MENYUSUI
Terobosan Baru, Risiko Kanker Payudara Kelak Dapat Terdeteksi dari Kandungan ASI
Melly Febrida | HaiBunda
Jumat, 23 Oct 2026 08:55 WIBAir susu ibu (ASI) selama ini dikenal sebagai sumber nutrisi penting untuk bayi. Namun, siapa sangka, cairan yang diproduksi tubuh ibu ini ternyata menyimpan potensi lain yang sedang diteliti para ilmuwan, yakni membantu mendeteksi kanker payudara lebih dini.
Para peneliti di University of Manchester, Inggris, kini tengah mengkaji apakah kandungan materi genetik dalam ASI dapat menjadi petunjuk keberadaan kanker payudara, terutama pada perempuan selama kehamilan dan setelah melahirkan.
Temuan ini menarik perhatian karena kanker payudara yang berkaitan dengan kehamilan kerap terdiagnosis pada stadium lanjut. Meski begitu, penelitian tersebut masih berada pada tahap awal. ASI belum bisa digunakan sebagai tes rutin untuk mendeteksi kanker payudara atau memprediksi risiko seseorang terkena penyakit ini di kemudian hari.
Penelitian ASI untuk deteksi dini kanker payudara
Dikutip dari The Independent dan laman resmi Manchester University NHS Foundation Trust (MFT), tim peneliti di Manchester sedang melakukan studi bernama BRACELET-BM untuk menyelidiki apakah ASI dapat menjadi sumber informasi baru dalam mendeteksi kanker payudara.
Penelitian ini dipimpin Dr. Niki Flaum dari University of Manchester, bekerja sama dengan Dr. Florent Mouliere dari CRUK National Biomarker Centre. Profesor Sacha Howell, konsultan onkologi di MFT dan The Christie NHS Foundation Trust, juga menjadi salah satu pemimpin studi.
Fokus penelitian adalah circulating tumour DNA (ctDNA), yakni fragmen DNA yang dilepaskan sel tumor dan dapat ditemukan dalam cairan tubuh.
Para peneliti ingin mengetahui apakah DNA terkait kanker yang terdapat dalam ASI dapat membantu mendeteksi penyakit tersebut lebih dini dibandingkan pemeriksaan darah atau metode pencitraan yang digunakan saat ini.
Dr. Niki Flaum menjelaskan bahwa ASI berpotensi memberikan gambaran unik dan noninvasif mengenai kondisi di dalam payudara. Namun, perubahan genetik dalam ASI masih belum banyak diteliti sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
Menurutnya, kanker payudara yang muncul selama kehamilan atau setelah melahirkan cenderung terdiagnosis pada stadium lanjut. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena perubahan jaringan payudara selama kehamilan dan menyusui dapat mempersulit proses evaluasi.
"Ada kebutuhan mendesak untuk menemukan cara yang lebih baik dan lebih akurat dalam mendeteksi kanker payudara pada perempuan selama dan setelah kehamilan. Kami meyakini bahwa ASI dapat memberikan gambaran unik dan non-invasif mengenai kondisi di dalam payudara. Pengetahuan kita mengenai perubahan genetik pada ASI masih sangat minim, karena cairan biologis ini belum banyak diteliti hingga saat ini," kata Dr Flaum.
Meski menjanjikan, penelitian BRACELET-BM masih berada pada tahap awal. Para peneliti berharap, jika metode yang andal berhasil dikembangkan, pemeriksaan DNA dalam ASI kelak dapat diteliti lebih lanjut sebagai alat skrining bagi perempuan yang memiliki risiko tinggi maupun pasien kanker payudara.
Bagaimana DNA dalam ASI bisa membantu mendeteksi kanker?
Secara sederhana, sel kanker dapat melepaskan fragmen materi genetik yang membawa perubahan tertentu. Fragmen tersebut dapat menjadi petunjuk keberadaan tumor apabila berhasil diidentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cancer Discovery pada September 2023, para ilmuwan melaporkan bahwa ctDNA dapat ditemukan dalam ASI dari pasien yang mengalami kanker payudara terkait kehamilan atau masa setelah melahirkan.
Penelitian tersebut melibatkan sampel dari pasien yang telah didiagnosis kanker payudara.
Dalam penelitian tersebut, metode droplet digital PCR berhasil mendeteksi perubahan genetik tumor melalui ctDNA dalam ASI pada 87 persen kasus yang diteliti. Sebaliknya, perubahan genetik yang sama tidak terdeteksi dalam 92 persen sampel plasma darah yang dibandingkan.
Hasil ini menunjukkan potensi ASI sebagai sumber informasi untuk mendeteksi kanker payudara. Namun, temuan tersebut berasal dari kelompok penelitian tertentu dan belum membuktikan bahwa pemeriksaan ASI efektif sebagai skrining pada perempuan sehat secara umum.
Analisis lanjutan menggunakan metode next-generation sequencing menunjukkan sensitivitas klinis sebesar 71,4 persen dan spesifisitas 100 persen dalam kelompok penelitian tersebut.
Menariknya, pada dua kasus, ctDNA sudah terdeteksi dalam sampel ASI yang dikumpulkan masing-masing 18 bulan dan enam bulan sebelum diagnosis melalui pemeriksaan standar.
Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk meneliti ASI sebagai sumber informasi dalam deteksi kanker payudara lebih dini.
Namun, hasil tersebut tidak berarti tes ASI sudah memiliki akurasi yang sama pada perempuan sehat atau bisa langsung digunakan untuk memprediksi siapa yang akan mengalami kanker payudara.
Penelitian awal itu dilakukan pada kelompok pasien tertentu dan masih membutuhkan validasi lebih lanjut.
Mengapa deteksi kanker payudara selama dan setelah kehamilan penting?
Kanker payudara yang didiagnosis selama kehamilan atau dalam periode setelah melahirkan dikenal sebagai pregnancy-associated breast cancer (PABC).
Menurut informasi yang disampaikan tim peneliti Manchester, kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 3.000 kehamilan pada populasi umum.
Pada perempuan dengan risiko kanker payudara yang sangat tinggi, termasuk mereka yang membawa mutasi gen BRCA, angka yang dilaporkan dapat mencapai satu dari 50 kehamilan.
Angka tersebut merupakan perkiraan untuk kelompok yang berbeda, sehingga tidak bisa digunakan sebagai gambaran risiko yang sama untuk semua ibu hamil.
Perubahan hormon dan jaringan payudara selama kehamilan serta menyusui juga dapat menyulitkan penilaian terhadap keluhan payudara. Pembengkakan, perubahan kepadatan jaringan, dan perubahan bentuk payudara bisa membuat evaluasi klinis lebih menantang.
Akibatnya, benjolan atau perubahan tertentu berisiko dianggap sebagai bagian dari perubahan normal selama kehamilan atau menyusui apabila tidak dievaluasi dengan tepat.
Meski demikian, bukan berarti pemeriksaan kanker payudara tidak dapat dilakukan selama masa tersebut. American College of Radiology menjelaskan bahwa pemeriksaan pencitraan yang sesuai, seperti ultrasonografi dan mamografi, tetap memiliki peran dalam evaluasi keluhan payudara selama kehamilan dan menyusui.
Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, usia, tingkat risiko, dan gejala yang dialami.
Apakah menyusui dapat menurunkan risiko kanker payudara?
Selama ini menyusui sering dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara dalam jangka panjang. Namun, ini bukan berarti perempuan yang menyusui terbebas dari kemungkinan terkena kanker payudara.
Pada periode kehamilan dan setelah melahirkan, risiko kanker payudara dapat meningkat untuk sementara sebelum berangsur menurun dalam tahun-tahun berikutnya. Pola risiko tersebut dipengaruhi berbagai faktor, termasuk usia, riwayat reproduksi, serta faktor genetik.
Karena itu, riwayat menyusui tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya tolok ukur untuk menilai risiko kanker payudara seseorang.
Perempuan yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara, terutama jika ada anggota keluarga yang didiagnosis pada usia muda, sebaiknya mendiskusikan risiko pribadinya dengan dokter. Pada sebagian orang, pemeriksaan genetik dan strategi pemantauan khusus dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis.
Penelitian BRACELET-BM diharapkan dapat membantu mengembangkan pendekatan pemeriksaan yang lebih sesuai pada perempuan selama kehamilan dan setelah melahirkan, termasuk mereka yang memiliki risiko genetik tinggi.
Apakah tes ASI sudah bisa digunakan untuk mendeteksi kanker payudara?
Hasil penelitian awal cukup menjanjikan, namun pemeriksaan ASI untuk mendeteksi kanker payudara belum tersedia sebagai tes skrining rutin.
Dalam studi BRACELET-BM, para peneliti masih mengkaji cara terbaik untuk mengambil, mengolah, dan menyimpan sampel ASI. Mereka juga ingin mengetahui apakah faktor lain, seperti infeksi pada ibu atau bayi, dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
Selain itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat akurasi tes pada kelompok perempuan yang lebih luas, termasuk mereka yang belum terdiagnosis kanker payudara.
Jika terbukti efektif, pemeriksaan ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan baru untuk mendeteksi kanker payudara lebih dini, terutama pada perempuan selama kehamilan dan setelah melahirkan serta mereka yang memiliki risiko tinggi.
Namun, potensi tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.
Sambil menunggu perkembangan teknologi ini, perempuan tetap perlu memperhatikan perubahan pada payudara. Benjolan baru, perubahan kulit atau puting, maupun cairan dari puting yang tidak biasa sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.
Jangan menunda pemeriksaan hanya karena sedang hamil atau menyusui. Dokter dapat menentukan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi ibu.
Meski tes kandungan ASI belum bisa digunakan sebagai tes rutin, temuan ini menjadi langkah awal yang menjanjikan untuk mengembangkan metode pemeriksaan yang lebih sesuai bagi perempuan selama kehamilan dan setelah melahirkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Film Tentang Perjuangan Melawan Kanker Payudara
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kisah Bunda & Anak Alami Kanker Payudara dalam Jarak 1 Tahun, Ini Gejala yang Dialami
Kisah Bunda 'Diselamatkan' Bayi yang Temukan Benjolan pada Payudara saat Menyusu
Apakah Kanker Payudara Bisa Sembuh Tanpa Operasi Pengangkatan?
ASI Bisa Bantu Deteksi Kanker Payudara Tahap Awal
TERPOPULER
5 Potret Rumah Tissa Biani yang Homey, Desain Interiornya Aesthetic
7 Potret Kebersamaan Rossa & Sang Putri Raina saat Liburan di Korea Selatan, Kompak Pakai Baju Hanbok
Kenapa Orang Hamil Sebaiknya Tidak Boleh Melayat? Ini Pandangan Islam dan Medis
8 Ciri Kepribadian Orang IQ Rendah saat Berinteraksi dengan Orang Lain Menurut Riset
Terobosan Baru, Risiko Kanker Payudara Kelak Dapat Terdeteksi dari Kandungan ASI
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Coffee Machine Terbaik untuk Bikin Kopi ala Kafe di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Catokan Pelurus Rambut Terbaik untuk Styling Praktis di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Panci Pink Anti Lengket & Awet, Koleksi Cantik Bikin Semangat Masak
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Panci Prasmanan Stainless Satu Set Terbaik dan Awet
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Contoh Desain Kartu Ucapan Tasyakuran Kelahiran Anak
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
150 Nama Bayi Bermakna Inspirasi untuk Anak Perempuan & Laki-Laki Beserta Artinya
Jembatan Baru Penghubung China ke Korea Utara Dibuka, Biaya Pembangunannya Bikin Melongo
7 Potret Kebersamaan Rossa & Sang Putri Raina saat Liburan di Korea Selatan, Kompak Pakai Baju Hanbok
Terobosan Baru, Risiko Kanker Payudara Kelak Dapat Terdeteksi dari Kandungan ASI
5 Potret Rumah Tissa Biani yang Homey, Desain Interiornya Aesthetic
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Bingung Kasih Kado Wisuda? Intip Kipas Portable Edisi Terbatas JisuLife x POP MART
-
Beautynesia
7 Ciri Kepribadian Orang yang Tanpa Sadar Mengangkat Jari Kelingking saat Minum, Menurut Psikologi
-
Female Daily
Ketiak Kamu Tampak Gelap? Ini 5 Cara Merawatnya agar Lebih Cerah!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Viral Pelari Tiba-tiba Menstruasi Saat Maraton, Tetap Lanjut Meski 'Bocor'
-
Mommies Daily
7 Acara Halloween di Jakarta 2026 untuk Anak, Remaja, dan Orang Tua