Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Agar Tak Salah Paham, Ini 7 Mitos Kolesterol yang Perlu Diluruskan

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Senin, 22 Jun 2026 12:30 WIB

Ilustrasi kolesterol
Ilustrasi Agar Tak Salah Paham, Ini 7 Mitos Kolesterol yang Perlu Diluruskan/Foto: Getty Images/iStockphoto/tumsasedgars
Daftar Isi
Jakarta -

Kolesterol tinggi merupakan kondisi yang cukup sering terjadi, tetapi masih banyak orang yang tidak menyadarinya. Salah satu penyebabnya adalah beredarnya berbagai mitos yang membuat masyarakat kurang memahami kondisi ini dan mengabaikan pentingnya pemeriksaan kesehatan.

Tidak sedikit orang percaya bahwa kolesterol tinggi hanya dialami oleh lansia atau mereka yang memiliki berat badan berlebih. Padahal, kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.

Untuk itu, penting mengetahui fakta yang sebenarnya di balik berbagai anggapan yang beredar. Dengan memahami informasi yang tepat, masyarakat dapat lebih waspada dan mengambil langkah tepat untuk menjaga kadar kolesterol tetap terkendali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


7 Mitos kolesterol yang perlu diluruskan

Seberapa banyak yang perlu Bunda ketahui tentang kolesterol? Berikut beberapa kesalahpahaman umum dan faktanya tentang kolesterol:

1. Kolesterol bukan masalah bagi anak-anak

Dilansir American Heart Association, kolesterol tinggi juga dapat dimulai sejak masa kanak-kanak, terkadang karena kondisi bawaan atau kebiasaan tidak sehat.

Pemeriksaan kolesterol direkomendasikan untuk semua anak berusia 9-11 tahun yang belum pernah diperiksa sebelumnya untuk membantu menilai risiko dan memandu perawatan, bekerja sama dengan dokter, orang tua, dan pengasuh.

Terlepas dari risiko yang mereka hadapi, semua anak mendapat manfaat dari kebiasaan gaya hidup sehat, seperti pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur yang dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke seiring waktu.

Anak-anak usia 2 tahun ke atas sebaiknya mengonsumsi makanan yang menekankan buah-buahan, sayuran, ikan, biji-bijian utuh, dan membatasi makanan yang tinggi sodium, lemak jenuh, dan gula tambahan.

2. Tidak perlu memeriksa kadar kolesterol hingga usia paruh baya

Faktanya, orang dewasa berusia 19 tahun ke atas direkomendasikan untuk memeriksa kadar kolesterolnya, setidaknya setiap lima tahun sekali selama risikonya tetap rendah.

Bekerja sama dengan profesional kesehatan Bunda untuk mengamati risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

3. Orang kurus tidak memiliki kolesterol tinggi

Orang dengan tipe tubuh apa pun dapat memiliki kolesterol tinggi. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan kemungkinan memiliki kolesterol LDL tinggi, tetapi tubuh kurus tidak melindungi Bunda.

Terlepas dari berat badan, pola makan, dan jumlah aktivitas, Bunda harus memeriksa kolesterol secara teratur.

4. Hanya pria yang perlu khawatir soal kolesterol

Baik pria maupun perempuan perlu memperhatikan kadar kolesterol mereka karena cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Bagi perempuan, kadar kolesterol juga dapat meningkat selama tahap kehidupan tertentu seperti kehamilan dan menopause. Penting untuk mengetahui kadar kolesterol Bunda, terlepas dari jenis kelamin.

5. Pola makan dan aktivitas teratur menentukan kadar kolesterol

Kebiasaan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan yang menyehatkan jantung dan berolahraga secara teratur dapat menurunkan LDL, tetapi faktor-faktor seperti usia, kesehatan secara keseluruhan, riwayat keluarga, diabetes, dan riwayat serangan jantung atau stroke juga berperan.

6. Setiap orang yang mengonsumsi statis mengalami nyeri otot

Dilansir Mayo Clinic, banyak pasien khawatir untuk memulai pengobatan statin karena takut dapat menyebabkan nyeri otot atau kram.

Faktanya, hanya sekitar 2-10 persen pasien yang mengalami efek samping terkait otot, yang berkisar dari nyeri atau pegal otot hingga kram. Dari pasien yang mengalami efek samping ini dengan satu jenis statis, 90 persen mampu mentoleransi obat statin alternatif dengan penggunaan berkelanjutan.

Jika mengalami gejala otot saat mengonsumsi statin, disarankan untuk konsultasi dengan dokter. Tergantung pada gejalanya, mereka mungkin menyarankan penghentian sementara pengobatan untuk melihat apakah gejalanya mereda, mengganti statin, atau mengubah dosis.

Obat-obatan ini sangat penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, jadi penting untuk mengevaluasi dan mengatasi efek samping.

7. Dengan pengobatan, tidak perlu perubahan gaya hidup

Obat penurun kolesterol dapat membantu mengontrol kadar kolesterol, tetapi perubahan gaya hidup dianjurkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.

Sebagai bagian dari upaya menurunkan kolesterol, konsumsi makanan yang menyehatkan jantung dan lakukan setidaknya 150 menit olahraga aerobik intensitas sedang hingga tinggi setiap minggu.

Nah, itulah beberapa mitos kolesterol yang sebaiknya Bunda ketahui fakta sebenarnya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda