moms-life
THR Datang, Ini Cara Membaginya Tanpa Rasa Bersalah: ke Keluarga atau Ortu Dahulu?
HaiBunda
Kamis, 05 Mar 2026 11:45 WIB
Daftar Isi
Menjelang Idul Fitri, pembagian THR kerap menjadi momen yang paling dinantikan sekaligus memunculkan dilema tersendiri. Sebab, masih banyak orang yang bingung bagaimana menentukan prioritas pembagian yang adil tanpa rasa bersalah.
Dilema tersebut bisa terjadi karena perbedaan antara value dan ekspektasi. Pendapat ini juga disampaikan oleh Psikolog Klinis, Alfath Hanifa Megawati, M.Psi.
Ia mengatakan ketika dua hal tersebut tidak selaras, maka muncul dilema atau perasaan bersalah. Beberapa dari mereka mungkin khawatir akan melakukan langkah yang salah, atau dituntut memilih padahal tidak mau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Value bagi manusia adalah tentang acuan, fondasi. Ekspektasi adalah harapan, goal yang ingin dicapai. Dalam kasus THR, biasanya value agama dan value ‘peran yang dianut’ berperan penting,” ungkap perempuan yang akrab disapa Ega kepada HaiBunda, Rabu (4/3/2026).
“Misalnya, di dalam agama, kita diajarkan untuk menjadi suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, tapi juga dituntut untuk berbakti kepada orang tua. Ketika di dalam keluarga value berbakti didefinisikan sebagai ‘pemberi nafkah’ kepada orang tua, maka kita/orang tua kita mungkin akan berekspektasi orang tua akan mendapat THR,” jelasnya.
Ketika kondisi ini tidak selaras dengan keadaan, maka akan menimbulkan dilema dalam diri seseorang.
“Iya, dilema erat kaitannya dengan perasaan bersalah. Ketika kita harus memilih sesuatu, kita mungkin akan merasa bersalah pada hal yang tidak kita pilih,” ungkap Ega.
Lantas, bagaimana cara mengelola perasaan bersalah tersebut saat melakukan pembagian THR? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Cara mengelola rasa bersalah saat membagi THR
Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang dapat Bunda atau suami lakukan jika merasa bersalah saat menentukan prioritas pembagian THR menurut psikolog:
1. Keputusan harus dibuat secara sadar
Ega menjelaskan bahwa setiap keputusan harus dipertimbangkan terlebih dahulu dengan melibatkan aspek prioritas dan urgensi.
“Sadar bahwa itu adalah keputusan yang win-win solution atau terbaik saat ini, dan sudah melewati proses diskusi dengan orang kita percaya,” sarannya.
2. Melakukan perilaku substitutif
Memberikan kompensasi untuk menambal sesuatu yang tidak bisa diberikan. Bunda bisa memberikan waktu, perhatian, dan effort sebagai pengganti materi yang ‘kurang’ diberikan.
3. Meminta maaf dan menjelaskan alasan keputusan
Menurut Ega, meinta maaf juga perlu diberikan kepada diri sendiri karena kekurangan yang kita miliki, Bunda.
“Kesadaran akan kekurangan ini bisa menjadi motivasi kita untuk melakukan upgrading untuk ke depannya, agar masalah serupa tidak terjadi di kemudian hari,” ungkap Ega.
Tips pembagian THR yang adil untuk keluarga dan orang tua
Financial Planner, Rista Zwestika CFP, menjelaskan bahwa THR termasuk pemasukan tambahan, bukan pendapatan rutin bulanan.
“Tapi kalau kita mau tidak bergantung dengan THR, maka anggaran untuk Lebaran atau yang bersifat tahunan bisa dianggarkan dari pendapatan per bulan, jadi ada atau tidaknya THR, maka pengeluaran untuk Lebaran atau tahunan itu bisa tetap dilakukan,” ungkap Rista.
Rista menyarankan Bunda menggunakan THR dengan bijak, tidak langsung dihabiskan untuk konsumsi, tetapi digunakan sebagai kesempatan untuk memperkuat kondisi keuangan.
“THR digunakan untuk beberapa hal penting, seperti memenuhi kebutuhan hari raya, berbagi dengan keluarga, menambah dana darurat atau tabungan, dan melunasi kewajiban yang tertunda,” ujar Rista.
Jika masih bingung bagaimana cara pembagiannya agar adil, ada urutan bagi-bagi THR yang dapat Bunda ikuti dari Rista. Berikut di antaranya:
Kewajiban terlebih dahulu: Misalnya, utang kecil yang tertunda, zakat, atau kewajiban lainnya.
- Kebutuhan keluarga inti: Seperti kebutuhan Lebaran, makanan, transportasi mudik, atau kebutuhan anak.
- Berbagi dengan orang tua dan keluarga: Memberi kepada orang tua atau keluarga bisa disesuaikan dengan kemampuan, tidak harus besar, yang terpenting konsisten dan tulus.
- Tabungan atau dana darurat: Sebagian THR sebaiknya tetap disisihkan agar tidak habis seluruhnya.
Rista mengatakan tidak ada rumus yang benar-benar mutlak untuk mengalokasikan THR, tetapi sebagai panduan praktis, Bunda bisa menggunakan pendekatan sederhana seperti berikut ini:
- 40 persen untuk kebutuhan Lebaran dan keluarga inti (Belanja kebutuhan hari raya, makanan, mudik, dan lain-lain)
- 20 persen untuk orang tua dan berbagi dengan keluarga, termasuk THR untuk saudara atau keponakan
- 20 persen untuk tabungan atau dana darurat
- 10 persen untuk zakat dan sedekah
- 10 persen untuk self reward atau kebutuhan pribadi
“Persentase ini fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing keluarga. Yang paling penting adalah tidak menggunakan seluruh THR hanya untuk konsumsi sesaat,” jelas Rista.
Nah, itulah cara pembagian THR dengan bijak dan tanpa merasa bersalah. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Perhitungan THR Karyawan Kontrak, Freelance, dan Pekerja yang Belum Setahun
Mom's Life
Kenapa THR Lebaran Identik dengan Uang Baru? Ada Fakta Menarik di Baliknya
Mom's Life
Cara Hitung THR Pekerja yang Belum Setahun
Mom's Life
Siapkan Dana untuk Mudik Lebaran 2023 dari Sekarang! Ikuti 3 Tips Berikut
Mom's Life
Syarat Menghabiskan Uang THR yang Bijak, Dahulukan Bayar Utang Bun
5 Foto
Mom's Life
Deretan Artis Jalani Umrah di Bulan Ramadhan 2026, Ada Beby Tsabina hingga Febby Rastanty
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Cara Menghasilkan Uang dari Ponsel Smartphone
Berapa Idealnya Investasi Emas? Ini Kata Pakar Keuangan
5 Alasan Pentingnya Bicara Keuangan Sebelum Menikah, Pernahkah Dilakukan oleh Bunda dan Ayah?