MOM'S LIFE
Benarkah Ancaman PHK Membuat Orang Bekerja Lebih Keras? Ini Penjelasan Ahli
Arina Yulistara | HaiBunda
Jumat, 10 Apr 2026 17:10 WIBBanyak orang memaksakan diri bekerja sampai kelelahan. Benarkah ancaman PHK yang membuat mereka melakukannya?
Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) sering menjadi bayang-bayang bagi banyak karyawan. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, ancaman tersebut bahkan dianggap sebagai 'alat' untuk mendorong produktivitas.
Benarkah rasa takut bisa membuat seseorang bekerja lebih keras dan lebih baik? Sejumlah perusahaan memang secara sadar atau tidak menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan ketidakpastian.
Harapannya, karyawan akan terpacu untuk menunjukkan kinerja terbaik agar tetap dipertahankan. Sayangnya, pendekatan ini tidak selalu memberikan hasil yang diinginkan.
Para ahli menilai, dibanding meningkatkan performa secara berkelanjutan, ancaman PHK justru dapat berdampak negatif dalam jangka panjang. Stres, penurunan moral, hingga gangguan kesehatan mental menjadi risiko nyata yang harus dihadapi pekerja.
Mari bahas mengenai ancaman PHK banyak dilakukan perusahaan untuk mendorong produktivitas.
Strategi tekanan di dunia kerja
Dalam praktiknya, ada beberapa pendekatan manajemen yang secara tidak langsung memanfaatkan rasa tidak aman karyawan. Salah satunya aturan '20-70-10' yang dipopulerkan oleh Jack Welch, yang mendorong perusahaan untuk secara rutin memberhentikan 10 persen karyawan dengan performa terendah.
Selain itu, ada pula strategi 'up or out' yang lazim digunakan di industri hukum dan konsultan. Dalam sistem ini, karyawan yang tidak menunjukkan perkembangan atau gagal naik jabatan akan digantikan oleh tenaga baru.
Menurut William Schiemann, pendekatan semacam ini justru bisa menjadi boomerang.
"Ketika perusahaan menggunakan jaminan pekerjaan sebagai ancaman dan bukan imbalan, hal itu justru menjadi boomerang karena (para pekerja) kehilangan rasa komitmen mereka. Taktik ini dapat merusak kepercayaan di tempat kerja,” kata Schieman dilansir dari BBC.
Memahami rasa tidak aman dalam pekerjaan
Rasa tidak aman dalam pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan ancaman PHK semata. Tinne Vander Elst menjelaskan bahwa ada juga yang disebut sebagai qualitative job insecurity, yaitu kekhawatiran terhadap perubahan peran, tanggung jawab, atau kondisi kerja di masa depan.
Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa ketakutan terhadap perubahan kondisi kerja bahkan lebih tinggi dibandingkan ketakutan kehilangan pekerjaan itu sendiri. Kedua jenis kecemasan ini sama-sama berdampak pada performa dan kesejahteraan karyawan.
Di Belgia misalnya, hanya 6 persen pekerja yang melaporkan takut kehilangan pekerjaan. Sementara 31 persen pekerja takut akan perubahan negatif pada situasi kerja mereka. Keduanya dapat memengaruhi kinerja, menurut temuan Vander Elst.
Faktor seperti jenis pekerjaan, kondisi finansial, hingga lokasi geografis juga turut memengaruhi tingkat kecemasan seseorang. Sebagai contoh, pekerja di Eropa cenderung memiliki perlindungan kerja lebih kuat dibandingkan di Amerika Serikat sehingga tingkat kekhawatiran mereka bisa berbeda.
Ancaman PHK bisa memacu produktivitas tapi tak bertahan lama
Dalam kadar tertentu, tekanan dengan ancaman PHK memang dapat memicu peningkatan kinerja. Schiemann menyebut bahwa ketidakpastian dalam jangka pendek bisa membuat karyawan berusaha lebih keras untuk membuktikan kemampuan mereka, terutama jika merasa situasi tersebut masih dapat dikendalikan.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa stres ringan dapat membantu meningkatkan fokus dan efisiensi kerja. Dalam kondisi tertentu, karyawan menjadi lebih waspada dan terdorong untuk menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.
Namun efek positif ini bersifat sementara. Ketika tekanan menjadi berlebihan, dampaknya justru berbalik negatif.
Dampak buruk ancaman PHK dalam jangka panjang
Menurut David Creelman, tingkat stres yang tinggi dapat memicu kesalahan berpikir, pelanggaran etika, hingga konflik antar rekan kerja. Karyawan yang tertekan juga cenderung sulit bekerja sama dalam tim.
“Orang yang sangat stres lebih cenderung mengalami pelanggaran mental dan etika, lebih sulit untuk diajak bekerja sama sebagai anggota tim, daripada orang yang tidak stres,” papar Creelman.
Vander Elst juga menemukan bahwa dampak psikologis dari ketidakamanan kerja bisa bertahan lama. Dalam studinya, pekerja yang mengalami tingkat kecemasan tinggi terkait pekerjaan masih merasakan gejala depresi hingga tiga tahun setelahnya.
Ia pun menegaskan bahwa anggapan bahwa ketidakamanan kerja dapat meningkatkan produktivitas adalah sebuah kekeliruan.
“Ketidakamanan kerja berkaitan dengan tingkat kinerja yang lebih rendah, tingkat perilaku kerja inovatif yang lebih rendah, tingkat perilaku intimidasi di tempat kerja yang lebih tinggi, dan berujung resign,” katanya.
Lingkungan kerja yang sehat jadi kunci
Dibandingkan mengandalkan ancaman PHK, para ahli menyarankan perusahaan untuk membangun lingkungan kerja yang adil dan transparan. Karyawan yang merasa diperlakukan dengan baik dan setara cenderung lebih loyal dan terlibat dalam pekerjaannya.
Schiemann menekankan bahwa rasa aman bukan hanya soal mempertahankan pekerjaan, melainkan juga tentang kepercayaan terhadap manajemen. Ketika kepercayaan itu terbangun, karyawan akan bekerja dengan motivasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, tidak ada cara instan untuk menciptakan rasa aman dalam pekerjaan. Namun jika kecemasan mulai memengaruhi performa dan keseharian, itu menjadi sinyal penting untuk mengevaluasi kondisi kerja, baik bagi karyawan maupun perusahaan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)