moms-life
5 Jenis Obat Populer yang Perlu Diwaspadai karena Bisa Merusak Ginjal
HaiBunda
Senin, 05 Jan 2026 23:30 WIB
Daftar Isi
Tahukah Bunda? Obat merupakan bagian yang sangat penting untuk menjaga kesehatan. Namun, perlu diketahui bahwa ada sejumlah jenis obat yang perlu diwaspadai karena dapat merusak ginjal.
Ginjal diam-diam melakukan banyak pekerjaan berat, mereka menyaring limbah, menyeimbangkan cairan, mengontrol tekanan darah, dan masih banyak lagi.
Namun terkadang, obat-obat yang dimaksud untuk membantu kita dapat berbalik dan membahayakan organ vital ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obat tersebut mungkin memberi tekanan atau merusak ginjal, terutama jika digunakan dalam jangka panjang atau tanpa pengawasan yang cermat, dan karena kerusakan ginjal tidak dapat dipulihkan, hal itu juga dapat berakibat fatal.
5 Jenis obat populer yang bisa merusak ginjal
Dilansir dari laman Times of India, berikut beberapa jenis populer yang berpotensi membahayakan ginjal:
1. Non-steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs)
Obat pereda nyeri, termasuk iburprofen, naproxen, diclofenac, dan berbagai obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) lainnya, umumnya digunakan karena efektivitasnya.
Jenis obat ini memberikan peredaan yang signifikan dari rasa tidak nyaman. Namun, penting untuk menyadari bahwa obat-obatan ini juga dapat menghambat sintesis prostaglandin. Ini adalah molekul penting yang berperan dalam melebarkan pembuluh darah di dalam ginjal.
Sebuah studi yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) menyoroti hubungan penting ini.
Ketika produksi prostagladin berkurang, hal itu dapat mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, yang menjadi sangat mengkhawatirkan dalam situasi di mana seseorang mengalami dehidrasi atau memiliki volume darah yang berkurang.
Kondisi seperti itu pada akhirnya dapat menyebabkan cedera ginjal akut, yang menimbulkan masalah kesehatan serius.
Penggunaan jangka panjang dapat memicu kerusakan kronis, NSAID dapat menyebabkan nefritis interstisial (peradangan pada ginjal), nekrosis papiler, atau bahkan penurunan fungsi ginjal secara bertahap.
Fakto risiko mungkin akan terjadi pada orang lanjut usia, dehidrasi, penyakit ginjal yang sudah ada, gagal jantung, atau penggunaan obat lain yang memengaruhi perfusi ginjal.
2. Antibiotik aminoglikosida
Aminoglikosida termasuk golongan antibiotik (seperti gentamisin, tobramisin, amikasin) yang digunakan untuk infeksi bakteri serius.
Obat-obatan ini menumpuk di sel tubulus proksimal ginjal. Seiring waktu, obat-obatan ini menghasilkan spesies oksigen reaktif (radikal bebas), merusak sel-sel tersebut dan menyebabkan nekrosis.
Setelah pengobatan dihentikan, fungsi ginjal sering pulih, tetapi tidak selalu sepenuhnya, terutama dengan dosis kumulatif yang lebih tinggi atau terapi jangka panjang.
Faktor risiko terjadi pada orang yang dehidrasi, pengidap ginjal kronis yang sudah ada, penyakit hati, albumin rendah, atau bila digunakan bersamaan dengan obat nefrotoksik lainnya.
3. Vancomycin dan glkopeptida lainnya
Vancomycin adalah antibiotik ampuh yang sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri resisten. Namun, obat ini memiliki risiko toksisitas ginjal yang diketahui, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau dikombinasikan dengan nefrotoksin lain (seperti aminoglikosida).
Mekanisme yang mendasarinya tidak selalu mudah dipahami. Terkadang, kondisi yang sudah ada sebelumnya pada pasien seperti sepsis, memainkan peran penting dalam keseluruhan situasi.
Namun, penting untuk dicatat bahwa vancomycin, dengan sendirinya, telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya cedera ginjal akut.
4. Agen radiokontras
Zat kontras yang digunakan dalam pencitraan (CT scan, angiografi) terkadang dapat memicu nefropati akibat kontras.
Zat-zat ini dapat mengurangi aliran darah ginjal, menghasilkan stres oksidatif, dan menyebabkan toksisitas tubular langsung. Hal ini sangat berisiko jika seseorang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal atau mengalami dehidrasi.
5. Obat-obat yang memengaruhi hemodinamika ginjal (Penghambat ACE/ARB yang dikombinasikan dengan risiko lainnya)
Inhibitor ACE (seperti lisinopril) dan ARB (seperti losartan) seringkali merupakan obat penyelamat jiwa untuk hipertensi, gagal jantung, dan penyakit ginjal, tetapi dalam kondisi tertentu, obat-obatan ini dapat memperburuk fungsi ginjal untuk sementara waktu.
Obat-obatan ini melebarkan arteriol eferen (bagian dari penyakit darah ginjal), yang menurunkan tekanan glomerulus.
Dalam kebanyakan kasus, hal itu bermanfaat, tetapi jika dikombinasikan dengan dehidrasi, NSAID, diuretik, atau penurunan volume darah secara tiba-tiba, hal itu dapat menyebabkan cedera ginjal akut.
Nah, itulah beberapa jenis obat yang perlu diwaspadai karena dapat merusak ginjal. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
5 Tanda Awal Kerusakan Ginjal yang Muncul Pagi Hari, Perhatikan Sinyal Tubuh Ini!
Mom's Life
12 Tanda Ginjal Rusak yang Bisa Terlihat dari Kulit, Cek Segera Bun
Mom's Life
Hati-Hati, 5 Jenis Minuman Ini Bisa Merusak Ginjal Bun
Mom's Life
Bunda Perlu Tahu, Ini 4 Jenis Minuman yang Ancam Kesehatan Ginjal
Mom's Life
7 Alasan Mengapa Gula Tidak Baik Bagi Tubuh Bunda, Salah Satunya Memicu Depresi
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Becky Tumewu Usai Operasi Mata Akibat Retina Lepas
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
9 Kebiasaan Makan Penyebab Kerusakan Ginjal
Kasus Penyakit Ginjal di Singapura Meningkat Tajam, Faktor Ini Jadi Sorotan
9 Tanda Bahaya saat Tubuh Kelebihan Gula, Termasuk Sering Kehausan