HaiBunda

MOM'S LIFE

11 Kebiasaan yang Terbentuk karena Pernah Hidup Kekurangan

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Jumat, 06 Feb 2026 13:40 WIB
Ilustrasi kebiasaan yang terbentuk karena pernah hidup kekurangan / Foto: Getty Images/AntonioGuillem

Tidak semua pengalaman masa kecil terasa ringan untuk dikenang, terutama bagi mereka yang tumbuh dalam kondisi serba terbatas. Hidup kekurangan bukan sekadar soal tidak punya cukup uang, tetapi juga tentang rasa cemas, malu, dan bertahan hidup yang perlahan membentuk kebiasaan hingga dewasa.

Tanpa disadari, pengalaman ini meninggalkan jejak kuat dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan sehari-hari. Bunda mungkin mengenal seseorang atau bahkan diri sendiri yang mengalami kebiasaan sangat hemat, sulit menerima bantuan, atau selalu khawatir soal masa depan meski kondisi ekonomi sudah membaik.

Melansir dari laman Your Tango, orang yang tumbuh tanpa kecukupan finansial kerap memiliki pola pengalaman serupa yang membentuk scarcity mindset atau pola pikir yang langka. Lalu, kebiasaan apa saja yang biasanya muncul akibat pengalaman tersebut? Yuk, penjelasannya di bawah ini.


11 Kebiasaan yang terbentuk karena pernah hidup kekurangan

Para peneliti dan pengamat sosial menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan serba kekurangan memiliki pola pikir langka, seperti.

1. Terbiasa memakai baju warisan atau bekas

Mengutip dari studi Urban Institute, hampir 40 persen keluarga mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sehingga membeli pakaian baru bukanlah prioritas. 

Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, orang tua biasanya mengandalkan pakaian turunan dari kakak atau barang bekas untuk anak-anaknya.

Bagi mereka yang tumbuh dalam kekurangan, menunggu giliran memakai baju kakak atau merasa iri melihat teman mengenakan pakaian baru menjadi pengalaman yang cukup membekas. Pilihan tersebut bukanlah soal keinginan, melainkan keterpaksaan.

2. Merasa malu saat harus berjalan kaki ketika orang lain berkendara

Anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas kerap terbiasa berjalan kaki ke sekolah atau tempat lain karena keterbatasan akses transportasi. Tekanan ini semakin terasa di lingkungan yang didominasi kendaraan pribadi, sehingga berjalan kaki sering dianggap sebagai tanda keterbatasan ekonomi.

Penelitian dari Safe Routes menunjukkan bahwa kawasan berpenghasilan rendah umumnya minim trotoar dan jalur pejalan kaki yang aman. Pengalaman tersebut membuat rasa malu dan minder saat berjalan kaki terbawa hingga dewasa, meski kondisi finansial sudah membaik.

3. Enggan mengajak teman datang ke rumah

Mengutip dari berbagai penelitian sosiologi, anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas sering memendam rasa malu terhadap lingkungan rumahnya. Tekanan standar sosial dan keterbatasan finansial membuat mereka merasa rumah bukan tempat yang layak untuk dikunjungi teman.

Perasaan ini sering muncul karena kondisi rumah yang sederhana, sempit, atau penuh barang hasil menabung dan menyimpan, yang menurut studi di Anthropological Quarterly berkaitan dengan scarcity mindset atau pola pikir kekurangan.

4. Pola makan tidak seimbang hingga dewasa

Pengalaman tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan hingga dewasa.

Penelitian dalam jurnal Appetite menunjukkan bahwa anak-anak yang besar dalam kondisi serba kekurangan berisiko lebih tinggi mengalami masalah pola makan, termasuk makan berlebihan, saat dewasa.

5. Sangat hafal harga bahan makanan

Orang yang pernah tumbuh dalam kondisi kekurangan umumnya memiliki kepekaan tinggi terhadap harga bahan makanan. Pengalaman menghadapi keterbatasan pangan dan anggaran sejak kecil membuat mereka terbiasa menghitung setiap pengeluaran rumah tangga, mulai dari harga susu, telur, hingga kebutuhan mingguan.

Kebiasaan ini terbentuk karena dahulu mereka sering menyaksikan orang tua mengatur uang dengan sangat ketat, bahkan harus memastikan uang pas saat berbelanja.

Meski kini kondisi ekonomi mungkin lebih stabil, ingatan akan sulitnya memenuhi kebutuhan pokok membuat mereka tetap sigap dan sadar betul terhadap kenaikan harga pangan yang terus terjadi.

6. Lebih memilih memperbaiki sendiri daripada memanggil jasa profesional

Kebiasaan yang terbentuk karena pernah hidup kekurangan berikutnya adalah terbiasa memperbaiki sendiri saat menghadapi barang yang rusak, alih-alih langsung memanggil jasa profesional.

Hingga dewasa, pola ini sering tetap melekat, mulai dari mencoba membenahi jendela yang rusak, peralatan rumah tangga yang bermasalah, hingga bagian rumah yang lepas.

7. Terbiasa menyimpan saus, alat makan sekali pakai, dan barang gratis

Terbiasa menyimpan saus, alat makan sekali pakai, dan barang gratis juga menjadi tanda kebiasaan karena pernah hidup kekurangan. Kebiasaan ini berakar karena harus berhemat dan memanfaatkan barang gratis untuk meringankan pengeluaran rumah tangga. 

8. Merasa tidak enak atau bersalah saat ditraktir atau diberi uang

Melansir buku Poverty and Shame: Global Experiences, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga miskin sering hidup dalam suasana penuh kecemasan soal uang. 

Kondisi ini membuat mereka terbiasa merasa harus selalu mandiri dan menahan diri, sehingga saat dewasa muncul rasa bersalah ketika menerima traktiran, hadiah, atau bantuan finansial dari orang lain.

9. Terbiasa hanya membeli barang saat diskon

Seseorang yang pernah hidup dalam kekurangan biasanya menunggu harga turun sebelum membeli sesuatu. Penelitian dari Journal of Consumer Affairs menunjukkan bahwa keluarga berpenghasilan rendah sering mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi demi memenuhi kebutuhan dasar, sehingga anggaran belanja menjadi sangat ketat.

Kebiasaan membeli saat promo ini mungkin terasa menyebalkan saat kecil, tetapi terbawa hingga dewasa dan justru membentuk pola belanja yang sangat hati-hati.

10. Terbiasa tinggal di rumah sendiri sejak usia dini

Keterbatasan dalam biaya membuat banyak anak dari keluarga kurang mampu harus menjaga diri sendiri tanpa pengasuh. Karena orang tua bekerja dalam waktu yang lama, sehingga anak-anak ini belajar memasak, menjaga adik, hingga mengurus kebutuhan harian sejak usia muda.

Pengalaman ini membuat mereka "dewasa sebelum waktunya", karena sejak kecil sudah terbiasa memikirkan keamanan, makanan, dan kondisi keuangan keluarga.

11. Liburan sederhana di dekat rumah sebagai pilihan utama

Mengutip dari data SquareMouth, biaya liburan yang terus meningkat membuat perjalanan jauh nyaris mustahil bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Oleh karena itu, anak-anak yang tumbuh dalam kondisi kekurangan lebih akrab dengan konsep staycation, seperti menginap di hotel dekat rumah atau sekadar menghabiskan akhir pekan bersama keluarga tanpa bepergian jauh.

Itulah Bunda 11 kebiasaan yang terbentuk karena pernah hidup kekurangan, yang tanpa disadari membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertahan hingga dewasa.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Kebiasaan Orang Kurang Menarik yang Terbentuk Sejak Kecil

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ini Zodiak dengan Kecerdasan Teratas Menurut Astrolog

Mom's Life Natasha Ardiah

Kisah Dokter Surabaya Bantu Persalinan di Mobil saat Kerja Sampingan Jadi Driver Online

Kehamilan Annisa Karnesyia

Kemenhut Cabut Izin Pengelola Bandung Zoo, Bagaimana Nasib Satwa?

Mom's Life Amira Salsabila

11 Kebiasaan yang Terbentuk karena Pernah Hidup Kekurangan

Mom's Life Azhar Hanifah

Kenali Karakter Anak Gen Beta Lahir Tahun 2025 & Cara Mendidik

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Tips Sukses dalam Karier di 2026, Agar Semakin Cemerlang

5 Resep Olahan Buah Naga untuk Bayi 6 Bulan, Cocok Buat Menu Selingan

Kisah Dokter Surabaya Bantu Persalinan di Mobil saat Kerja Sampingan Jadi Driver Online

Ini Zodiak dengan Kecerdasan Teratas Menurut Astrolog

Kenali Karakter Anak Gen Beta Lahir Tahun 2025 & Cara Mendidik

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK