moms-life
Berkaca dari Kisah Boiyen, Mengapa Awal Pernikahan Rawan Konflik?
HaiBunda
Minggu, 08 Feb 2026 17:00 WIB
Daftar Isi
Baru dua bulan menikah, komedian Boiyen sudah gugat cerai suami. Mengapa ya awal pernikahan rawan konflik hingga sebabkan perceraian? Mari bahas yuk, Bunda.
Awal pernikahan sering dipandang sebagai fase paling membahagiakan dalam kehidupan pasangan pengantin baru. Momen bulan madu, harapan membangun rumah tangga harmonis, hingga rencana masa depan sering menjadi gambaran indah yang melekat di benak pasangan baru menikah.
Di balik kebahagiaan tersebut, fase awal pernikahan ternyata juga menjadi periode yang rentan memicu konflik. Berkaca dari kisah komedian Yeni Rahmawati atau Boiyen yang mengajukan gugatan cerai hanya dua bulan setelah menikah, Bunda kembali diingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan cinta, melainkan menyatukan dua orang dengan karakter, kebiasaan, dan prinsip hidup berbeda.
Konflik yang muncul pada masa awal pernikahan bahkan sering kali menjadi penentu keberlangsungan hubungan dalam jangka panjang. Yuk bahas mengenai fase awal pernikahan yang rawan konflik hingga bisa menghancurkan hubungan jika tidak dipahami sejak dini.
Kisah Boiyen yang Cerai Setelah 2 Bulan Nikah
Mengutip detikcom, Boiyen diketahui menggugat cerai suaminya setelah dua bulan menikah. Motif gugatan cerai Boiyen terhadap suaminya, Rully Anggi Akbar, terungkap melalui kuasa hukumnya, Anselmus Mallofiks.
Anselmus menjelaskan bahwa perceraian tersebut berakar pada persoalan prinsip dalam menjalani kehidupan rumah tangga, khususnya terkait komunikasi pasangan. Menurut Anselmus, kliennya menginginkan hubungan pernikahan yang dilandasi komunikasi terbuka dan lancar.
Harapan tersebut tidak berjalan sesuai kenyataan setelah keduanya resmi menjadi suami-istri. Hambatan komunikasi justru mulai muncul dan semakin meruncing setelah pernikahan berlangsung.
Boiyen dan Rully menikah pada 15 November 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan. Namun pada Januari 2026, Boiyen melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Tigaraksa.
Perceraian itu juga beriringan dengan munculnya laporan polisi terhadap Rully terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana investasi.
Tahun pertama pernikahan, masa penyesuaian yang krusial
Mengutip Verywell Mind, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tahun pertama pernikahan merupakan periode yang sangat penting dalam menentukan masa depan hubungan. Pada fase ini, pasangan mengalami banyak perubahan besar, mulai dari peran sebagai suami atau istri, tanggung jawab finansial, hingga pengelolaan kehidupan sehari-hari.
Penelitian yang dilakukan Ted Huston dari University of Texas pada 2009 mengungkap bahwa penurunan rasa cinta, afeksi, serta meningkatnya ambivalensi dalam dua tahun pertama pernikahan bisa menjadi indikator perceraian. Studi tersebut juga menemukan bahwa pasangan yang bercerai dalam dua tahun pertama menikah biasanya menunjukkan tanda-tanda kekecewaan sejak dua bulan pertama pernikahan.
Sebaliknya, pasangan yang mampu mempertahankan perasaan positif terhadap pasangannya pada awal pernikahan cenderung memiliki hubungan yang lebih langgeng dan harmonis.
Penyebab awal pernikahan rawan konflik
Berikut penyebab awal pernikahan bisa menjadi rawan konflik bagi pasangan suami istri.
Ekspektasi yang tidak realistis
Salah satu penyebab utama konflik pada awal pernikahan adalah ekspektasi yang terlalu tinggi atau tidak realistis. Banyak pasangan membayangkan pernikahan sebagai kelanjutan kisah romantis tanpa menyadari adanya tanggung jawab besar yang harus dihadapi bersama.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasangan yang meyakini kebahagiaan mereka akan terus meningkat selama beberapa tahun pertama justru berisiko mengalami penurunan kepuasan pernikahan. Hal ini biasanya terjadi ketika realitas kehidupan rumah tangga tidak sesuai dengan bayangan awal.
Penyesuaian yang sering memicu konflik diawal pernikahan meliputi hal-hal kecil, seperti kebiasaan sehari-hari, perbedaan prioritas, pembagian peran dalam hubungan, hingga kehidupan seksual. Hal-hal tersebut sering dianggap sepele, tapi dapat berkembang menjadi persoalan serius jika tidak diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Perubahan peran dan tanggung jawab
Memasuki kehidupan pernikahan berarti Bunda dan suami harus menjalani peran baru yang membawa tanggung jawab lebih besar. Selain menyesuaikan diri dengan pasangan, Bunda juga harus mengelola urusan rumah tangga, keuangan, hingga hubungan dengan keluarga besar.
Masalah finansial sering menjadi sumber konflik utama dalam pernikahan. Pasangan perlu menentukan apakah keuangan akan dikelola bersama atau terpisah serta bagaimana mengatur pengeluaran secara transparan. Ketidakjujuran dalam urusan keuangan dapat memperbesar potensi konflik.
Selain itu, pembagian tugas rumah tangga juga menjadi faktor penting. Ketidakseimbangan dalam tanggung jawab domestik dapat memicu ketegangan, terutama jika salah satu pihak merasa terbebani.
Tanda pasangan 'bermasalah' di awal pernikahan
Beberapa tanda peringatan yang sering muncul dalam fase awal pernikahan kalau pasangan 'bermasalah', antara lain tidak mampu menyelesaikan konflik, kurangnya rasa hormat, minimnya keintiman, serta ketergantungan berlebihan pada keluarga atau pihak lain. Pernikahan yang dilakukan karena alasan keliru, seperti tekanan sosial atau usia juga berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari.
Selain itu, pasangan dengan tingkat kecemasan atau emosi yang tidak stabil cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan lebih rendah. Transisi menuju kehidupan pernikahan dan menjadi orangtua juga menjadi tantangan besar yang dapat meningkatkan risiko perceraian.
Cara mengatasi konflik setelah baru menikah
Kasus Boiyen memperlihatkan betapa pentingnya komunikasi dalam membangun rumah tangga. Para ahli menyarankan pasangan yang mengalami kesulitan di awal pernikahan untuk berdialog secara terbuka tanpa saling menyalahkan.
Komunikasi yang sehat dapat membantu pasangan memahami kebutuhan dan harapan masing-masing. Diskusi mengenai pembagian tugas, kehidupan seksual, pengelolaan keuangan, hingga batasan dengan keluarga besar perlu dilakukan sejak awal agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Selain itu, Bunda juga disarankan menjaga keintiman dengan meluangkan waktu berkualitas bersama pasangan. Menghargai pasangan melalui hal sederhana, seperti ucapan terima kasih dan menunjukkan apresiasi dapat memperkuat hubungan emosional.
Para pakar menekankan bahwa pernikahan merupakan proses penyesuaian yang membutuhkan waktu. Pasangan perlu bersabar dalam menghadapi perubahan peran dan tanggung jawab baru.
Penting untuk memahami bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya mengubah pasangan, tapi bisa menyesuaikan cara merespon situasi yang muncul. Jika konflik semakin sulit diselesaikan, Bunda bisa mempertimbangkan mengikuti konseling pernikahan atau kelas edukasi rumah tangga. Bantuan profesional dapat membantu pasangan menemukan solusi yang lebih objektif dan konstruktif.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
7 Tanda Kesepian dalam Pernikahan, Penyebab & Cara Mengatasinya
Mom's Life
Mengenal Arti Prioritas dalam Hubungan, Tanda Pasangan Melakukannya & Contohnya
Mom's Life
7 Tujuan Menikah dalam Islam yang Perlu Diketahui
Mom's Life
Tips dari Pakar untuk Pasutri Baru Agar Pernikahan Langgeng, Penting Bun!
Mom's Life
Wanita Ini Tak Rela Uang Seserahan Dibagi 2 Demi Pesta di Rumah Calon Suami
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Fitri Tropica Rayakan 10 Thn Menikah, Beri Suami Kejutan Pesta Resepsi 'Lagi'
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ciri Pasangan yang Saling Percaya, Sering Ucapkan 7 Kalimat Ini Menurut Psikolog Harvard
9 Jenis Pernikahan Terlarang dalam Islam
Cara Cek Status Pernikahan di SIMKAH Kementerian Agama