Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

8 Tanda Orang Sembunyikan Perasaan Luka di Balik Kata 'Aku Baik-Baik Saja' Menurut Psikolog

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Sabtu, 17 Jan 2026 13:10 WIB

Two cheerful young Asian college students are enjoying coffee while reading together in a minimalist coffee shop. people, lifestyles, university life, leisure
Ilustrasi tanda orang sembunyikan perasaan luka di balik kata 'aku baik-baik saja' menurut psikolog / Foto: Getty Images/BongkarnThanyakij
Daftar Isi

Bunda, banyak orang terbiasa menjawab “Aku baik-baik saja” meski hatinya sedang tidak baik. Di balik kalimat sederhana itu, sering tersembunyi tanda orang yang sedang memendam luka emosional.

Para psikolog, yang dilansir dari laman Parade, menyebutkan bahwa kebiasaan menutupi perasaan bukanlah hal biasa saja. Ada tanda orang yang terlihat kuat di luar, tetapi rapuh di dalam tanpa disadari.

Tidak semua luka dapat dilihat dari raut wajah atau cara bicara. Justru tanda orang yang menyimpan kesedihan sering muncul lewat sikap sehari-hari yang tampak biasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


8 Tanda orang yang menyembunyikan perasaan luka di balik kata ‘Aku baik-baik saja’ menurut psikolog

Bunda perlu tahu bahwa kebiasaan menyembunyikan perasaan luka dapat berdampak pada kesehatan mental seseorang. Melalui rangkuman yang dilansir dari situs Parade, Bubun akan membahas 8 tanda orang yang menyembunyikan perasaan luka di balik ucapan “aku baik-baik saja” menurut psikolog.

1. Menghindari konflik

Menghindari konflik menjadi salah satu tanda orang yang menyembunyikan perasaan luka di balik kata “Aku baik-baik saja”. Ucapan tersebut kerap digunakan untuk menjaga suasana tetap damai saat obrolan mulai memanas.

Psikolog klinis, Dr. Nicole Lipkin, PsyD, MBA, menjelaskan alasan di balik sikap tersebut. Menurutnya, mengakui rasa kesal sering terasa seperti membuka pintu pertengkaran. Dengan demikian kalimat “Aku baik-baik saja” dijadikan tameng untuk melindungi diri.

“Mengakui bahwa mereka kesal terasa seperti membuka pintu menuju pertengkaran, jadi ‘aku baik-baik saja’ menjadi tamengnya,” ujar Dr. Lipkin yang dikutip dari Parade.

Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Golee Abrishami, PhD, psikolog. Ia menambahkan bahwa mengatakan sesuatu yang lebih jujur ​​daripada "Aku baik-baik saja" dapat membuat orang merasa seperti mereka mengganggu orang lain.

“Menjaga perdamaian dan menghindari percakapan yang tidak nyaman mungkin menjadi prioritas bagi orang tersebut,” kata Dr. Abrishami.

Oleh karena itu, menjaga perdamaian sering menjadi prioritas utama bagi mereka. Sikap ini merupakan tanda orang yang memilih diam demi menghindari percakapan yang dianggap tidak nyaman

2. Perfeksionis

Salah satu tanda orang yang menyembunyikan luka batin adalah sifat perfeksionis yang berlebihan. Mereka ingin selalu terlihat baik-baik saja dan merasa sangat tidak nyaman saat melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan.

Dr. Lipkin menjelaskan bahwa ketika identitas diri terlalu terikat pada kesempurnaan, mengakui perasaan tidak baik terasa seperti kegagalan. Hal ini yang membuat orang yang menyimpan perasaan luka tersebut terlihat sangat perfeksionis. 

“Ketika identitas Anda terkait erat dengan penampilan yang sempurna, mengatakan 'Aku tidak baik-baik saja' terasa seperti kegagalan,” katanya.

Bagi orang dengan kecenderungan sifat ini, kesalahan kecil pun terasa sangat berat. Demi menjaga citra diri yang ideal, mereka memilih menutupi perasaan sebenarnya dan terus mengatakan semuanya baik-baik saja.

“Jadi Anda terus tersenyum dan bersikeras bahwa semuanya baik-baik saja,” lanjutnya.

3. Kewaspadaan

Sikap kewaspadaan berlebihan juga menjadi tanda orang yang berusaha melindungi diri dari rasa sakit emosional. Mereka cenderung membangun tembok pertahanan agar tidak terlihat rapuh di hadapan orang lain.

Menurut Dr. Abrishami, “Aku baik-baik saja” kerap digunakan untuk menghindari percakapan yang lebih dalam. Kalimat ini menjadi cara aman agar mereka tidak perlu membuka perasaan yang belum siap diungkapkan.

“Mengatakan 'Aku baik-baik saja' mencegah mereka melakukan percakapan yang lebih mendalam yang mungkin belum siap mereka lakukan,” ucapnya.

Rasa waspada tersebut biasanya muncul dari ketakutan akan penilaian atau pengalaman buruk sebelumnya. Inilah tanda orang yang terbiasa memendam luka dan memilih menghadapinya seorang diri.

4. Menghargai atau bangga akan kemandirian

Tanda lainnya bagi orang yang menyembunyikan perasaan luka adalah terlalu menjunjung tinggi kemandirian atau bangga mengandalkan diri sendiri. Mereka merasa berbagi perasaan sama saja dengan meminta bantuan, sesuatu yang ingin dihindari.

Menurut psikolog Dr. Abrishami, tipe ini cenderung ingin menangani semua masalah sendirian tanpa melibatkan orang lain. Ungkapan “Aku baik-baik saja” sering menjadi tanda orang yang percaya bahwa dirinya mampu menghadapi segalanya sendiri.

“Mereka mungkin hanya merasa bangga karena mampu menangani semuanya sendiri,” tuturnya.

Sikap mandiri memang terlihat kuat di luar, tetapi bisa menutupi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Inilah tanda orang yang tampak tegar, namun sebenarnya sedang menahan luka di dalam hati.

5. Penekanan emosi

Salah satu tanda orang yang menyembunyikan luka batin adalah kebiasaan menekan emosi. Mereka cenderung memendam perasaan daripada merasakannya atau membagikannya kepada orang lain.

Psikolog Dr. Lipkin menjelaskan bahwa sikap ini terbentuk karena mereka belajar sejak awal bahwa menunjukkan emosi tidaklah aman. Seiring waktu, menyingkirkan perasaan dianggap lebih aman dibandingkan memperlihatkan kerentanan.

“Seiring waktu, mereka belajar bahwa lebih aman untuk mengesampingkan perasaan daripada mengambil risiko menunjukkan kerentanan,” ungkapnya.

Tanda orang dengan penekanan emosi sering berasal dari pengalaman masa kecil yang kurang mendapat perhatian. Tumbuh dengan orang tua yang tidak tersedia secara emosional membuat mereka terbiasa mengabaikan perasaannya sendiri.

6. Menjadi serigala penyendiri

Tanda lainnya yang menunjukkan bahwa orang tersebut menyembunyikan perasaan luka adalah kecenderungan menjadi serigala penyendiri. Mereka memilih memikul semuanya sendiri agar tidak merepotkan orang lain atau terlihat lemah.

Sikap ini sering berujung pada rasa kesepian yang mendalam meski tampak mandiri. Menurut Dr. Lipkin, ada orang yang sejak awal belajar hanya mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi masalah.

“Ada orang-orang yang telah belajar untuk hanya mengandalkan diri sendiri,” katanya.

Ucapan “Aku baik-baik saja” menjadi tameng untuk menjaga citra kuat dan terkendali. Padahal, orang dengan sikap seperti ini justru sedang berjuang keras menahan luka di dalam dirinya.

“Mengatakan 'Aku baik-baik saja' mempertahankan citra kekuatan dan kendali, meskipun di dalam hati mereka hancur berantakan,” sambungnya.

7. Merasa kewalahan secara emosional 

Merasa kewalahan secara emosional menjadi salah satu tanda orang yang menyembunyikan luka batin. Dalam kondisi ini, mengatakan “Aku baik-baik saja” terasa lebih mudah dibandingkan menjelaskan perasaan yang sedang bercampur aduk.

Psikolog Dr. Abrishami menjelaskan bahwa emosi yang terlalu besar sering kali sulit diproses saat itu juga. Akibatnya, orang yang kewalahan emosional terlihat dari kebiasaan meremehkan perasaan dengan kalimat singkat.

“Mereka mungkin kewalahan secara emosional, dan perasaan itu terlalu besar untuk diproses saat itu juga. Jadi mereka meremehkannya dengan sebuah kalimat sederhana,” ujarnya.

Kebiasaan memendam emosi memang terasa membantu dalam jangka pendek. Namun, orang yang terus merasa kewalahan justru berisiko mengalami tekanan emosional yang lebih dalam jika dibiarkan berlarut-larut.

8. Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Selalu berusaha menyenangkan orang lain bisa menjadi tanda orang yang menyembunyikan perasaan luka. Mereka kerap mengesampingkan emosi sendiri demi menjaga suasana tetap nyaman.

Menurut Dr. Lipkin, orang dengan kecenderungan menyenangkan orang lain lebih memikirkan perasaan orang lain dibanding kejujuran emosinya sendiri. Orang tersebut justru takut akan membebani orang lain jika mengakui kesulitannya. 

“Mereka lebih mengkhawatirkan kenyamanan orang lain daripada mengatakan yang sebenarnya. Jika mereka mengakui kesulitan yang mereka alami, mereka takut hal itu akan membebani orang lain,” ucapnya.

Delapan tanda orang di atas menunjukkan bahwa ucapan “Aku baik-baik saja” sering kali menyimpan luka emosional yang tidak terlihat. Dengan memahami tanda orang tersebut, Bunda dapat belajar lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang terdekat agar dukungan emosional dapat diberikan dengan tepat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda