Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

11 Kalimat yang Sering Diucapkan oleh Orang Palsu Menurut Psikolog

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Senin, 16 Feb 2026 06:50 WIB

Two cheerful young Asian college students are enjoying coffee while reading together in a minimalist coffee shop. people, lifestyles, university life, leisure
Ilustrasi Kalimat yang Sering Diucapkan oleh Orang Palsu Menurut Psikolog / Foto: Getty Images/BongkarnThanyakij
Daftar Isi
Jakarta -

Tahukah Bunda? Meski banyak orang bersikap ramah dan mengaku sebagai teman, hanya sedikit yang benar-benar tulus. Salah satu cara mengenalinya adalah melalui kalimat-kalimat yang kerap diucapkan oleh orang palsu.

Menilai ketulusan seseorang bukan hal mudah, terutama saat ingin percaya bahwa orang terdekat memiliki niat baik. Kondisi ini sering menciptakan titik buta psikologis yang menutupi sifat asli mereka.

Padahal, kata-kata yang sering diucapkan oleh orang tidak jujur menyimpan isyarat halus yang dapat membantu Bunda menilai apakah sebuah hubungan dilandasi kejujuran.

11 Kalimat yang sering diucapkan oleh orang palsu

Untuk mengenalinya, berikut beberapa ungkapan yang mungkin sering disampaikan orang yang palsu:

1. “Tidak bermaksud menyinggung, tetapi…”

Dilansir dari laman Your Tango, orang palsu sering menggunakan kata “Maaf, tapi…” sebagai cara halus untuk menyampaikan komentar yang menyakitkan, menyamarkan kritik dengan kesopanan palsu.

Ungkapan ini dirancang sebagai cara halus untuk menyakiti seseorang. Mereka memberi sinyal adanya kesenjangan antara niat dan kata-kata sebenarnya. Ini adalah upaya yang tidak tulus untuk mengurangi dampak kritik yang akan diterima.

2. “Aku hanya jujur”

Mereka sering menggunakan ungkapan ini sebagai tameng untuk menutupi penilaian keras atau penghinaan dengan kedok ketulusan.

Orang yang palsu sering kali mengklaim kejujuran sebagai taktik defensif, melindungi diri dari segala penolakan yang akan mereka terima karena dianggap terlalu kasar dan menyakitkan.

3. “Percayalah, aku tidak pernah berbohong”

Ungkapan, “Percayalah, saya tidak pernah berbohong” adalah tanda bahaya, karena sering kali menandakan seseorang mencoba memanipulasi dan mendapatkan kepercayaan Bunda melalui tipu daya.

Mereka terlalu menekankan kejujuran agar Bunda lengah dan menceritakan hal-hal yang selama ini dirahasiakan.

Orang yang palsu mengatakan ini untuk memanipulasi Bunda. Ungkapan itu pada intinya menipu, dirancang untuk meyakinkan Bunda bahwa orang palsu itu bersikap tulus.

4. “Aku benci drama”

Mereka mengaku benci drama, tetapi terus-menerus menimbulkan konflik untuk menyembunyikan sifat aslinya. Mereka berkembang dalam kekacauan yang pura-pura mereka hindari.

Orang yang benar-benar tidak suka drama mengambil langkah untuk menjaga kehidupannya tetap tenang.

5. “Biasanya aku tidak mengatakan ini, tapi…”

Keterangan tambahan ini adalah cara licik yang digunakan orang-orang palsu untuk mengurangi dampak komentar menyakitkan mereka, sambil secara terselubung menunjukkan ketidakjujuran.

Menurut para ahli linguistik, kalimat ini disebut perfomartif atau kualifikasi. Ini relatif tidak berbahaya jika berdiri sendiri, tetapi jika merupakan bagian pertama dari pemikiran yang lebih panjang, kalimat ini akan mengungkap ketidakjujuran pembicara.

6. “Saya selalu benar”

Ungkapan ini adalah cara yang bagus untuk memberi tahu orang lain betapa tingginya seseorang menilai dirinya sendiri dan betapa sempitnya pikirannya.

Orang-orang yang menganggap dirinya selalu benar tidak dapat mendengar keyakinan yang berlawanan.

7. “Aku tidak seperti orang lain”

Ungkapan licik ini telah diucapkan berkali-kali, keluar dari orang palsu di seluruh dunia. Mereka mengucapkan ini untuk membuat Bunda merasa istimewa, seolah-olah mereka melihat Bunda di tengah keramaian dan langsung merasakan koneksi.

Ungkapan ini dimaksudkan untuk membangkitkan kepercayaan, tetapi sebenarnya merupakan pesan yang jelas untuk segera menjauh.

8. “Aku tidak bermaksud menyakitimu”

Orang yang palsu mengatakan kalimat ini, sering kali menghindari pertanggungjawaban, mengubah tindakan mereka menjadi masalah emosional.

Ini adalah cara hampa bagi orang palsu untuk berpura-pura berempati padahal sebenarnya mereka tidak peduli.

9. “Jangan terlalu memendam perasaan”

Mereka membuat pernyataan ini untuk merendahkan perasaan orang lain. Ini adalah cara lain bagi mereka untuk menghindari tanggung jawab dengan menyalahkan reaksi emosional lawan bicaranya.

10. “Aku tidak mengatakan itu”

“Aku tidak mengatakan itu” adalah taktik gaslighting klasik yang mendistorsi realitas dan membuat Bunda mempertanyakan persepsi tentang peristiwa tersebut.

Terapis Joanne Brothwell mendeskripsikan gaslighting sebagai bentuk manipulasi psikologis yang menabur benih keraguan dalam diri seseorang, menyebabkan mereka mempertanyakan ingatan, persepsi, dan kewarasannya.

Orang yang palsu menggunakan kalimat ini untuk menyangkal hal-hal yang telah mereka katakan di masa lalu.

11. “Hanya untuk berperan sebagai pembela”

Orang palsu menyembunyikan pikiran sempit mereka di balik ungkapan ini. Mereka membingkai keyakinan seolah-olah mereka mengambil pendekatan intelektual terhadap wacana terbuka ketika ingin memprovokasi lawan bicaranya.

Nah, itulah beberapa kalimat yang mungkin sering disampaikan oleh orang palsu. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda