MOM'S LIFE
Mengenal Trauma Kolektif yang Bisa Dialami Masyarakat Akibat Kekacauan Negara
Amira Salsabila | HaiBunda
Rabu, 10 Sep 2025 22:30 WIBSetiap negara mungkin pernah mengalami konflik dalam pemerintahannya. Namun, jika berubah menjadi kekacauan yang mengkhawatirkan masyarakat, itu dapat memicu masalah mental, seperti trauma kolektif atau trauma bersama.
Ketika mengalami berbagai hal bersama, baik positif maupun negatif, Bunda terikat oleh ingatan bersama akan pengalaman tersebut.
Lantas, apa itu trauma kolektif dan bagaimana cara mengatasinya? Simak selengkapnya berikut ini.
Apa itu trauma kolektif?
Dilansir dari laman Better Up, trauma kolektif adalah tekanan psikologis yang dialami suatu kelompok, biasanya seluruh budaya, komunitas, atau kelompok besar lainnya, sebagai respons terhadap trauma bersama.
Menurut sebuah studi pada 2018 yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology, pemrosesan kolektif trauma bersama adalah proses psikologi sosial dinamis yang terutama didedikasikan untuk konstruksi makna.
Dengan kata lain, ia dibangun dari upaya orang untuk memahami dan mengontekstualisasikan peristiwa traumatis.
Kabar baiknya adalah tantangan merupakan kesempatan untuk tumbuh dan berubah. Sebagaimana Bunda dapat membingkai ulang kesulitan pada tingkat individu, komunitas yang menunjukkan kemampuan beradaptasi dan ketahanan dapat tumbuh dalam menghadapi tantangan luar biasa.
Penyebab trauma kolektif
Peristiwa traumatis yang dialami banyak orang dapat memengaruhi perasaan, pikiran, dan tindakan mereka.
Terkadang, peristiwa semacam itu dapat menyebabkan pergeseran budaya dan perubahan sosial yang memengaruhi generasi mendatang.
Dilansir dari laman Wtherapy, beberapa jenis peristiwa yang dapat menyebabkan trauma kolektif meliputi:
- Pandemi
- Serangan teroris
- Bencana alam
- Bencana ekonomi
- Penembakan massal atau kekerasan
- Perang dan konflik militer
Meskipun sebagian orang menyaksikan peristiwa traumatis secara langsung, kebanyakan orang mengamatinya melalui paparan media sosial.
Dampak trauma kolektif terhadap kesehatan mental
Trauma kolektif dapat memengaruhi kelompok besar atau seluruh bangsa. Di tingkat masyarakat, penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa dampak trauma kolektif meliputi:
1. Distres psikologis
Distres psikologis, termasuk stres akut, perasaan rentan, kesedihan, post-traumatic stress disorder (PTSD), post-traumatic stress syndrome (PTSS), dan gangguan fungsional, umum terjadi setelah peristiwa traumatis.
Selain itu, trauma juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya.
2. Gangguan kecemasan
Trauma memang berat bagi sistem saraf, dan trauma kolektif pun demikian. PTSD dapat memicu serangan panik dan kecemasan yang melumpuhkan terkait aktivitas yang berkaitan dengan trauma.
Apa pun pemicu kecemasannya, penting untuk mengenali dan belajar untuk mengatasinya. Jika gejala ini memengaruhi kualitas hidup, mungkin sudah saatnya mencari bantuan profesional.
3. Harga diri rendah
Jika merasa harga diri rendah, terlepas dari apa yang dikatakan orang-orang terdekat, hal itu bisa disebabkan oleh trauma kolektif. Banyak penelitian yang telah menunjukkan hubungan antara trauma dan rendahnya harga diri.
Pandemi COVID-19 adalah contoh nyata dari hal ini, Bunda. Perintah untuk tetap di rumah membuat banyak orang terisolasi secara sosial.
Namun, setelah dapat kembali beraktivitas di luar ruangan, beberapa orang mungkin mengalami kecemasan sosial atau kurang percaya diri saat berinteraksi kembali dengan orang lain.
4. Krisis eksistensial
Ketika hal buruk terjadi, tidak selalu mudah untuk memahaminya atau mencari cara untuk melanjutkan hidup.
Hal ini dapat memicu krisis eksistensial. Orang-orang atau seluruh komunitas dapat merasa kehilangan arah, meragukan keyakinan mereka, atau tidak yakin akan posisinya.
Cara mengatasi trauma kolektif
Selain menyadari dampak terhadap diri sendiri, berikut beberapa langkah yang dapat Bunda ambil jika mengalami trauma kolektif:
1. Batasi paparan media
Penelitian menemukan bahwa orang yang lebih banyak menonton liputan televisi lebih mungkin mengalami tekanan psikologis.
Oleh karena itu, membatasi paparan media dan menghindari media sosial dapat membantu Bunda fokus pada hal-hal positif dan mengurangi kecemasan.
2. Cari dukungan sosial
Meskipun menjaga jarak sosial membuat komunikasi lebih sulit, penting untuk mencari dukungan sosial. Terhubung dengan anggota keluarga dan teman dapat membantu Bunda menemukan dukungan yang dibutuhkan.
3. Mengandalkan informasi terpercaya
Meskipun emosi dapat mengaburkan penilaian, penelitian menunjukkan bahwa orang dapat membuat penilaian yang akurat tentang potensi bahaya ketika mereka memiliki informasi yang akurat.
Mengandalkan fakta jujur dan tidak bias dapat memengaruhi ingatan Bunda tentang trauma pada tingkat individu.
4. Merawat diri sendiri
Jika mengalami tingkat stres yang tinggi, Bunda mungkin akan mengabaikan kesehatan. Namun, mengonsumsi makanan seimbang, olahraga teratur, dan tidur yang cukup dapat membantu membangun ketahanan dan mengurangi stres serta kecemasan akut.
5. Manfaatkan sumber daya kesehatan mental
Meskipun tidak dapat mengakses layanan kesehatan mental secara langsung, opsi daring dapat membantu.
Kini, banyak terapis dan platform daring yang menawarkan layanan kesehatan mental untuk membantu seseorang pulih dari masalah psikologisnya.
Nah, itulah beberapa hal yang dapat Bunda ketahui tentang trauma kolektif. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Mengenal Trauma Kolektif, Dampak Psikologis Masyarakat Akibat Kekacauan Negara
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Setengah Konten Kesehatan Mental Viral di TikTok Ternyata Misinformasi
9 Cara Tetap Optimis di Tengah Masalah Negara yang Membuat Stres dan Resah
Ketahui Gejala Bipolar pada Perempuan dan Cara Mengatasinya
Tren 'Cek Khodam' di Media Sosial Berhubungan dengan Kesehatan Mental? Begini Kata Pakar
TERPOPULER
Kasus Keguguran di Tahanan Perempuan Terungkap, Ini Temuan Terbaru
Potret Aktris 'Agensi Rumah Tangga' Fita Anggriani Bersama Suami dan Dua Anak
Berat Badan Turun Tanpa Diet, Rigen Rakelna Ungkap Kebiasaan yang Dilakukan
10 Contoh Teks Rekon Pribadi, Faktual, Imajinatif hingga Singkat Beserta Strukturnya
9 Zodiak Paling Drama, Masalah Kecil Bisa Jadi Panjang
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Jet Cleaner Terbaik, Ampuh & Cepat Bersihkan Noda
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Alat Tes Kolesterol, Gula Darah & Asam Urat yang Bagus & Mudah Digunakan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Kado untuk Ibu Hamil yang Ulang Tahun, Lengkap dari Mewah-Pasti Berguna
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Warga RI Usia 17 Tahun Akan Dapat Saldo Rp50 Ribu di Rekening, Ini Alasannya
10 Contoh Teks Rekon Pribadi, Faktual, Imajinatif hingga Singkat Beserta Strukturnya
Kasus Keguguran di Tahanan Perempuan Terungkap, Ini Temuan Terbaru
Potret Aktris 'Agensi Rumah Tangga' Fita Anggriani Bersama Suami dan Dua Anak
9 Resep MPASI 6 Bulan ke Atas Anti Sembelit, Enak & Praktis Dibuat
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Beli Nintendo Switch OLED? Siapkan 5 Hal Ini Dulu Biar Nggak Menyesal
-
Beautynesia
Ini yang Terjadi pada Tubuh Jika Kamu Sering Makan Larut Malam
-
Female Daily
All-Black, All-Glam! Intip Look Sana TWICE Saat Hadiri Prada SS27 di Milan
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Fenty Beauty & Huda Beauty Rilis Eye Patch dengan Kemasan Sama, Kok Bisa?
-
Mommies Daily
Sontek Warna Hijab Nikita Willy, Ini 7 Warna yang Bikin Wajah Terlihat Cerah!