HaiBunda

MOM'S LIFE

Saat Anak Pulang Sekolah, Biasanya Apa yang Bunda Tanyakan?

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Selasa, 25 Jul 2017 14:10 WIB
Ilustrasi anak sekolah/ Foto: Facebook Annisa Citra
Jakarta - Waktu ngobrol sama si kecil soal kegiatan sekolahnya, apa sih yang biasa Bunda tanyakan ke dia? 'Tadi dapat nilai berapa di sekolah' atau 'Tadi pelajarannya susah nggak'? Nah, Bunda sudah pernah belum menanyakan ke anak bagaimana perasaannya tadi saat di sekolah?

Kalau belum, coba deh Bun mulai sekarang yuk kita lontarkan pertanyaan itu ke si kecil. Sebab, seperti kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Dr Seto Mulyadi S.Psi., MSi, alias Kak Seto, memberi pertanyaan seperti itu ke anak bisa jadi upaya Bunda dan Ayah 'mendeteksi dini' apakah si kecil mengalami hal-hal yang nggak menyenangkan di sekolahnya, termasuk bullying.

"Kita dengan anak harus penuh persahabatan. Anak pulang sekolah jangan ditanya nilai berapa, rangking berapa. Coba tanya, 'kamu senang nggak di sekolah?'. Kalau nggak, kita gali lagi, kenapa memang," kata Kak Seto usai Temu Media 'Hari Anak Nasional' di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan baru-baru ini.


Dengan mengajak anak ngobrol soal perasaannya, kata Kak Seto si kecil bisa merasa dilindungi lho Bun. Nah, setelah kita tahu apa sih yang bikin anak nggak senang di sekolahnya, sebagai orang tua kita bisa sampaikan ke guru di sekolah nih. Kak Seto menekankan, orang tua harus peduli pada aspek perasaan si kecil lho, nggak cuma aspek kognitifnya aja.

Sebab, Kak Seto bilang anak kan sejatinya belajar hidup nih Bun. Nah, dia bisa merasa diselamatkan dan merasa didengar ketika kita memperhatikan juga perasaannya. Selain itu, Kak Seto berpesan supaya orang tua bisa menghargai kecerdasan yang dimiliki anak kita, Bun. Ingat, tiap anak itu unik dan punya potensinya masing-masing.

"Jangan mimpi semua anak bisa jadi dokter atau insinyur. Kalau mereka dihargai otak kanannya yang terkait dengan kreativitas, otak kirinya juga akan terbantu. Saya juga bisa belajar sampai S3 karena saya dikasih kesempatan melukis, menyanyi, dan melakukan hal-hal yang sifatnya non kognitif, lebih ke afektif dan psikomotorik," kata Kak Seto.

Dalam kesempatan sama, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr Eni Gustina, MPH bilang kita perlu lho, Bun, jadi sahabat untuk anak. Kuncinya adalah komunikasi. Memperbanyak waktu untuk ngobrol dan berbagi sama si kecil bisa jadi salah satu caranya. Nah, kalau Bunda mau melarang si kecil melakukan sesuatu, kata dr Eni jangan lupa sampaikan alasannya ya, Bun.

"Kita kasih tahu kenapa dia nggak boleh begini begitu. Jadi anak tahu alasannya. Terus, kita juga harus jadi figur buat anak. Jangan larang anak main gadget terus, tapi Ayah sama Bundanya juga main gadget terus," kata dr Eni. (rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Overthinking di Malam Hari

Mom's Life Annisa Karnesyia

Potret Nabila Syakieb Bareng Sang Ponakan Guzel, Sering Disebut Kembar

Parenting Nadhifa Fitrina

Lebih Hemat AC Nyala Terus atau Mati Hidup? Ini Kata Pakar

Mom's Life Amira Salsabila

Cerita Larissa Chou Besarkan Anak ADHD, Lakukan Hal Ini saat Tahan Emosi

Parenting Nadhifa Fitrina

7 Surat yang Dibaca saat Hamil 4 Bulan

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Overthinking di Malam Hari

Potret Nabila Syakieb Bareng Sang Ponakan Guzel, Sering Disebut Kembar

Lebih Hemat AC Nyala Terus atau Mati Hidup? Ini Kata Pakar

7 Surat yang Dibaca saat Hamil 4 Bulan

Hati-hati! 7 Karakteristik yang Dianggap Lembut Ini Bikin Orang Terlihat Kurang Bijaksana

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK