MOM'S LIFE

'Kucoba Maafkan Putraku yang Membuat Adiknya Pergi untuk Selamanya'

Radian Nyi Sukmasari 02 Jan 2018
Kucoba Maafkan Putraku yang Membuat Adiknya Pergi untuk Selamanya/ Foto: thinkstock 'Kucoba Maafkan Putraku yang Membuat Adiknya Pergi untuk Selamanya'/ Foto: thinkstock
Jakarta - Kala itu, tahun 2007 bunda tiga anak bernama Charity Lee ini sedang berada di kantornya sampai polisi datang dan memberi tahu bahwa si bungsu Ella yang berumur 4 tahun meninggal dunia akibat dibunuh. Sempat ada kekhawatiran di diri Charity pada anak pertamanya, Paris, yang berumur 13 tahun apakah si sulung baik-baik saja. Tapi, dunia bak runtuh saat Charity tahu Paris-lah yang sudah membunuh Ella, adiknya sendiri.

Ya, Paris yang merupakan kakak kandung Ella meskipun berbeda ayah sudah membunuh adiknya. Tahu kenyataan ini, sebagai ibu Charity jelas merasa terpukul. Atas perbuatannya Paris dijatuhi 40 tahun hukuman bui. Luka mendalam dirasakan Charity karena di tahun itu bisa dibilang dia kehilangan dua anaknya sekaligus.

Kata Charity, di umur 11 tahun Paris memang pernah sekali merusak stik mainan adiknya yang lagi dimainkan sama tantenya. Tapi, Charity menganggap yang dilakukan Paris lumrah dilakukan anak laki-laki. Namun, kejadian aneh juga terjadi pas Paris berumur 11 tahun, Bun. Di suatu sore, asisten rumah tangga Charity berteriak karena Paris ketahuan memegang pisau di dapur. Ketika Charity dan semua keluarga menghampirinya, bocah itu malah menusukkan pisau ke perutnya.

"Kami langsung membawa Paris ke RS dan dia dirawat di sana selama seminggu. Saya hanya berpikir Paris adalah seorang remaja. Saat itu, saya nggak terpikir kalau Paris bakal melukai saya atau orang lain. Justru yang saya khawatirkan dia melukai dirinya sendiri. Sampai di tahun 2007 peristiwa nahas itu terjadi," kata Charity dikutip dari Woman's Day.



Dua minggu setelah peristiwa itu, Charity akhirnya bertemu Paris yang saat itu ditahan di penjara khusus anak-anak. "Ibu pasti berpikir tidak akan membunuh siapapun kecuali dia menyakiti salah satu anakmu. Tapi, aku tebak ibu nggak akan pernah berpikir semuanya akan jadi seperti ini," kata Charity menirukan ucapan Paris kala itu.

Mendengar ucapan Paris, kecewa, marah, sedih, bercampur jadi satu di benak Charity. Beberapa lama setelah dipenjara, Paris didiagnosis conduct disorder, satu-satunya kelainan kepribadian yang bisa terjadi pada anak-anak. Menurut CDC, conduct disorder didefinisikan sebagai perilaku agresif seorang anak pada orang lain ditambah perilaku melanggar aturan dan norma sosial di rumah, sekolah, dan dalam kelompok pergaulan.

"Meski begitu, sebagai ibu saya berusaha memaafkan Paris. Satu kata untuk Paris dari saya, ya dia adalah predator. Tapi, dia tetap anak saya. Ibaratnya saat saya berenang lalu hiu menggigit kaki saya, apakah saya akan membenci hiu selamanya? Supaya saya tidak membenci hiu selamanya saya harus paham dengan apa yang memang mereka lakuka. Itulah mindset saya sejak kuliah di jurusan ekologi manusia," tutur Charity.

Di bulan Juni 2013, Charity kembali menemukan tambatan hatinya dan ia melahirkan seorang anak yang diberi nama Phoenix. Paris sempat menulis surat untuk sang bunda bahwa ia ingin sekali bertemu adiknya. Tapi, buat Charity nggak semudah itu mempertemukan Phoenix dengan Paris. Beberapa waktu setelah kepergian Ella, Charity membuat ELLA Foundation, organisasi nonprofit untuk mencegah kekerasan dan memberi advokasi HAM melalui edukasi, keadilan hukum dan advokasi korban kekerasan dan kriminalitas.

"Saya kini sering jadi pembicara tentang motherhood, hukuman mati, saling memaafkan dan empati. Selama saya belajar meaafkan Paris, mungkin saya tidak benar-benar bisa pulih dari perasaan ini. Dia bisa membuat 10 ribu keputusan malam itu tapi saya nggak tahu kenapa dia memilih melakukan itu pada adiknya. Putra saya adalah predator tapi kalau saya menghabiskan seluruh hidup untuk membencinya, apakah itu sesuatu yang baik?" tutur Charity.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi