apa adanya. Setelah menikah, ia dan suami kembali memeriksakan keadaannya dengan mengunjungi dokter lain karena mungkin ada opini yang berbeda.

Ia pun melakukan USG transvaginal di sana. “Aku periksa waktu itu di transvaginal ternyata si USG nya itu cuman masuk sebagian saja di vagina gitu, tidak sampe ke rahim. Ternyata baru ketahuan aku tuh hanya punya sepertiga rahim,” tambahnya.

Memutuskan untuk mengadopsi anak

Kemudian singkatnya, ia berkonsultasi dengan dokter dan mendapat beberapa solusi terkait hal tersebut. Dari beberapa solusi, ia memutuskan untuk mengadopsi anak. Keputusan untuk mengadopsi anak tidak langsung tersimpulkan begitu saja.

Sang suami sebenarnya tidak mempermasalahkan jika hingga tua nanti mereka hidup hanya berdua, tapi setiap Bunda tentu memiliki naluri keibuan yang mungkin tidak bisa dipungkiri dan rindu dengan kehadiran buah hati.

Perjalanan pasangan ini dalam mengadopsi anak pun tidak mudah, mereka harus beberapa kali mendapat hambatan. Misalnya, belum terpenuhi kriteria dari persyaratan untuk menjadi orang tua asuh ataupun dalam mengadopsi anak. Hingga akhirnya mereka mencari keluarga yang memang mau mengadopsikan bayinya kepada mereka.

Klik halaman berikutnya yuk Bunda untuk tau lebih lanjut tentang induksi laktasi.

Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.

Saksikan juga yuk video tentang mengenal metode induksi laktasi, menyusui tanpa kehamilan.

[Gambas:Video Haibunda]



MENGENAL PROSEDUR INDUKSI LAKTASI
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
Share yuk, Bun!
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bundapedia
Ensiklopedia A-Z istilah kesehatan terkait Bunda dan Si Kecil
Artikel Terkait
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
ARTIKEL TERBARU
  • Video
detiknetwork

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!