sign up SIGN UP search


moms-life

Ibu-ibu yang Benci Kotor Apakah Pasti Alami OCD?

Sabtu, 19 Aug 2017 13:09 WIB
Bagi ibu-ibu yang benci kotor dan gemar bebersih apakah pasti mengalami Obsessive Compulsive Disorder (OCD)? caption
Jakarta - Namanya orang tua pasti selalu ingin yang terbaik ya Bun untuk si kecil, terutama soal higienitas atau kebersihan. Tapi kalau sudah sampai takut banget sama kotor dan hal yang kotor serta berantakan bikin kecemasan meningkat, bisa jadi memiliki obsessive compulsive disorder (OCD).

Saking cemas karena kotor dan berantakan, seseorang dengan OCD akan mencuci tangan berkali-kali karena merasa belum bersih. Bisa juga mengecek pintu berkali-kali karena merasa tidak aman.

Baca juga: Self Sexualization, Saat Anak Cari Perhatian dengan Pakaian Seksi

Dilansir nhs.uk OCD adalah kondisi kesehatan mental yang umum di mana seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku kompulsif. Kondisi ini mempengaruhi pria, wanita dan anak-anak, serta dapat berkembang pada usia berapapun.


Beberapa orang ada yang mendapat kondisinya lebih awal, seringkali di sekitar pubertas. Tapi biasanya kondisi ini berkembang pada awal masa dewasa.

OCD dapat mengganggu kehidupan secara signifikan, Bun. Namun dengan perawatan yang benar dapat membantu kita untuk mengendalikannya.

Baca juga: Memahami Anak yang Gemar Cari Perhatian dari Lingkungan Sekitar

Menurut Anastasia Satriyo M.Psi., Psikolog, orang dengan OCD mempunyai ciri seperti berikut ini:

1. Takut terkontaminasi kuman atau kotoran atau mencemari orang lain.
2. Takut kehilangan kontrol dan melukai diri sendiri atau orang lain. Terlalu berpikir berlebihan akan efek samping sesuatu, misal jika anak makan tapi lupa cuci tangan, si ibu dengan mudahnya akan berpikir jauh seperti anak bisa kena segala macam penyakit, bisa masuk rumah sakit dan pikiran-pikiran yang terlalu jauh lainnya.
4. Takut kehilangan akan barang atau sesuatu secara berlebihan.
5. Mempunyai pikiran bahwa segala sesuatu harus berbaris 'tepat' dan rapi.
6. Pemeriksaan ganda yang berlebihan, seperti kunci, peralatan dan sakelar.
7. Memeriksa berulang pada orang yang dicintai untuk memastikan mereka aman.
8. Menghitung, mengetuk, mengulangi kata-kata tertentu, atau melakukan hal-hal tak masuk akal lainnya untuk mengurangi kecemasan.
9. Membuang banyak waktu untuk mencuci atau membersihkan.
10. Mengumpulkan 'sampah' seperti koran tua atau wadah makanan kosong karena berpikir nantinya akan terpakai.

Nah, menurut Anas untuk para bunda yang berada dalam kondisi seperti ini disarankan untuk konsultasi dengan ahli atau profesional. Ia juga memberi saran:

1. Untuk diri sendiri bisa membantu dengan meyakinkan diri sendiri ketika sudah membersihkan lantai atau mengunci pintu atau jendela dengan menanamkan dipikiran bahwa 'lantai sudah bersih' atau 'pintu sudah dikunci'.

2. Tulislah hal-hal yg dicemaskan terkait kebersihan pada kertas dan tulis berulang-ulang sampai pikiran berkurang bahkan menghilang.

3. Bisa membuat 'worry period' atau waktu yang sengaja dialokasikan supaya bisa menyalurkan pikiran dan keinginan bersih-bersih tapi dibatasi misal hanya 15-20 menit di pagi hari atau sebelum tidur supaya tidak kepikiran sebelum tidur.

4. Menyalurkan pikiran dan kecemasan tanpa ditahan. Setelah itu lakukan beberapa kali napas yang dalam dan panjang. Biarkan pikiran obsesi akan kebersihan berlalu, kemudian lakukan aktivitas lain seperti biasa.

5. Selain itu mempraktikkan teknik relaksasi, berolahraga teratur dan istirahat cukup juga membantu untuk mengelola OCD yang dimiliki sambil mencari bantuan dari ahli.

Baca juga: Ketika si Kecil Maunya Minum yang Manis-manis Melulu

Menurut Ruta Nonacs, M.D., Ph.D., seorang psikiater perinatal di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston yang dikutip parenting.com hanya dengan meningkatkan kesadaran akan gangguan ini, dapat membuat perbedaan besar lho, Bun. "Pikiran obsesif seringkali sangat mengganggu, namun jika para ibu ini mau terbuka dan mereka paham gangguan kecemasan ini bisa terjadi sebenarnya itu akan sangat membantu mereka," ungkap dr Ruta.

Walaupun kita sudah mengetahui ciri dan solusinya ada baiknya kita pastikan ke ahlinya ya Bun. Berhubung ini merupakan gangguan perilaku dan hanya para ahlinya yang mempunyai pengukuran seseorang terkena gangguan tersebut atau tidak, jadi nggak perlu malu untuk ke psikolog atau psikiater ya Bun. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi