HaiBunda

MOM'S LIFE

Kutu Pembawa Virus Sebabkan 422 Kematian di Korea Selatan, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Kamis, 16 Apr 2026 14:20 WIB
Ilustrasi Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) / Foto: Getty Images/Gebbi Mur

Kutu pembawa virus tengah menjadi perhatian serius setelah dilaporkan memicu ratusan kematian di Korea Selatan. Kondisi ini tentu membuat Bunda perlu lebih waspada, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

Meski berukuran sangat kecil, kutu pembawa virus bisa membawa dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Banyak orang belum menyadari gejala awalnya karena sering menyerupai sakit biasa.

Lalu, apa saja tanda yang perlu diwaspadai agar tidak terlambat ditangani? Yuk, kenali lebih dalam gejala dan cara pencegahannya agar keluarga tetap aman.


Kutu pembawa virus sebabkan 422 kematian di Korea Selatan 

Melansir dari laman The Straits Times, terdapat kutu pembawa virus yang menjadi perhatian serius setelah tercatat telah menyebabkan 422 kematian di Korea Selatan. Angka ini dikonfirmasi dalam laporan dari Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA). 

Kasus ini berkaitan dengan penyakit Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS) yang terus muncul setiap tahun sejak pertama kali terdeteksi pada 2013. Rata-rata terdapat sekitar 180 kasus infeksi setiap tahunnya. 

Kutu pembawa virus ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi dibanding penyakit serupa lainnya. Tingkat kematiannya dilaporkan mencapai sekitar 18 persen. 

Pemerintah Korea Selatan pun meningkatkan kewaspadaan karena jumlah korban terus bertambah. Hal ini membuat penyakit ini dikategorikan sebagai ancaman kesehatan serius. 

Bunda perlu memahami bahwa kutu pembawa virus ini bukan sekadar gangguan biasa. Dampaknya bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan cepat.

Kutu pembawa virus penyebab SFTS yang berbahaya 

Dikutip dari laman The Korea Herald, kutu pembawa virus ini diketahui membawa penyakit bernama Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS). Penyakit ini menyerang sistem imun tubuh dan dapat berkembang dengan cepat. 

SFTS merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan kutu. Virus ini termasuk penyakit zoonosis yang bisa berpindah dari hewan ke manusia. 

Kutu pembawa virus biasanya hidup pada hewan seperti sapi, anjing, dan rusa air. Dari hewan tersebut, virus bisa berpindah ke manusia melalui kontak langsung atau gigitan. 

Menariknya, manusia bukanlah inang utama dari virus ini. Namun, manusia bisa menjadi korban ketika tidak sengaja terpapar di lingkungan tertentu. 

Karena sifatnya yang berbahaya, kutu pembawa virus ini harus terus diawasi oleh otoritas kesehatan setempat. Penyebarannya pun juga menjadi perhatian di beberapa negara Asia.

Kutu pembawa virus menyebar lewat gigitan 

Kutu pembawa virus di Korea Selatan menyebar penularannya melalui gigitan saat menempel di kulit manusia. Hal ini sering terjadi tanpa disadari karena ukuran kutu sangatlah kecil. 

Kutu ini biasanya hidup di area rumput tinggi dan hutan. Siapa pun bisa terpapar saat beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan yang cukup. 

Menurut Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA), risiko akan meningkat saat seseorang bersentuhan langsung dengan vegetasi tumbuhan, terutama jika tidak memakai pakaian pelindung seperti lengan panjang. 

Kutu pembawa virus ini juga diketahui lebih aktif pada periode tertentu. Aktivitasnya meningkat dari bulan April hingga November setiap tahunnya. 

Itulah sebabnya, masyarakat diimbau untuk lebih waspada saat musim tersebut. Pencegahan tentu saja menjadi langkah utama untuk menghindari gigitan kutu.

Gejala yang ditimbulkan dari kutu pembawa virus  

Kutu pembawa virus dapat memicu gejala yang awalnya tampak seperti penyakit biasa. Gejala awal sering kali membuat penderitanya tidak langsung menyadari bahaya yang mengintai. 

Beberapa gejala umum yang muncul adalah demam tinggi, muntah, dan diare. Kondisi ini biasanya muncul dalam beberapa hari setelah terinfeksi. 

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 5-14 hari. Artinya, gejala bisa muncul cukup lama setelah gigitan terjadi. 

Dalam kondisi tertentu, infeksi bisa berkembang menjadi lebih parah. Bahkan dapat menyebabkan kegagalan organ jika tidak segera ditangani. 

Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun. Deteksi dini bisa membantu mencegah kondisi yang lebih serius lagi.

Kutu pembawa virus belum memiliki vaksin atau obat khusus 

Kutu pembawa virus menjadi semakin berbahaya karena hingga kini belum ada vaksin yang tersedia. Pengobatan khusus untuk SFTS juga masih belum ditemukan. 

Hal ini membuat penanganan lebih difokuskan pada perawatan gejala. Pasien biasanya mendapatkan perawatan medis untuk mencegah komplikasi. 

Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) menegaskan bahwa pencegahan adalah langkah paling penting untuk dilakukan. Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan. 

Komisioner KDCA, Lim Seung-kwan, juga mengingatkan agar masyarakat segera ke fasilitas kesehatan jika menemukan kutu menempel di tubuh. Ia menekankan pentingnya penanganan yang tepat untuk mencegah infeksi lanjutan. 

"Jika Anda menemukan kutu menempel di tubuh Anda, akan sulit untuk melepaskannya sendiri. Untuk mencegah infeksi sekunder, silakan kunjungi fasilitas medis untuk penanganan dan pelepasan yang tepat," kata Komisioner KDCA, Lim Seung-kwan.

Dengan kondisi ini, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah dampak fatal dari kutu pembawa virus ini.

Kutu pembawa virus perlu diwaspadai saat aktivitas outdoor 

Kutu pembawa virus paling sering ditemukan di area terbuka seperti rumput dan hutan. Lingkungan ini menjadi habitat alami bagi kutu untuk berkembang. 

Saat musim aktifnya tiba, risiko paparan menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terutama saat beraktivitas outdoor atau di luar ruangan. 

Pemerintah Korea Selatan bahkan melakukan pengawasan di 26 lokasi berbeda. Wilayah seperti Jeju dan Gangwon menjadi fokus karena populasi kutu yang paling tinggi. 

Program pemantauan ini dilakukan dari April hingga November setiap tahun. Tujuannya untuk mengendalikan penyebaran penyakit akibat kutu pembawa virus sejak dini. 

Seperti yang dikatakan oleh Komisioner KDCA, Lim Seung-kwan, pencegahan bisa dimulai dengan langkah sederhana seperti memakai pakaian tertutup. Cara ini efektif untuk mengurangi risiko terkena kutu pembawa virus.

“Saat melakukan aktivitas di luar ruangan, hindari berlama-lama di area berumput dan kenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang,” ujarnya.

Bunda, itulah penjelasan mengenai kutu pembawa virus yang telah merenggut nyawa sebanyak 422 orang di Korea Selatan. Semoga Bunda selalu berhati-hati dan tetap menjaga keamanan untuk diri sendiri dan keluarga tercinta.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Tren Pernikahan Beda Budaya di Korea Selatan Meningkat, Negara Ini Terbanyak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Inong Ayu & Abimana Aryasatya Anniversary ke-25, Kini Dikaruniai 5 Anak

Mom's Life Nadhifa Fitrina

5 Ciri-ciri Fisik Pembuahan Berhasil yang Perlu Diketahui

Kehamilan Melly Febrida

Hukum Istri Pulang ke Rumah Orang Tua Tanpa Izin Suami, Bolehkah?

Mom's Life Arina Yulistara

Terlihat Adem-Ayem, Suami Yulia Baltschun Akui Berselingkuh

Mom's Life Amira Salsabila

Dari Kartini sampai Yuni, Ini 3 Film Perempuan Paling Powerful!

Parenting Angella Delvie & M Prima Fadhilah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Terlihat Adem-Ayem, Suami Yulia Baltschun Akui Berselingkuh

5 Ciri-ciri Fisik Pembuahan Berhasil yang Perlu Diketahui

30 Lagu Rohani Batak Terpopuler dan Liriknya Lengkap, Penuh Makna untuk Diajarkan ke Anak

Potret Inong Ayu & Abimana Aryasatya Anniversary ke-25, Kini Dikaruniai 5 Anak

Dari Kartini sampai Yuni, Ini 3 Film Perempuan Paling Powerful!

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK