moms-life

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming

Nurvita Indarini Senin, 25 Jun 2018 19:30 WIB
Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming
Jakarta - Siapa sih yang paling tahu anak kita? Tentu kitalah sebagai orang tuanya. Kita pula yang paling bertanggung jawab atas pendidikan dan pola asuh untuk si kecil.

Belum lama ini presenter Marissa Nasution cerita tentang mom-shaming terkait keputusannya memberikan pacifier atau empeng untuk bayinya. Kata dia, masih sering dijumpai orang lain yang mengkritik keras pola asuh yang diterapkan ibu lainnya, atau memberikan saran yang tidak diminta.

Mungkin kita lebih berpengalaman dalam mengasuh anak. Mungkin juga kita tahu banyak hal dari berbagai seminar, workshop, atau bahan bacaan yang sudah kita lalap, tapi itu bukan berarti kita jadi seseorang yang paling tahu sehingga berhak menghakimi ibu lainnya yang berbeda.


Nah, berikut ini beberapa kemungkinan penyebab ibu melakukan mom-shaming, seperti dikutip dari Scary Mommy:

1. Bosan

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/ Foto: Thinkstock


Kebosanan bisa menjadi sebab seorang ibu melakukan mom-shaming. Kadang memang ya kegiatan rutin yang dilakukan dalam mengasuh anak bisa 'mematikan' pikiran.

Kalau dulu, ibu-ibu kita saat merasa bosan setelah mengasuh kita seharian, mungkin akan menyegarkan pikiran dengan menonton sinetron atau telenovela. Tapi sekarang ini, kalau kita sedang merasa bosan, maka media sosial bisa menjadi pelampiasan.

Kita melihat banyak hal di media sosial. Kita pun jadi sangat mudah menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kita. Itu makanya akan jadi lebih mudah terjadi mom-shaming.

2. Sedang Marah

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/ Foto: Thinkstock


Ketika kita sedang marah, lebih mudah melakukan mom-shaming pada ibu lainnya. Saat marah karena anak membuang-buang makanan, mungkin kita akan bilang pelan-pelan pada si kecil, "Nak, kita tidak membuang makanan. Makanan itu untuk di makan,".

Nah, tapi ketika kita merasa marah karena melihat sesuatu yang dilakukan ibu lain, ada kecenderungan kita menyampaikannya dengan teriakan. Terlebih kalau kita merasa diri kita benar.

3. Iri

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/ Foto: Thinkstock


Suatu kali ada ibu yang nggak membolehkan si balita jajan makanan tertentu atau nggak membolehkannya kelamaan nonton televisi. Si kecil menurut dengan aturan yang diterapkan, tanpa kesal dan tanpa tantrum. Tapi ada yang berujar, "Kasihan banget sih anaknya nggak bahagia, nggak menikmati masa kecilnya, semuanya dibatasi,".

Jika kita berada di tim yang berujar, "Kasihan banget sih anaknya nggak bahagia," mungkin kita sebenarnya sedang iri. Iya, kita iri karena belum bisa membatasi paparan layar televisi pada anak kita. Iri karena anak orang lain ternyata bisa makan makanan sehat, sementara anak kita akan nangis-nangis kalau nggak dibolehkan jajan di manapun.

"Kita saling membenci untuk menjadi versi sempurna orang lain, padahal kenyataannya kita membenci diri sendiri karena tidak cukup 'Pinterest-ing'," tutur Kim Simon, penulis di Scary Mommy.

4. Tidak Yakin dengan Identitas Sendiri

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/ Foto: Thinkstock

Tidak yakin dengan identitas sendiri membuat seorang ibu merasa lebih aman berada di sekelompok orang yang punya pemikiran sama. Karena itu ketika merasa ada ibu yang menganut pola asuh yang sama, ada yang cenderung merasa sangat terikat dengan kelompok tersebut, dan sebaliknya menjadi sangat galak dan mudah mengkritik yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Hmm, terkadang 'musuh bersama' membuat sekelompok orang merasa menjadi lebih kuat dan solid.

5. Ingin Diakui

Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/Ini Berbagai Penyebab Seorang Ibu Lakukan Mom-shaming/ Foto: Thinkstock


Terkadang hasrat ingin diakui membuat seseorang mudah melakukan mom-shaming pada ibu lainnya. Ya, misalnya ketika anak kita memiliki perkembangan motorik halus yang baik, kita tergoda memberikan nasihat yang tidak diperlukan ibu lainnya.

Buat apa? Sebenarnya bukan karena agar anak ibu yang lainnya segera berkembang motorik halusnya, tapi lebih kepada kita haus pengakuan. Pengakuan bahwa kita berhasil mendidik anak kita.

Jika suatu saat nanti kita merasa ingin memberikan nasihat atau saran pada ibu lainnya, sebaiknya nggak perlu buru-buru, Bun. Ada baiknya kita berdiskusi dulu dengan baik untuk tahu apakah ibu tersebut butuh nasihat kita atau nggak.

Semua ibu itu hebat, termasuk kita, Bun. Jadi kita nggak perlu berusaha keras menunjukkan kehebatan kita. Justru kita perlu saling bahu-membahu dengan ibu yang lain agar bisa saling menguatkan.

Psikolog anak, Vera Itabiliana mengatakan perlu dipahami bahwa setiap orang tua bebas punya gaya pengasuhan masing-masing. Sepanjang tidak melanggar hak-hak anak atau menyakiti anak, sebenarnya nggak usah selalu dikomentari.

Siobhan Freegard, pendiri ChannelMum.com mengatakan komentar terkait pola asuh memang bisa sangat menyakitkan hati seorang ibu. "Sangat penting mengingat motherhood bukan sebuah kompetisi, melainkan harus menjadi komunitas yang mendukung," ujar Siobhan.

Memang perkataan dari sesama ibu itu mungkin tak bermaksud untuk menyinggung. Tapi, penting banget bagi kita untuk berpikir dulu sebelum berkomentar, karena masalah pola asuh bisa jadi sangat sensitif. Semangat ya Bunda semua! (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi