Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kisah Bunda yang Donasikan 57 Liter ASI untuk Bayi yang Membutuhkan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Selasa, 27 Oct 2026 08:55 WIB

ASI perah
Kisah Bunda yang Donasikan 57 Liter ASI untuk Bayi yang Membutuhkan/Foto: Getty Images/sommart
Daftar Isi
Jakarta -

Seorang Bunda asal Inggris membagikan kisah menyentuh tentang pengalamannya mendonasikan ASI untuk membantu bayi-bayi yang membutuhkan. Emma berhasil mengumpulkan sekitar 100 pint atau setara 57 liter ASI untuk disalurkan melalui bank ASI di Birmingham, Inggris.

Keputusan Emma untuk mendonasikan ASI tidak terlepas dari pengalaman yang dilaluinya bersama sang putra, Bert. Bayi laki-laki tersebut lahir pada November 2025 di Princess Royal Hospital, Telford, dengan sindrom Down dan atresia esofagus, sebuah kelainan bawaan yang membuat kerongkongan tidak tersambung secara normal ke lambung.

Kisah Emma ini diberitakan BBC News dalam laporan berjudul Mum's 100 pints for Human Milk Bank in Birmingham as Donors Sought.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Perjuangan Emma merawat bayi dengan kondisi medis khusus

Kelahiran Bert menjadi awal perjalanan yang tidak mudah bagi Emma dan keluarganya. Selain memiliki down syndrome, Bert juga mengalami atresia esofagus yang dapat membuat bayi kesulitan menerima makanan melalui jalur normal.

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan medis khusus. Bagi keluarga, situasi ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri dalam mendampingi tumbuh kembang Si Kecil.

Di tengah pengalaman tersebut, pemberian ASI menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan sesuai kondisi dan kebutuhan medis Bert. Perjalanan ini juga menjadi bagian dari pengalaman Emma sebagai seorang ibu yang berusaha memberikan dukungan terbaik bagi putranya.

Donasikan 57 liter ASI untuk membantu bayi lain

Di luar perjuangannya merawat Bert, Emma juga melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga lain. Ia mendonasikan sekitar 100 pint atau setara 57 liter ASI kepada bank ASI di Birmingham.

"Saya duduk di sana sambil berpikir bahwa saya akan memiliki banyak sekali ASI untuk dibagikan. Saya melihat banyak ibu yang benar-benar kesulitan memerah ASI mereka. Jadi, saya memutuskan untuk mendonasikan ASI saya bagi bayi-bayi lain di unit perawatan neonatal," ujar Emma dikutip dari BBC.

Donasi tersebut dapat membantu menyediakan ASI donor bagi bayi yang membutuhkan, termasuk bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI ibu kandung dalam jumlah cukup.

Keberadaan bank ASI menjadi penting karena tidak semua ibu dapat menghasilkan ASI sesuai kebutuhan bayinya. Dalam situasi tertentu, ASI donor yang telah melalui proses pemeriksaan dan pasteurisasi dapat menjadi pilihan, terutama bagi bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis berisiko tinggi.

Melalui donasinya, Emma turut berkontribusi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi-bayi tersebut.

"Sungguh luar biasa," tuturnya.

"Mengetahui bahwa saya dapat membantu ibu lain, para orang tua, dan bayi-bayi mungil yang berada dalam situasi serupa dengan kami merupakan sebuah kehormatan yang nyata," sambungnya.

Bank ASI membutuhkan lebih banyak pendonor

BBC News juga menyoroti kebutuhan akan lebih banyak pendonor untuk Human Milk Bank di Birmingham. Ketersediaan ASI donor bergantung pada partisipasi ibu menyusui yang memenuhi persyaratan kesehatan dan ketentuan bank ASI.

ASI donor tidak dapat diberikan begitu saja tanpa prosedur yang tepat. Bank ASI umumnya melakukan pemeriksaan calon pendonor, memastikan ASI dikumpulkan dan disimpan secara higienis, serta memprosesnya untuk mengurangi risiko penularan infeksi.

Dikutip dari American Academy of Pediatrics (AAP) juga merekomendasikan ASI donor yang telah dipasteurisasi bagi bayi dengan berat lahir sangat rendah apabila ASI ibu kandung tidak tersedia atau tidak mencukupi.

Dalam pernyataan kebijakannya, AAP menekankan bahwa keamanan ASI donor bergantung pada pemeriksaan kesehatan pendonor, proses pengumpulan dan penyimpanan yang tepat, serta pasteurisasi melalui bank ASI yang memenuhi standar. Berbagi ASI secara informal tanpa pemeriksaan dan pengolahan yang memadai tidak direkomendasikan karena berisiko menyebabkan paparan bakteri, virus, atau zat tertentu.

Bunda yang tertarik mendonasikan ASI sebaiknya menghubungi bank ASI atau tenaga kesehatan untuk mengetahui persyaratan yang berlaku. Dengan begitu, proses berbagi ASI dapat berlangsung dengan aman bagi pendonor maupun bayi penerima.

Kisah Emma menjadi pengingat bahwa pengalaman menyusui setiap ibu berbeda-beda. Di tengah perjalanan merawat Bert, ia juga menemukan kesempatan untuk membantu bayi lain melalui donasi ASI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda