mom-life

Rindu Ifan 'Seventeen' pada Almarhumah Istri yang Belum Terobati

Yuni Ayu Amida Selasa, 19 Feb 2019 18:31 WIB
Rindu Ifan 'Seventeen' pada Almarhumah Istri yang Belum Terobati
Jakarta - Kerinduan Ifan Seventeen pada almarhumah sang istri, Dylan Sahara, masih belum usai. Vokalis band Seventeen ini masih merasa berat ditinggal selamanya oleh istri, sekaligus tiga rekannya yang jadi korban bencana tsunami di Banten pada 22 Desember 2018.

Beberapa waktu lalu, Ifan mencurahkan kerinduan lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @ifanseventeen. Ia mengunggah foto Dylan mengenakan kebaya putih, saat pernikahan mereka.


Dalam unggahannya, pria 35 tahun ini mengatakan, walau sedang berada di rumah, tapi dia seolah merasa tak menemukan rumah itu. Bagi dia, rumah itu adalah tempat di mana istrinya berada. Itu sebabnya, dia ingin istrinya pulang.


"I'm in a house, but can't find where my home is. Home is where you at. In the middle of my confusion, could you just go home please @dylan_sahara," tulis Ifan.

[Gambas:Instagram]


Dalam unggahan sebelumnya, pemilik nama lengkap Riefian Fajarsyah ini mengunggah foto berdua sang istri, yang diambil 20 menit sebelum terjangan tsunami.

Ia pun bercerita tentang saat terakhir bersama Dylan di malam bencana tersebut. Sang istri menghampiri Ifan ke belakang panggung untuk minta dipeluk, dicium, dan bertanya apakah Ifan benar sayang dengannya.

"Sejujurnya, ini hal yang sangat jarang dia lakukan (menghampiriku sebelum manggung) karna istriku tau, sebelum manggung aku lebih suka berkonsentrasi untuk melakukan pekerjaan bersama Seventeen," tulis Ifan Seventeen.

"Ya, musibah terjadi sekitar pukul 22.10 tanggal 22 desember 2018, dan foto ini diambil paling lama 20 menit sebelum kejadian," kenangnya.

[Gambas:Instagram]


Netizen pun turut merasakan duka. Banyak yang menyemangati Ifan agar tak larut dalam kesedihan. Banyak pula yang mendoakan agar Ifan selalu kuat dan tabah menjalani cobaan hidup.

Merasakan kesedihan mendalam, seperti berduka atas kehilangan orang tersayang merupakan salah satu bentuk emosi. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan emosi, namun ketika dirasa mulai berlebihan, kita patut mengendalikannya.

Dalam ulasan di Psychology Today, menurut psikolog klinis Leslie Becker-Phelps, Ph.D, bukan hal yang aneh bagi orang-orang untuk kritis terhadap emosi mereka ketika mereka berpikir ada yang salah dengan kehidupannya.

Namun, daripada menahan rasa sakit yang dapat menciptakan penderitaan pada diri sendiri, akan lebih bijaksana untuk kita belajar menerima diri sendiri.

"Bertarung melawan atau menolak realitas rasa sakit dalam hidup kita itu menciptakan penderitaan," tutur Becker-Phelps.

Lebih dalamnya, Becker-Phelps menyarankan untuk lakukan lima hal berikut, ketika merasa hidup begitu terpuruk.

1. Mulai menerima kenyataan

Menolak situasi atau lari dari kenyataan tidak akan mengubah apapun. Namun, dengan menghadapi masalah, setidaknya kita dapat mulai mengatasinya.

2. Perhatikan pikiran, perasaan, dan keinginan

Kenali diri kita sendiri. Setidaknya kita dapat menemukan cara untuk menghibur diri dan mengatasi seefektif mungkin bilamana emosi kita mulai tidak stabil.

3. Sayangi diri sendiri

Kita tidak akan sembuh bila kita terus menyakiti bagian tubuh kita yang luka. Hal ini sama dengan rasa sakit yang diakibatkan emosi. Cara untuk menyembuhkan adalah menerimanya dan menemukan cara untuk merawat luka.


4. Rencanakan masa depan lebih baik

Jika kita ingin bahagia, maka rencanakan perubahan yang lebih baik untuk kedepannya. Mulailah menata hidup lagi, jangan selalu lihat ke belakang jika itu hanya akan menyakitkan.

5. Bangun persahabatan baru

Tidak ada yang hidup sendirian di dunia ini. Mungkin kita akan mengalami masa-masa sulit, tapi pasti ada dukungan teman-teman baik dan mereka yang peduli.


[Gambas:Video 20detik]

(yun)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi