mom-life

Janji Sehidup Semati Mus Mulyadi dan Sang Istri

Yuni Ayu Amida Jumat, 12 Apr 2019 11:06 WIB
Janji Sehidup Semati Mus Mulyadi dan Sang Istri
Jakarta - Meninggalnya Mus Mulyadi menyisakan luka mendalam di hati keluarga, khususnya sang istri, Helen Sparingga. Wanita yang telah menemani sang maestro keroncong selama 44 tahun itu pun mengenang awal pertemuan mereka.

"Saya bertemu di tahun baru, tahun 74 (1974), 75 (1975) menikah, dan saya berdoa setiap tahun baru bersama enggak mau pisah. Ternyata 44 tahun kami bersama terus di tahun baru, ternyata itu tahun baru terakhir buat saya sama Mas Mul," kenang Helen, dikutip dari detikcom.


Bagi Helen, suaminya adalah sosok yang sangat baik, pendiam, dewasa, dan selalu mengalah untuknya. Selain itu, Mus juga jarang mengeluarkan isi hatinya dan tidak suka meluapkan amarah.

"Tapi di wajahnya kalau marah kelihatan marah, tapi setelah tu dia mengampuni, memaafkan, dia orang baik banget, temennya banyak," tuturnya.

Saat pertama bertemu pun, Helen langsung jatuh cinta dan berdoa semoga Mus menjadi jodohnya. Meski terpukul usai kepergian sang suami, namun dia berusaha tegar dan menerima.

"Saya memang berdoa waktu lihat Mas Mul pertama kali. Saya mau suami itu, saya bilang saya mau suami itu, ternyata Tuhan memberikan itu jodoh saya," ungkapnya.

Janji Sehidup Semati Mus Mulyadi dan Sang IstriFoto: instagram

Selama Mus sakit, Helen mengaku tak pernah sekalipun meninggalkan sang suami. Dengan setia, Helen menemani bahkan ketika Mus mengalami kebutaan akibat diabetes yang dideritanya.

Ia juga menuturkan, tidak ada pesan yang disampaikan mendiang suaminya sebelum pergi. Yang dia tahu, suaminya selalu semangat dan menunjukkan hidup bahagia.

Bahkan, dia dan suami pernah berjanji untuk menghadap Tuhan bersama. Namun rupanya takdir berkata lain, Tuhan memanggil suaminya terlebih dulu.

"Padahal, dulu janjinya pulang sama-sama, 'Nanti kita sama-sama ya Hel kalau pulang, iyo Mas Mul,' tapi ya udah duluan dia. Sebetulnya dia belum mau ninggalin kita, tapi Tuhan sudah memanggil dia." tutup Helen.

Kehilangan pasangan hidup seperti yang dialami Helen Sparingga pastinya sangat menyakitkan, Bun. Dikatakan psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi, Samanta Ananta, dukungan emosional dari keluarga dekat, kerabat, sahabat, dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan pasangan yang ditinggalkan.

"Dukungan emosional seperti tidak membicarakan bagaimana proses meninggalnya pasangan, melainkan memberikan semangat agar dia bangkit dari rasa kesedihannya," jelas Samanta.

Jika seorang istri menunjukkan emosi kesedihan atau amarah akibat kehilangan suaminya, kata Samanta, orang-orang terdekat bisa memberi waktu untuknya menenangkan diri sambil terus memberi perhatian penuh.
Contohnya, mengunjunginya dan menyiapkan makan, atau mengajaknya membicarakan hal-hal ringan yang bisa membuat dia terhibur.

Bunda, simak juga ya ungkapan hati Helen Sparingga usai kepergian sang suami, Mus Mulyadi, selengkapnya di video berikut:

[Gambas:Video 20detik]

(yun/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi