MOM'S LIFE
Kisah Simalakama RA Kartini, Menyembunyikan Status Ibu demi Menjaga Nama Baik Ayah
Tim HaiBunda | HaiBunda
Selasa, 21 Apr 2026 17:40 WIBSetiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, Bunda. Penetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 atas jasanya dalam memperjuangkan hak perempuan dan mendirikan Sekolah Kartini.
Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat dikenal sebagai sosok yang berani melawan batasan pada zamannya. Ia hidup di masa ketika perempuan dari kalangan tertentu tidak bebas keluar rumah, sementara sebagian lainnya harus bekerja membantu keluarga.
Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, menyebut Kartini sebagai pelopor yang membawa perubahan besar pada masanya. Pemikirannya membuka jalan bagi perempuan untuk memiliki kesempatan yang lebih baik.
Meski begitu, tidak banyak yang mengetahui kisah tentang ibu dari R.A. Kartini. Hal ini pun menimbulkan banyak pertanyaan, mengapa sosok tersebut jarang dibahas dalam berbagai cerita tentang Kartini?
Mari kita simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Kisah keluarga R.A. Kartini
Mengutip dari buku R.A. Kartini Biografi Singkat 1879-1904 karya Imron Rosyadi, Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan M.A. Ngasirah. Latar belakang keluarganya ini ternyata menyimpan cerita yang tidak banyak diketahui.
Ibu kandung Kartini, Ngasirah, berasal dari kalangan biasa, putri Nyai Hajjah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono. Pada masa itu, aturan kolonial Belanda mengharuskan kaum bangsawan menikah dengan sesama ningrat, Bunda.
"Karena Ngasirah bukan kaum bangsawan, maka Sosroningrat pada 1875 menikah lagi dengan Raden Ayu Muryam yang masih keturunan raja-raja Madura. Istri kedua Sosroningrat inilah yang kemudian menjadi garwa padmi (istri pertama) dan Ngasirah menjadi garwa ampil (selir dalam istilah KBBI -Red)," tulis Imron dalam buku R.A.Kartini Biografi Singkat 1879- 1904.
Kondisi ini membuat Kartini tidak diasuh langsung oleh ibu kandungnya sendiri. Bahkan, ia tidak diperbolehkan memanggil Ngasirah dengan sebutan 'Ibu', melainkan 'Yu', sementara sang Bunda harus memanggilnya 'Ndoro'.
Sejak kecil, Kartini diasuh oleh dua ibu serta seorang emban. Meski begitu, seiring bertambah usia, Kartini mulai memahami posisi ibu kandungnya, meski hubungan keduanya tetap terbatasi oleh aturan yang berlaku.
Lingkungan keluarga yang penuh aturan ini membentuk cara pandang Kartini terhadap kehidupan. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kritis terhadap posisi perempuan dan hubungan dalam pernikahan.
Namun, perasaan tersebut lebih banyak ia pendam karena rasa hormat dan cintanya kepada sang Ayah. Hal ini juga disoroti oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja.
"Kartini tidak pernah menyebut-nyebut ibu kandungnya. Apakah sebabnya? Padahal Kartini adalah seseorang yang jujur dan berani, tidak mungkin ia menyembunyikan kebenaran tentang asal-usul ibu kandungnya? Ataukah untuk melindungi nama ayahnya dari ejekan orang luar, Kartini harus menyembunyikannya?" tulis Pramoedya yang menyusun buku tersebut berdasarkan surat-menyurat Kartini dengan sahabat asal Belanda, Estella Zeehandelaar.
Kisah ini pun sering diibaratkan seperti buah simalakama. Di satu sisi ingin jujur, namun di sisi lain harus menjaga perasaan dan nama baik keluarga.
Dilema Kartini antara cinta pada Ayah dan prinsip hidupnya
Dalam surat yang ditulis kepada Zeehandelaar pada 23 Agustus 1900, Kartini menunjukkan betapa besar rasa sayangnya kepada sang Ayah. Dalam surat itu, Kartini menuangkan sudut pandangnya yang menghargai sang Ayah dan kecintaannya pada Bupati Jepara ini. Surat Kartini tersebut berbunyi:
"Kasihan Ayaku tercinta, ia telah begitu banyak menanggung dan hidup ini masih jua timpakaan kekecewaan-kekecewaan menyedihkan pula kepadanya. Stella, Ayah tiada mempunyai sesuatu terkecuali anak-anaknya, kami inilah segala-galanya baginya, kegembiraannya, penghiburku. Aku mencintai kebebasanku, o, dialah segala-galanya yang kumiliki, dan nasib saudari-saudariku sangat meminta perhatianku; aku rela membantu mereka kuat-kuat, dan siap sedia menyerahkan apapun korban yang dipintanya agar dapat memperbaiki nasib mereka. Aku pandang menjadi kebahagiaan hidup, bila dapat dan boleh menyerahkan diri seluruhnya buat pekerjaan ini. Namun, lebih baik dari semua itu seluruhnya ialah Ayahku," tulisnya.
Perasaan yang sama kembali terlihat dalam suratnya pada 11 Oktober 1901. Kartini menuliskan bahwa ia berusaha menyeimbangkan kewajibannya sebagai anak dengan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
"Kewajibanku sebagai anak tidak boleh aku kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah, bahwa untuk sementara aku membaktikan diri kepada Ayahku," tulis Kartini.
Dari kumpulan surat tersebut, Pramoedya Ananta Toer, sebagai pengumpul dan penafsir surat, melihat adanya konflik batin dalam diri Kartini. Ia menilai Kartini sebenarnya tidak sepakat dengan praktik poligami dan aturan feodal yang berlaku dalam keluarganya.
Namun di sisi lain, rasa sayangnya kepada Ayah membuat Kartini tidak bisa sepenuhnya menentang keadaan. Pramoedya juga melihat keputusan Kartini yang tidak banyak menyebut ibu kandungnya dalam surat kepada sahabatnya. Menurutnya, hal ini bukan bentuk penolakan, melainkan keputusan yang didasari pertimbangan moral.
"Kartini tidak menyebut-nyebut ibu kandungnya terhadap sahabat penanya, tidaklah bisa dikatakan suatu penilaian sosial terhadap si ibu. Tapi justru mengandung motif moral yang tinggi. Tanpa menyebut ibu kandungnya, dia bisa selamatkan Ayahnya dari persoalan poligami," tulis Pramoedya.
Pramoedya juga menjelaskan bahwa Kartini berupaya melindungi ibu kandungnya dari berbagai dampak buruk. Bahkan, langkah yang diambil Kartini dinilai berhasil karena tidak memperburuk posisi sang Bunda.
Dari sikap bijaknya tersebut, terlihat jelas betapa besar rasa sayang Kartini kepada kedua orang tuanya. Keputusan yang ia ambil menjadi bukti cinta dan baktinya, sekaligus menjaga kehormatan Ayah dan ibunya.
Semoga nilai kasih sayang ini bisa menjadi inspirasi bagi Bunda dan Si Kecil, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Inspirasi Kebaya Janggan Ala Artis, dari Putri Marino hingga Dian Sastro Bak Kartini Masa Kini
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kisah Haru Anak yang Dilahirkan di Penjara, Kini Dapat Beasiswa Penuh di Harvard
Kisah Anak Penjual Gorengan di Ciamis, Dulu Hidup Susah Kini Sukses Kerja di Lembaga Penelitian Jepang
Kisah Pria Lepas Gaji Rp133 Juta Demi Bantu Ibunda Jualan, Endingnya...
Alicia Meinar, WNI Sukses Bisnis di Australia Sampai Dikunjungi Jokowi
TERPOPULER
10 Tanaman Pengusir Semut yang Dapat Ditanam di Rumah, Aromanya Enak!
Deretan Anak Artis Rayakan Hari Kartini, Tampil Kenakan Pakaian Tradisional
Chelsea Islan Gelar Baby Shower Kehamilan Bertema Pesta Musim Panas
Momen Artis Rayakan Hari Kartini 2026, Caption Sosmed Curi Perhatian
Kenalkan Konsep Merah Putih, Cara Benar Menyikat Gigi Anak Menurut Dokter
REKOMENDASI PRODUK
11 Rekomendasi Pompa ASI Handsfree Bagus, Berkualitas, & Anti Ribet Beserta Harganya
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Lanyard ID Card Brand Lokal yang Bagus & Awet, Pilih yang Terbaik!
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Pengharum Ruangan Tahan Lama, Usir Bau Tak Sedap di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Baju Daerah & Kebaya Anak untuk Perayaan Pawai Hari Kartini
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
3 Kertas Gambar Ibu Kartini untuk Lomba Mewarnai Anak
Nadhifa FitrinaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Fakta Menarik Jaafar Jackson, Keponakan yang Perankan Michael Jackson di Biopik 'Michael'
Deretan Anak Artis Rayakan Hari Kartini, Tampil Kenakan Pakaian Tradisional
10 Tanaman Pengusir Semut yang Dapat Ditanam di Rumah, Aromanya Enak!
Kenalkan Konsep Merah Putih, Cara Benar Menyikat Gigi Anak Menurut Dokter
Chelsea Islan Gelar Baby Shower Kehamilan Bertema Pesta Musim Panas
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
PK Yudha Arfandi Ditolak, Tamara Tyasmara Bersyukur Mendiang Anak Dapat Keadilan
-
Beautynesia
Sejarah Festival Anime di Dunia
-
Female Daily
Spesial Perayaan Hari Kartini, ParagonCorp Ajak Perempuan Hadapi Self-Doubt Lewat Women’s Space!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Potret Prewedding El Rumi-Syifa Hadju, Memukau Dengan Busana Adat Jawa Klasik
-
Mommies Daily
Infografik: Panduan Sleep Training Bayi 0-24 Bulan, Bayi Jadi Tidur Nyenyak dan Mandiri