moms-life
11 Ciri Perempuan Terlalu Banyak Berkorban untuk Orang yang Tak Melakukan Hal Sama Menurut Psikologi
HaiBunda
Rabu, 25 Mar 2026 15:40 WIB
Daftar Isi
-
11 Ciri perempuan terlalu banyak berkorban untuk orang yang tidak melakukan hal yang Sama
- 1. Selalu menjadi orang yang menghubungi lebih dahulu
- 2. Merasa semua harus dikerjakan sendiri
- 3. Terlalu sering meminta maaf
- 4. Memberi kesempatan berkali-kali pada orang yang tidak pantas
- 5. Menoleransi perilaku buruk
- 6. Menganggap loyalitas sama dengan pengorbanan diri
- 7. Takut dianggap "terlalu berlebihan"
- 8. Mencari validasi dari orang lain
- 9. Selalu mengubah rutinitas demi orang lain
- 10. Tidak ada yang benar-benar mengecek keadaannya
- 11. Sering membuat alasan untuk perilaku orang lain
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit perempuan yang terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Sekilas sikap ini tampak seperti bentuk kepedulian, kasih sayang, dan loyalitas. Namun jika dilakukan terus-menerus tanpa adanya timbal balik, pengorbanan tersebut bisa berubah menjadi beban emosional yang melelahkan.
Perempuan yang terlalu banyak memberi sering kali tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang terkuras. Mereka tetap berusaha hadir, membantu, memahami, dan memaklumi, bahkan ketika orang-orang di sekitarnya tidak menunjukkan usaha yang sama.
Menurut psikologi, ada sejumlah ciri yang menunjukkan bahwa seorang perempuan mungkin sudah terlalu jauh berkorban untuk orang-orang yang tidak akan melakukan hal serupa untuknya. Simak penjelasannya di bawah ini ya, Bun!Â
11 Ciri perempuan terlalu banyak berkorban untuk orang yang tidak melakukan hal yang Sama
Mengutip dari laman Your Tango, psikolog Dr. Melanie A. McNally, seorang clinical psychologist yang banyak membahas pola relasi, kelelahan emosional, dan batasan diri, menjelaskan bahwa perempuan yang terus-menerus memaksakan diri untuk orang lain berisiko mengalami burnout.
Berikut 11 ciri perempuan yang terlalu banyak berkorban untuk orang yang tidak melakukan hal yang sama.
1. Selalu menjadi orang yang menghubungi lebih dahulu
Salah satu tanda paling jelas adalah selalu menjadi pihak yang memulai komunikasi. Entah itu mengirim pesan, menelpon, atau menanyakan kabar, ia merasa bahwa semuanya harus dimulai dari dirinya.
Studi dari Johns Hopkins University menyoroti bahwa komunikasi yang konsisten dapat memperkuat ikatan dan membuat seseorang merasa didengar serta dihargai. Jika hanya satu pihak yang terus berinisiatif, perempuan bisa merasa diabaikan dan kesepian saat ia berhenti berusaha.
2. Merasa semua harus dikerjakan sendiri
Ciri perempuan yang terlalu banyak berkorban berikutnya adalah ia merasa bahwa jika dirinya tidak turun tangan, semuanya akan berantakan atau tidak selesai. Pola ini bisa muncul dalam urusan rumah tangga, pekerjaan, hingga tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa dibagi.
3. Terlalu sering meminta maaf
Perempuan yang terlalu banyak berkorban kerap meminta maaf bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya wajar. Misalnya saat ia butuh istirahat, terlambat membalas pesan karena sibuk, atau sekadar menyampaikan kebutuhan dirinya.
Sebuah studi dalam jurnal Aging & Mental Health menunjukkan bahwa banyak perempuan mengalami kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain. Akibatnya, mereka terus menekan diri untuk sempurna, sambil meminta maaf atas kebutuhan dasar yang seharusnya wajar.
4. Memberi kesempatan berkali-kali pada orang yang tidak pantas
Ia terus memberi kesempatan berkali-kali pada orang yang berulang kali mengecewakan atau menyakitinya. Padahal, lawan bicaranya tidak benar-benar menunjukkan niat untuk berubah.
Sikap ini sering muncul karena ia takut kehilangan hubungan atau merasa harus terus memahami orang lain. Padahal tanpa sadar, hal itu bisa menjadi tanda lemahnya batasan diri.
5. Menoleransi perilaku buruk
Ciri selanjutnya adalah ia memilih diam saat diperlakukan tidak adil, diremehkan, diabaikan, atau hanya dicari saat dibutuhkan. Baginya, menjaga suasana tetap tenang terasa lebih penting daripada menyuarakan isi hati.
Dalam banyak hubungan, perempuan memang sering diberi peran sebagai penyangga emosi keluarga atau pasangan. Namun dukungan emosional bukan berarti harus menerima perlakuan buruk.
6. Menganggap loyalitas sama dengan pengorbanan diri
Sebagian perempuan percaya bahwa setia berarti harus terus memberi, mengalah, dan menomorduakan diri sendiri. Mereka mengukur cinta dan loyalitas dari seberapa jauh ia bisa berkorban.
Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa pengorbanan diri yang disertai penekanan emosi dapat berdampak negatif pada kesejahteraan hubungan.
7. Takut dianggap "terlalu berlebihan"
Ia khawatir dianggap terlalu sensitif, terlalu menuntut, terlalu emosional, atau terlalu banyak meminta. Karena itu, ia memilih menahan kebutuhan dan menyesuaikan diri agar tetap diterima.
Menurut psikologi, banyak perempuan sejak kecil disosialisasikan untuk tampil lebih penurut, tenang, dan tidak merepotkan. Akibatnya, saat mereka butuh bantuan, mereka justru merasa bersalah. Ini membuat mereka terus memberi, tetapi ragu untuk menerima.
8. Mencari validasi dari orang lain
Karena jarang merasa dihargai secara tulus, ia menjadi sangat bergantung pada pengakuan dari luar. Ia ingin dipuji, diperhatikan, atau setidaknya diakui bahwa semua usahanya berarti.
Perilaku ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari terus menunggu ucapan terima kasih, ingin dianggap paling bisa diandalkan, sampai mengubah penampilan atau perilaku demi diterima.
9. Selalu mengubah rutinitas demi orang lain
Ciri perempuan yang lebih banyak berkorban berikutnya adalah selalu mengubah rutinitas demi orang lain, seperti membatalkan waktu istirahat, menunda kebutuhan pribadi, atau mengubah jadwalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
10. Tidak ada yang benar-benar mengecek keadaannya
Ciri berikutnya adalah ia selalu hadir untuk orang lain, tetapi saat dirinya lelah atau terpuruk, hampir tidak ada yang sungguh-sungguh menanyakan kabarnya.Â
Studi dalam The Journal of Social Psychology menemukan bahwa dukungan sosial yang timbal balik berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kepuasan hidup. Saat perempuan terus memberi tanpa menerima dukungan yang seimbang, ia bisa merasa sendirian meski dikelilingi banyak orang.
11. Sering membuat alasan untuk perilaku orang lain
Ketika disakiti, ia justru sibuk membela atau memaklumi orang yang melukainya. Memaklumi terus-menerus bisa membuat luka emosional tidak benar-benar diselesaikan. Alih-alih mengakui bahwa dirinya tersakiti, ia menolak perasaannya sendiri demi mempertahankan hubungan.
Bunda, perempuan yang terlalu banyak berkorban untuk orang lain bukan berarti lemah. Sering kali, mereka hanya terlalu lama terbiasa menjadi tempat bersandar semua orang.
Karena itu, belajar berkata tidak, menetapkan batasan, dan menyadari bahwa diri sendiri juga layak diperhatikan adalah langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan setara.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
12 Tanda Seseorang Terlahir Egois Menurut Psikologi
Mom's Life
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
Mom's Life
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
Mom's Life
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
Mom's Life
Tanda Orang yang Diam-diam Benci pada Kita, Salah Satunya Kontak Mata
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Wisuda S2 Psikologi Tsania Marwa, Anggun Berbalut Kebaya Merah
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
8 Ciri Kepribadian Suami Berzodiak Leo, Sosok Pemimpin yang Protektif
7 Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Pilih-pilih Makanan
Ingin Hidup Tenang? Hindari 5 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berkonflik