MOM'S LIFE
Wabah Flu Jepang Jadi yang Tertinggi selama 25 Tahun, Waspada Gejala Ini!
Arina Yulistara | HaiBunda
Senin, 17 Feb 2025 21:50 WIBWabah flu di Jepang mengalami lonjakan. Beberapa orang meninggal dunia karena infeksi flu, termasuk aktris Taiwan, Barbie Hsu. Waspadai gejala wabah flu Jepang buat Bunda yang ingin berlibur ke Negeri Sakura tersebut.
Mengutip NHK World Japan dan AL 24 News, Jepang mencatat jumlah kasus flu tertinggi selama satu pekan terakhir di bulan Desember 2024. Berdasarkan data tersebut, wabah flu Jepang menjadi yang tertinggi sejak 1999 atau sekitar 25 tahun berselang.
Menurut otoritas kesehatan beberapa waktu lalu, dalam periode 23 hingga 29 Desember 2024, sebanyak 317.812 orang didiagnosis mengidap flu di seluruh Jepang. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi rekor mingguan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1999.
Kondisi ini memicu lonjakan pasien di berbagai rumah sakit bahkan beberapa klinik harus tetap buka selama liburan Tahun Baru untuk menangani jumlah pasien yang terus bertambah. Kematian artis Barbie Hsu karena flu saat berlibur dalam rangka Tahun Baru Imlek ke Jepang juga menyita perhatian dunia.
Faktor pemicu lonjakan kasus flu di Jepang
Bagaimana gejala flu Jepang yang bisa merenggut nyawa? Mari bahas di sini, Bunda.
1. Mobilitas tinggi masyarakat selama musim dingin di Jepang
Peningkatan kasus flu yang drastis di Jepang dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Pertama, musim dingin yang lebih dingin dari biasanya menyebabkan virus lebih mudah menyebar.
Selain itu, mobilitas masyarakat yang tinggi selama liburan akhir tahun meningkatkan risiko penularan. Aktivitas sosial yang padat, termasuk perayaan Tahun Baru serta Imlek, kunjungan keluarga, turut mempercepat penyebaran virus.
2. Vaksinasi flu yang rendah
Kedua, tingkat vaksinasi flu yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya juga menjadi salah satu pemicu. Beberapa kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis, lebih mudah terkena infeksi jika tidak mendapatkan perlindungan dari vaksin.
Di sisi lain, mutasi virus flu yang berkembang setiap tahunnya membuat efektivitas vaksin menjadi tantangan tersendiri dalam pencegahan penyebaran.
3. Keterbatasan dalam hal medis
Ketiga, tekanan pada sistem kesehatan di Jepang juga memperburuk situasi. Dengan jumlah pasien yang meningkat tajam, rumah sakit dan klinik mengalami keterbatasan tenaga medis dan obat-obatan.
Keterbatasan pasokan obat antivirus, seperti oseltamivir, membuat pengobatan bagi pasien flu menjadi lebih sulit. Hal ini menambah beban untuk fasilitas kesehatan yang sudah kewalahan menangani pasien dalam jumlah besar.
Di Tokyo, klinik-klinik kesehatan kewalahan menghadapi lonjakan pasien yang datang untuk mendapatkan pengobatan. Kepala sebuah klinik di Tokyo, Ito Hiromichi, mengatakan bahwa jumlah pasien flu meningkat drastis dengan sekitar 25 orang per hari dinyatakan positif.
Ito bahkan juga terpaksa membuka kliniknya pada hari libur Tahun Baru karena jumlah pasien yang terus bertambah.
Menurut laporan NHK, rata-rata pasien flu di setiap institusi medis mencapai 64,39 pada akhir Desember 2024. Dari 47 prefektur di Jepang, 43 di antaranya telah melewati ambang batas peringatan.
Prefektur Oita di Jepang bagian barat juga mencatat angka tertinggi dengan 104,84 pasien per fasilitas medis, disusul oleh prefektur di wilayah Kyushu. Sementara itu, kota-kota besar seperti Aichi (82,35), Osaka (67,53), dan Tokyo (56,52) mengalami peningkatan drastis.
Ketua Asosiasi Medis Prefektur Okayama, Matsuyama Masaharu, mengungkapkan bahwa kondisi ini bisa disebut sebagai krisis jika jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit terus bertambah. Apalagi, salah satu produsen obat generik terbesar di Jepang, Sawai Pharmaceutical, mengumumkan penghentian sementara distribusi obat antivirus oseltamivir akibat kendala produksi.
Obat tersebut menyumbang sekitar 25 persen dari total pasokan obat flu nasional yang jika dihentikan distribusinya berpotensi memperparah situasi.
Gejala flu Jepang yang perlu diwaspadai
Gejala flu yang mewabah di Jepang saat ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Beberapa gejala umum yang perlu diwaspadai meliputi:
- Demam tinggi yang biasanya mencapai 38 derajat Celsius atau lebih.
- Batuk kering atau berdahak yang sering kali berlangsung selama lebih dari seminggu.
