parenting
Kasus Campak di Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia, Berujung Kematian akibat Tidak Vaksin
HaiBunda
Selasa, 03 Mar 2026 20:45 WIB
Daftar Isi
Belakangan ini, penyakit campak kembali jadi perhatian karena jumlah kasusnya terus meningkat. Bahkan, saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua di dunia, Bunda.
Belum lama ini, seorang anak bernama Aminatu Zahra yang masih berusia satu tahun meninggal dunia akibat campak. Sang Bunda yang bernama Umaya, menceritakan kondisi putrinya sebelum meninggal dunia. Ia menyebut sang anak sempat mendapatkan penanganan di rumah sakit.
"Sudah dibawa ke RSUD Sumekar dan sempat kejang, lalu tidak bisa membuka mata sampai akhirnya meninggal," tutur Bunda dari Aminatu Zahra, Umaya, dikutip dari akun Instagram @kemenkes_ri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia memaparkan kenaikan kasus campak di Indonesia terjadi setelah angka imunisasi sempat menurun. Beberapa daerah bahkan melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga campak kini jadi perhatian serius.
Pada tahun 2025 tercatat 63.769 kasus dengan 116 KLB campak yang sudah terkonfirmasi laboratorium di 16 provinsi. Sebanyak 68 persen kasus terjadi pada anak usia di bawah satu tahun dan mayoritas belum mendapatkan imunisasi.
Sementara itu, hingga Februari 2026 sudah tercatat 8.810 kasus dengan 12 KLB berdasarkan konfirmasi laboratorium di enam provinsi. Data ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi ancaman yang perlu kita waspadai bersama.
Mengenal campak pada anak
Campak adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Morbillivirus, Bunda. Penyakit ini dikenal sangat mudah menular dari satu orang ke orang lain.
"Bahayanya campak ini juga sangat menular, satu orang saja bisa menularkan campak ke 12-18 orang di sekitarnya," ujar seorang dokter umum dan keluarga di Jakarta, dr. Samuel Josafat Olam, MPH, dikutip dari akun Instagram Kemenkes RI.
Campak tidak hanya menyebar lewat percikan ludah saat batuk atau bersin. Virusnya juga bisa bertahan di udara atau menempel pada benda yang kemudian disentuh orang lain.
Lebih lanjut, dr. Samuel menuturkan bahwa campak bukan sekadar munculnya ruam di kulit. Dampaknya bisa jauh lebih serius, terutama pada anak yang belum mendapat imunisasi.
"Campak ini bukan sekadar gatal atau bintik merah di kulit. Pada anak khususnya yang tidak diimunisasi, campak bisa menyebabkan kematian atau kecacatan karena komplikasi berat seperti radang paru, diare, dan radang otak," tuturnya.
Lantas, siapa yang paling berisiko? Anak yang belum atau tidak lengkap mendapatkan imunisasi Campak Rubella serta memiliki kondisi gizi kurang termasuk kelompok yang lebih rentan tertular.
Gejala campak pada anak
Ada beberapa gejala campak yang bisa dikenali sejak awal, Bunda. Perlu diketahui bahwa masa inkubasi campak dari pertama terpapar hingga muncul gejala rata-rata sekitar 10 hari.
Beberapa gejala campak yang sering muncul di antaranya sebagai berikut
- Demam tinggi, umumnya muncul sekitar hari ke-15 setelah paparan
- Batuk dan pilek
- Gatal-gatal, kadang disertai diare
- Ruam merah makulopapular, biasanya muncul sekitar hari ke-18
- Mata merah atau konjungtivitis
Penyakit campak juga bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat jika tidak ditangani dengan baik. Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi:
- Sesak napas akibat radang paru atau pneumonia
- Kejang akibat radang otak atau ensefalitis
- Dehidrasi karena diare berat
- Kerusakan otak progresif seperti panensefalitis sklerosis subakut
- Berisiko menyebabkan kematian
Peran orang tua dalam mencegah penularan campak pada anak
Peran orang tua sangat penting untuk membantu memutus rantai penularan campak, Bunda. Salah satu langkah utama adalah mengecek status imunisasi anak. Pastikan imunisasi Campak Rubella atau MR diberikan lengkap saat usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat kelas 1 SD.
Jika di tempat tinggal Bunda ada program imunisasi tambahan, sebaiknya ikut berpartisipasi, ya. Program ini biasanya dilakukan untuk melindungi anak-anak agar tidak mudah tertular.
Selain itu, jangan tunda memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala. Jika anak demam disertai ruam merah, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk diperiksa.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Saat anak sakit, biasakan memakai masker dan terapkan etika batuk supaya tidak menularkan ke orang lain.
Rajin mencuci tangan pakai sabun juga perlu dibiasakan setiap hari. Kebiasaan ini tentu melindungi anak dan keluarga dari berbagai penyakit menular, termasuk campak.
Itulah penjelasan mengenai kasus campak di Indonesia yang kini tercatat tertinggi kedua di dunia dan bisa berujung kematian akibat tidak vaksin.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Kasus Pertama Bayi Meninggal karena Batuk Rejan, Turunnya Angka Vaksinasi Jadi Sorotan
Parenting
Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Resmi Dimulai 4 Agustus, Ada Imunisasi Campak hingga Kanker Serviks
Parenting
Amankah Anak dengan Alergi Telur Diberi Vaksinasi MMR?
Parenting
Di Italia, Anak Belum Imunisasi Tak Boleh Sekolah
Parenting
9 Penyakit Anak yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi Rutin Sejak Bayi
Parenting
Mengenal Campak pada Bayi, Penyebab dan Cara Mengatasinya
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
3 Ciri-ciri Campak pada Anak dan Cara Mengatasinya
5 Penyakit Menular yang Diprediksi Naik di 2026 Menurut Pakar
Fakta Penting soal Campak yang Harus Diketahui Orang Tua, Simak Cara Mencegahnya