MOM'S LIFE
Mengenal Gerakan 'Antivax' yang Disebut Picu Lonjakan Campak di RI
Amira Salsabila | HaiBunda
Rabu, 18 Mar 2026 11:45 WIBBunda, gerakan ‘antivax’ atau penolakan terhadap vaksinasi menjadi salah satu faktor yang turut memicu meningkatkan kasus campak di Indonesia. Pandangan yang meragukan manfaat imunisasi membuat sebagian masyarakat tak ingin memberikan perlindungan kesehatan penting bagi anak.
Padahal, vaksinasi telah lama terbukti mampu mencegah penularan berbagai penyakit menular, termasuk campak.
Ketika cakupan imunisasi menurun, peluang penyebaran virus pun semakin besar sehingga risiko wabah di suatu wilayah ikut meningkat. Hal ini pun disoroti oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
IDAI soroti gerakan ‘antivax’ yang picu lonjakan campak di RI
Ketua IDAI cabang Jawa Barat, Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, mengungkap keprihatiannya terhadap kenaikan kasus campak di Indonesia yang mengkhawatirkan.
Ia menyebut ada kelompok aktivis antivaksin yang secara terang-terangan menolak imunisasi, bahkan menganggap remeh risiko penyakitnya.
“Sampai bahkan mengatakan aktivis-aktivis antivaksin mendingan anaknya kena campak, bahkan enggak apa-apa kena Polio (poliomyelitis),” ujar Anggi, dikutip dari laman detikcom, Selasa (10/3/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa campak bukan penyakit sepele. Hal ini karena komplikasinya dapat berdampak sangat serius, mulai dari kehilangan pendengaran (tuli), dehidrasi berat yang dapat menyebabkan kematian, mata kering (xerophthalmia) karena virus campak yang menggerus cadangan vitamin A tubuh, hingga masalah berat pada paru-paru seperti pneumonia.
Mengenal gerakan ‘antivax’
Sejumlah vaksin lain telah dikembangkan untuk melawan berbagai penyakit, mulai dari influenza hingga infeksi human papillomavirus yang menyebabkan kanker tertentu dan virus Sars-COV-2 penyebab COVID-19.
Dalam 50 tahun terakhir, diperkirakan 154 juta jiwa telah diselamatkan oleh vaksin, menurut sebuah studi terbaru.
Namun, penolakan terhadap vaksin, atau keraguan untuk menerimanya, tersebar luas dan meningkat di banyak bagian dunia, bahkan merambah ke cabang pemerintahan tertinggi yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Dilansir dari laman BBC, pada awal tahun 1800-an, serangkaian eksperimen terkontrol oleh Jenner dan dokter lainnya dengan cepat menunjukkan bahwa imunisasi sangat efektif, memberikan kekebalan terhadap cacar pada lebih dari 95 persen orang yang divaksinasi.
Otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia mengambil tindakan untuk menerapkannya. Di Inggris, serangkaian Undang-Undang Vaksinasi, yang disahkan pada tahun 1840, 1853, dan 1871, menjadikan imunisasi untuk anak-anak awalnya gratis, kemudian wajib.
Namun hampir seketika itu juga, tantangan lain muncul, sejumlah kelompok anti-vaksinasi bermunculan di seluruh negeri.
Mereka menerbitkan pamflet dengan judul-judul provokatif dan sesuai dengan gaya gotik Victoria, seperti vaksinasi, kutukan, dan kengerian vaksinasi, risalah antivaksinasi, buku, bahkan majalah, termasuk The Anti-Vaccinator (1869) dan The Vaccination Inquirer (1879).
Mengapa vaksin penting?
Dilansir dari NHS, vaksinasi adalah hal terpenting yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dan anak-anak dari penyakit. Vaksinasi mencegah jutaan kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.
Sejak vaksin diperkenalkan di Inggris, penyakit seperti cacar, polio, dan tetanus yang dahulunya membunuh atau melumpuhkan jutaan orang kini telah hilang atau sangat jarang terlihat.
Penyakit lain seperti campak dan difteri telah berkurang hingga jumlah kasus yang sangat rendah setiap tahun sejak vaksin diperkenalkan. Kasus-kasus ini sering kali terkait dengan perjalanan.
Nah, itulah penjelasan terkait gerakan ‘antivax’ yang memicu lonjakan campak di Indonesia. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Bisakah Sperma pada Laki-Laki Habis? Ini Faktanya, Bun
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Tanda Ajal Sudah Dekat Menurut Seorang Ahli Medis
4 Hal yang Harus Bunda Lakukan saat Kondom 'Bocor' Ketika Bercinta
Bunda Perlu Tahu, Ini 4 Jenis Minuman yang Ancam Kesehatan Ginjal
7 Alasan Mengapa Gula Tidak Baik Bagi Tubuh Bunda, Salah Satunya Memicu Depresi
TERPOPULER
Umumkan Kehamilan Anak Pertama, Adinda Thomas & Suami Pamer Foto Hasil USG
Bolehkah Orang Tua Menggunakan THR Anak? Ini Hukumnya dalam Islam
Sampai Kapan Anak yang Puasa Full Sampai Akhir Ramadhan Boleh Diberi Rewards? Ini Saran Psikolog
Potret BCL Masak Rendang 7 Kg hingga 6 Jam, Tradisi Tiap Tahun Jelang Lebaran
Denada Ungkap Rasa Bersalah kepada Sang Putra Ressa Rizky Rossano
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Cushion untuk Kulit Berminyak yang Bikin Make-up Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Obat Anti Mabuk Perjalanan untuk Anak agar Nyaman & Bebas Mual
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bakso Kemasan Enak dan Terjangkau, Daging Sapi Berkualitas!
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Vitamin Anak untuk Daya Tahan Tubuh Selama Libur Lebaran
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Android TV Box Terbaik & Terjangkau untuk Streaming dan Gaming 2026
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Mantan Pejabat WHO Kritik Selebgram yang Sebut TBC Bisa Dicegah dengan Obat Herbal
Bolehkah Orang Tua Menggunakan THR Anak? Ini Hukumnya dalam Islam
Di Balik Kemewahan Istana, Ini Kisah Kehidupan Tersembunyi Para Putri Kerajaan Arab
Umumkan Kehamilan Anak Pertama, Adinda Thomas & Suami Pamer Foto Hasil USG
Sampai Kapan Anak yang Puasa Full Sampai Akhir Ramadhan Boleh Diberi Rewards? Ini Saran Psikolog
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Video: Pilih Cerai, Agnes Jennifer Protes Foto sama Suami Dipakai Pemberitaan
-
Beautynesia
5 Ciri Kepribadian Orang yang Hobi Cat Rambut
-
Female Daily
Bisa Jadi Inspirasi Outfit Lebaran, Intip Gaya Para Seleb Bareng UNIQLO!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
40 Caption Lucu untuk Mudik yang Receh dan Bikin Ngakak
-
Mommies Daily
Saat Dunia Terlalu Berisik, Nyepi Mengajarkan Kita Cara Berhenti