- Sakit tenggorokan yang menyebabkan kesulitan menelan.
- Nyeri otot dan sendi yang membuat tubuh terasa lemas dan sulit bergerak.
- Sakit kepala intens, terutama di sekitar dahi dan pelipis.
- Kelelahan ekstrem yang menyebabkan sulit menjalani aktivitas harian.
- Mual, muntah, dan diare, terutama pada anak-anak dan lansia.
- Sesak napas atau sulit bernapas yang bisa menjadi tanda komplikasi serius.
Selain itu, pada beberapa kasus, flu ini dapat menyebabkan komplikasi ensefalopati, yaitu gangguan fungsi otak yang ditandai dengan kehilangan kesadaran atau kejang. Jika Bunda atau seseorang yang dikenal mengalami kesulitan sadar, berbicara tidak masuk akal, atau mengalami kejang, segera cari pertolongan medis.
Shoji Takayo dari Shizuoka Children's Hospital, melaporkan bahwa mereka menangani tiga kasus ensefalopati terkait flu dalam kurun waktu sebulan yang merupakan jumlah tinggi dalam periode singkat. Salah satu pasien yang masih balita meninggal dunia akibat kondisi ini.
Di Tokyo Metropolitan Children’s Medical Center, hingga 5 Januari 2025, terdapat empat pasien anak yang dirawat dengan kasus ensefalopati akibat flu. Satu di antaranya meninggal dunia.
Pakar penyakit menular, Horikoshi Yuho, menyebutkan bahwa meskipun komplikasi ini jarang terjadi, orang tua perlu waspada. Jika anak mengalami gangguan kesadaran, berbicara tidak masuk akal, atau kejang, ensefalopati mungkin sudah berkembang dan segera perlu dibawa ke unit gawat darurat.
Cara mencegahnya
Mengingat peningkatan drastis kasus flu di Jepang, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan. Apa saja langkah pencegahan yang bisa Bunda lakukan?
Mengenakan masker, menjaga kebersihan tangan, dan mendapatkan vaksin flu menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko infeksi. Selain itu, jika mengalami gejala flu seperti demam tinggi, batuk, dan kelelahan ekstrem, segera periksakan diri ke fasilitas medis terdekat guna mendapatkan perawatan yang tepat dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
Simak video di bawah ini, Bun:
Jangan Anggap Remeh, Ini 6 Gejala Asam Urat & Kolesterol Tinggi pada Wanita
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Sering Disangka Flu, Gejala Ringan Ini Bisa Jadi Tanda Kanker Paru
Cerita Perempuan yang Mengeluh Flu, Ternyata Ada Benda Asing di Paru-paru
Musim Liburan, Waspadai 10 Tempat yang Berpotensi Tinggi Tularkan Flu
Tingkat Kematian Flu Lebih Tinggi dari COVID-19? Ini Penjelasannya Bun
TERPOPULER
Cerita Afifah Yusuf, Merasa Haru Berhasil Menyusui & Menyapih Dua Anak selama 2 Th
Mengapa Bayi Kagetan saat Tidur? Ketahui Faktanya
Pasangan Lebih Sering Bertengkar saat Punya Anak, Normalkah?
Resep Bubur Suro Khas Jawa dan Aneka Makanan Tradisional untuk Sambut Tahun Baru Islam
6 Tanaman Jadul yang Kembali Naik Daun pada 2026
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lampu LED Emergency, Cadangan saat Kena Pemadaman Listrik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Label Nama Buku Aesthetic untuk Buku Pelajaran Anak
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
7 Bantal Menyusui Multifungsi Terbaik yang Bagus & Nyaman untuk Ibu & Bayi
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
9 Bumbu Masak Instan untuk Masakan Enak dan Praktis
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Pashmina Viscose yang Bagus, Adem, dan Nyaman Dipakai Seharian
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Rumah Baru Dinda Hauw & Rey Mbayang Dilengkapi Kolam Renang, Masih Proses Pembangunan
15 Nama Artis Indonesia Berawalan O dan Artinya, Bagus Penuh Makna
Cerita Afifah Yusuf, Merasa Haru Berhasil Menyusui & Menyapih Dua Anak selama 2 Th
Cara Mengenali Orang Cerdas dari 11 Hal yang Berani Mereka Tolak saat yang Lain Setuju
Pasangan Lebih Sering Bertengkar saat Punya Anak, Normalkah?
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Jay Park Bawa LNGSHOT di Tur Dunia 2026 Tuai Pro Kontra
-
Beautynesia
Kebutuhan Serba Naik, Ini 5 Tempat Wisata Favorit Anak yang Murah di Jakarta
-
Female Daily
Pencinta Bola Merapat! Adidas Home of Football Resmi Hadir di Jakarta
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Life After Breakup, Sooyoung Ikut Maraton Amal Usai Putus dari Jung Kyung Ho
-
Mommies Daily
7 Event Seru 15–21 Juni 2026, dari ARTJOG hingga Sunset di Kebun