mom-life

Harapan Syahrini dan Reino Barack Soal Rencana Punya Momongan

Asri Ediyati Selasa, 12 Mar 2019 20:04 WIB
Harapan Syahrini dan Reino Barack Soal Rencana Punya Momongan
Jakarta - Resmi menikah di Jepang pada 27 Februari 2019, Syahrini dan Reino Barack akhirnya buka suara di depan publik. Keduanya menggelar jumpa pers di sebuah hotel mewah bilangan Thamrin, Jakarta Pusat. Saat ditanya rencana punya anak, keduanya sepakat tak menundanya.

Syahrini juga berharap keinginannya memiliki momongan dapat segera terwujud. Jika diberi anak dengan cepat, Syahrini mengaku akan sangat bersyukur.

"Lebih cepat lebih baik insyaallah, kalau Allah kasih cepat alhamdulillah," kata Syahrini dikutip dari detikcom [https://hot.detik.com/celeb/d-4463229/syahrini-tak-tunda-punya-anak-dari-reino].


Di kesempatan yang sama, Reino Barack juga mengutarakan keinginan yang sama. Reino bilang, memiliki anak harus dilalui lewat berbagai macam usaha dan doa.
Harapan Syahrini dan Reino Barack Soal Rencana Punya Momongan/ Harapan Syahrini dan Reino Barack Soal Rencana Punya Momongan/ Foto: (Hanif Hawari/detikHOT)

"Pasti, pasti. Di apapun itu kan 80 persen usaha 20 persennya doa," ujar Reino Barack.

Semoga harapannya segera dikabulkan ya. Bicara hal tersebut, psikolog Febria Indra Hastati MPsi Psikolog dari Brawijaya Clinic mengatakan, ada hal-hal yang harus diketahui dalam merencanakan kehamilan. Sebelum memiliki anak pasangan harus melakukan persiapan fisik, ekonomi dan jarak kehamilan.


"Ketika memasuki usia produktif yakni dewasa muda. Para wanita dan laki-laki pasti berkeinginan untuk bekerja, menikah, punya anak dan kebanyakan berpikiran kalau mereka harus punya anak banyak. Kadang ada juga stereotip, pokoknya sampai punya anak perempuan atau laki-laki, sementara sudah dikaruniai anak sampai lebih dari dua," kata Febria.

Padahal secara nggak sadar, seorang wanita juga menjalankan tugas sebagai ibu. Penting bagi wanita merencanakan untuk memiliki anak lebih dari satu. Termasuk mengatur jarak kelahiran, agar tidak mengalami depresi.

"Kalau jaraknya dekat akan beberapa risiko yang harus dihadapi, bisa ada sibling rivalry antar saudara, perlu ada pengasuh, jadi dia nggak bisa napas dulu untuk quality time dengan keluarga, dengan anak pertamanya. Kalau keluarganya atau orang terdekatnya seperti suami nggak solutif, bisa stres," ujar Febria.

[Gambas:Video 20detik]

(aci/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi