MOM'S LIFE
Kasus Virus Nipah Meningkat, Apakah Berpotensi Menjadi Pandemi?
Amira Salsabila | HaiBunda
Jumat, 06 Feb 2026 12:40 WIBWabah virus Nipah yang sangat mematikan di Benggala Barat, India bagian timur, telah memicu perhatian luas dan kekhawatiran publik secara global.
Sebanyak lima orang di Benggala Barat kini dinyatakan positif terinfeksi virus Nipah. Dua kasus sebelumnya telah dikonfirmasi sejak Desember.
Penyakit ini dilaporkan terjadi pada petugas kesehatan. Kementerian Kesehatan India mengungkap sebanyak 196 orang yang melakukan kontak dengan mereka, telah dilacak dan dinyatakan negatif.
Virus Nipah termasuk dalam keluarga yang sama dengan campak dan sangat menular. Laporan setempat menyebutkan bahwa hampir 100 orang, yang semuanya telah melakukan kontak dengan pasien telah dikarantina dan berada di bawah pengawasan.
Apakah berpotensi menjadi pandemi?
Menurut Outbreak News Today, Ahli mikrobiologi sekaligus dokter, Robert Herriman, mengatakan virus ini menyerang otak, dapat menyebar dari manusia ke manusia, dan memiliki tingkat kematian setinggi 75 persen.
Dari mereka yang selamat, sekitar 20 persen mengalamai kondisi neurologis jangka panjang, termasuk perubahan kepribadian atau gangguan kejang.
Sebagai perbandingan, perkiraan menunjukkan tingkat kematian akibat COVID-19 hanya sedikit di atas satu persen.
Menanggapi kasus-kasus tersebut, beberapa negara bagian di India telah mengarahkan otoritas kesehatan mereka untuk memperkuat pengawasan terhadap Acute Encephalitis Syndrome (AES), istilah umum untuk peradangan otak yang disebabkan oleh infeksi Nipah.
“Orang-orang yang dirawat karena AES, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan atau kontak yang terkait dengan Benggala Barat, harus dipantau dan dievaluasi secara cermat untuk kemungkinan infeksi virus Nipah,” ujarnya.
Para ilmuwan sebelumnya mengatakan Nipah benar-benar bisa menjadi penyebab pandemi baru, Bunda.
Ketua Universitas Kentucy dan pemimpin dunia dalam studi virus, Dr. Rebecca Dutch, mengatakan wabah Nipah terjadi secara berkala dan sangat mungkin akan melihat lebih banyak lagi.
“Nipah adalah salah satu virus yang benar-benar bisa menjadi penyebab pandemi baru. Beberapa hal tentang Nipah sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya, dikutip dari laman The Sun.
India telah mengalami beberapa wabah Nipah sejak virus tersebut pertama kali terdeteksi di sana pada 2001, wabah paling mematikan terjadi di Benggala Bart, di mana 45 dari 66 orang yang terinfeksi meninggal dunia.
Wabah lainnya telah dilaporkan di Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Para ahli meyakini bahwa peningkatan kasus terjadi karena hewan hidup lebih dekat dengan manusia akibat hilangnya habitat mereka.
Manusia juga dapat tertular penyakit ini dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urine atau air liur hewan yang terinfeksi, atau melalui kontak dekat dengan orang yang sudah mengidapnya, tetapi cara penularan ini lebih jarang terjadi.
Gejala virus Nipah
Dilansir dari laman Cleveland Clinic, virus Nipah menyebar antara hewan dan manusia. Ini menular terutama melalui kelelawar buah, tetapi juga dapat ditularkan dari babi dan hewan lain seperti kambing, anjing, kucing, atau kuda.
Cara terbaik untuk menghindari virus Nipah yaitu dengan menghindari paparan hewan yang sakit (terutama kelelawar dan babi) di daerah dengan penularan yang diketahui.
Virus Nipah dapat menyebabkan gejala ringan hingga berat, termasuk infeksi otak dan kematian. Belum ada obat atau vaksin untuk mengatasinya, mengelola gejala adalah satu-satunya cara yang dapat dilakukan.
Gejala awal virus Nipah yang umum meliputi:
- Demam
- Sakit kepala
- Sulit bernapas
- Batuk atau sakit tenggorokan
- Diare
- Muntah
- Nyeri otot dan merasa lemah yang ekstrem
Gejala biasanya mulai muncul dalam waktu empat hingga 14 hari setelah terpapar virus. Umumnya, demam atau sakit kepala akan muncul lebih dahulu, kemudian diikuti masalah pernapasan seperti batuk dan sulit bernapas.
Cara mencegah terinfeksi virus Nipah
Jika tinggal atau bepergian ke daerah yang rentan terjadi virus Nipah, Bunda harus mengambil tindakan pencegahan berikut untuk menghindari penularan:
- Sering mencuci tangan.
- Hindari kontak dengan hewan babi atau kelelawar yang sakit
- Bersihkan atau disinfeksi peternakan babi. Hewan yang terinfeksi virus harus dikarantina.
- Hindari pohon atau semak-semak tempat kelelawar istirahat atau tidur.
- Hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang mungkin terkontaminasi.
- Buang buah apa pun yang terdapat bekas gigitan kelelawar atau buah yang menyentuh tanah.
- Hindari kontak dengan air liur, darah, atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi.
Nah, itulah beberapa hal yang dapat Bunda ketahui terkait kasus virus Nipah yang belakangan ini tengah menjadi perhatian. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)