MOM'S LIFE
5 Alasan Pentingnya Bicara Keuangan Sebelum Menikah, Pernahkah Dilakukan oleh Bunda dan Ayah?
Arina Yulistara | HaiBunda
Kamis, 15 Jan 2026 15:01 WIBPernahkah Bunda dan Ayah membicarakan keuangan sebelum menikah? Pahami alasan pentingnya bicara keuangan sebelum menjalani kehidupan rumah tangga.
Bicara keuangan sebelum menikah masih sering dianggap sebagai topik sensitif bahkan tabu oleh sebagian pasangan. Padahal urusan finansial merupakan salah satu aspek terpenting yang akan memengaruhi perjalanan rumah tangga ke depan.
Tidak sedikit pasangan yang baru menyadari perbedaan prinsip keuangan setelah resmi menikah, ketika komitmen sudah terlanjur diikat. Bicara soal cinta saja tidak cukup untuk membangun pernikahan yang sehat dan berkelanjutan.
Kesamaan visi hidup, termasuk cara mengelola uang, menjadi pondasi penting dalam membangun keluarga. Seperti yang pernah disampaikan perencana keuangan Kelly Long dalam tulisannya berjudul Rahasia Keuangan Tidak Memiliki Tempat Dalam Sebuah Pernikahan.
Kalimat ini menegaskan bahwa keterbukaan finansial merupakan bentuk kejujuran yang krusial sejak awal hubungan. Faktanya, masalah keuangan kerap menjadi salah satu pemicu utama konflik hingga perceraian.
Kebiasaan belanja, utang tersembunyi, hingga perbedaan gaya hidup dapat menimbulkan ketegangan bila tidak dibicarakan secara terbuka sebelum menikah. Oleh karena itu, penting bagi calon pasutri, termasuk Bunda dan Ayah, untuk merefleksikan kembali, sudahkah diskusi keuangan dilakukan secara jujur sebelum melangkah ke jenjang pernikahan?
Alasan pentingnya bicara keuangan sebelum menikah
Mengutip Times of India, berikut lima alasan penting membicarakan keuangan sebelum menikah.
1. Jadi pondasi kuat untuk pernikahan yang langgeng dan harmonis
Diskusi keuangan sebelum menikah bukan sekadar membahas jumlah penghasilan atau tabungan, melainkan menjadi sarana untuk memahami visi hidup pasangan. Pilihan gaya hidup, prioritas masa depan, serta cara memandang stabilitas finansial akan sangat memengaruhi kebahagiaan rumah tangga.
Dengan dialog terbuka sejak awal, Bunda dapat menyusun tujuan keuangan bersama, mulai dari membeli rumah, merencanakan investasi, hingga mempersiapkan dana darurat. Pembicaraan ini menjadi pondasi penting agar pernikahan tidak goyah saat menghadapi tantangan ekonomi di kemudian hari.
2. Mengukur kecocokan finansial berdua
Kecocokan finansial sering kali luput dari perhatian padahal menjadi sumber konflik yang besar dalam pernikahan. Perbedaan kebiasaan mengatur uang, cara membelanjakan penghasilan, hingga sikap terhadap menabung dan investasi perlu diketahui sejak awal.
Dengan mengetahui pendapatan dan pengeluaran masing-masing, pasangan dapat menilai apakah berada pada frekuensi yang sama dalam mengelola keuangan atau tidak? Transparansi membantu menciptakan perencanaan finansial yang realistis dan saling disepakati sehingga mengurangi potensi pertengkaran di masa depan.
3. Menyelaraskan tujuan keuangan bersama
Setiap orang memiliki tujuan keuangan pribadi. Namun dalam pernikahan, tujuan tersebut perlu diselaraskan.
Apakah ingin fokus menabung, berinvestasi, membuka usaha, atau mempersiapkan dana pendidikan anak? Semua perlu dibicarakan secara terbuka.
Pernikahan yang stabil membutuhkan pengelolaan keuangan yang matang, mulai dari pengaturan anggaran, pengeluaran rutin, hingga perencanaan jangka panjang. Dengan menyamakan tujuan sejak awal, pasangan dapat melangkah bersama dengan arah yang jelas dan terukur.
4. Jujur soal utang
Membuka diri mengenai utang sebelum menikah merupakan langkah yang sangat penting. Tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, pinjaman pendidikan, atau kewajiban finansial lainnya harus disampaikan dengan jujur kepada pasangan.
Menyembunyikan utang hanya akan menjadi bom waktu dalam pernikahan. Kejujuran sejak awal memungkinkan pasangan menyusun strategi bersama untuk menyelesaikan kewajiban finansial yang ada sekaligus mencegah rasa tidak percaya yang dapat merusak hubungan.
5. Mengatur ekspektasi dan sistem keuangan dalam rumah tangga
Setiap orang memiliki kebiasaan dan prioritas belanja yang berbeda. Jika satu pihak cenderung hemat sementara yang lain gemar berbelanja, perbedaan ini perlu dibicarakan agar tidak memicu konflik berkepanjangan.
Diskusi keuangan juga mencakup keputusan penting, seperti penggunaan rekening bersama atau terpisah. Memiliki rekening terpisah dinilai dapat mengurangi kesalahpahaman dan menjaga kemandirian finansial masing-masing.
Sementara rekening bersama bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Keputusan ini sebaiknya diambil berdasarkan kesepakatan bersama dan pemahaman terhadap pola keuangan pasangan.
Selain itu, perencanaan keuangan keluarga juga menuntut pengelolaan keuangan yang terstruktur. Bunda bisa mengaturnya mulai dari biaya pendidikan anak, kesehatan, kebutuhan rumah tangga, hingga rencana liburan keluarga, semuanya membutuhkan perencanaan yang matang.
Ketidakjelasan dalam urusan finansial kerap menjadi penyebab kegagalan pernikahan. Jadi, Bunda dan Ayah, pernahkah diskusi keuangan dilakukan sebelum menikah? Jika belum, tak ada kata terlambat untuk memulainya sekarang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)