MOM'S LIFE

Menyentuh! Pelajaran Nilai Hidup Ridwan Kamil pada Putrinya

Niken Widya Yunita Kamis, 12 Jul 2018 - 09.41 WIB
Menyentuh! Pelajaran Nilai Hidup Ridwan Kamil pada Putrinya/ Foto: Muhammad Ridho Menyentuh! Pelajaran Nilai Hidup Ridwan Kamil pada Putrinya/ Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Terkadang hidup memang tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Sakit dan kecewa itu pasti akan dirasakan. Ini pula yang dirasakan Camillia Laetitia Azzahra, anak Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Kenapa sedih, Nak?

Ternyata Zara, panggilan akrabnya, gagal masuk SMPN 2 Bandung. Sebagai ayah, Ridwan Kamil pun ikut sedih. Apalagi sebenarnya nilai sang anak juga bagus.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Emil ini, Zara tidak diterima karena tergeser oleh kuota sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Bandung versi awal, sebelum yang sekarang diterapkan. Kang Emil menyebut anak bungsunya itu tidak terima dan merasa tidak adil.



"Ia (Zara) menangis dan bertanya-tanya. Saya pun sebagai ayahnya ikut patah hati," tulis Kang Emil di Instagram pribadinya @ridwankamil.

Namun Kang Emil mencoba menerangkan dengan perlahan, bahwa 'tergesernya' Zara adalah sebuah peraturan yang harus dihormati. Selain itu, hidup yang mulia adalah hidup yang taat aturan dan syariat. Untunglah setelah mendengar nasihat ayahnya, Zara berhenti menangis dan mencoba memahami.

Kang Emil juga bercerita banyak pihak yang bertanya, "Anda kan wali kota, Anda kan punya kuasa atuh, bisa kali nyelipin buat anaknya sendiri. Masa tega sih ama anaknya sendiri?".

Kang Emil 'menelan' saja ucapan-ucapan itu. Dia lantas mendiskusikan panjang hal itu dengan istrinya, Atalia Praratya Kamil, yang sering dipanggilnya si Cinta. Dari diskusi, keduanya sepakat menaati aturan walau pahit.

"Apa jadinya jika saya ikutan melanggar aturan diam-diam. Nilai hidup apa yang akan menempel seumur hidupnya Zara, jika ia kami paksa masuk dengan cara yang tidak baik. Maka pastilah ia akan meyakini bahwa berbohong itu boleh, demi sebuah tujuan. Nauzubillah," terang Kang Emil. Hiks, menyentuh banget ucapan bapak yang satu ini.

Kini, Zara sudah bisa menerima kenyataan itu. Gadis kecil itu akan bersekolah di SMP swasta. Kang Emil berharap hal ini dapat dijadikan hikmah bahwa mungkin kita tidak menyukai sebuah aturan yang membuat kita di pihak yang kalah, namun aturan harus dihormati.

"Kesuksesan tidak selalu harus dengan bersekolah di negeri. Kesuksesan datang dari bagaimana kita berdamai dengan takdir, menyiasatinya dengan ikhtiar dan doa. Hatur nuhun, mari," tutup Kang Emil.

Bicara tentang kejujuran, kadang kejujuran memang pahit ya, Bun. Namun anak harus diajarkan pada anak sejak kecil dan konsisten.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani SPsi MSi, mengatakan hal pertama yang harus dilakukan jika ingin anak terbiasa berkata jujur adalah membuat anak nyaman saat menyampaikan hal yang jujur. Karena jujur bukan selalu hal yang menyenangkan.



Hmm, saya sepakat, Bun, kita mungkin bisa membantu anak mendapatkan yang dia mau dengan berbagai cara, bahkan mungkin menghalalkan segala cara, termasuk dengan melanggar aturan atau menyakiti perasaan orang lain. Tapi imbasnya, seumur hidupnya, anak akan selalu ingat cara kotor yang kita ajarkan. Duh, amit-amit ya, Bun.

Pada akhirnya mungkin kita akan memilih 'kalah' di mata kebanyakan orang, tapi menjadi pemenang di mata mereka yang melihat dengan kejujuran, etika, dan hati yang bersih.

Nah, Bunda setuju dengan Kang Emil? (nwy/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi