MOM'S LIFE
Trauma Bonding: Kenapa Sulit Lepas dari Pasangan yang Kasar hingga Manipulatif?
Arina Yulistara | HaiBunda
Kamis, 02 Jul 2026 12:40 WIBPunya hubungan asmara yang buruk namun sulit lepas dari pasangan? Mungkin Bunda mengalami trauma bonding. Kenali apa itu trauma bonding dan dampaknya.
Pernikahan seharusnya menjadi tempat yang aman, penuh rasa saling menghormati, dan memberikan dukungan emosional. Namun tidak semua hubungan berjalan demikian.
Sebagian orang justru terjebak dalam relasi yang dipenuhi kekerasan emosional, manipulasi, hingga ancaman. Namun mereka tetap merasa sulit untuk mengakhiri kondisi tersebut.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai trauma bonding. Ikatan emosional membuat korban tetap merasa terhubung dengan pelaku meski berulang kali mengalami perlakuan menyakitkan.
Bagi orang di luar hubungan, keputusan untuk bertahan mungkin tampak sulit dipahami. Padahal dari sisi psikologis, trauma bonding merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh pola kekerasan, manipulasi, serta respon biologis tubuh terhadap stres.
Mengutip Psychology Today dan Healthline, mari bahas mengenai trauma bonding.
Apa itu trauma bonding?
Trauma bonding adalah keterikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku dalam hubungan yang penuh kekerasan atau penyalahgunaan. Ikatan ini lahir dari siklus perlakuan buruk yang diselingi momen-momen kasih sayang, perhatian, atau permintaan maaf dari pelaku.
Berbeda dengan kedekatan emosional yang sehat, trauma bonding dibangun di atas fondasi ketimpangan kekuasaan. Pelaku menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan kontrol, seperti ancaman, rasa bersalah, mempermalukan korban, manipulasi, gaslighting, hingga sabotase.
Setelah itu, mereka sesekali menunjukkan kasih sayang atau perhatian sehingga korban kembali berharap hubungan akan membaik. Pola inilah yang membuat korban sulit memutus hubungan karena terus menantikan hadirnya kembali sisi 'baik' pasangan.
Mengapa sulit meninggalkan pasangan yang kasar?
Salah satu penyebab utama trauma bonding adalah intermittent reinforcement atau penguatan yang muncul secara tidak konsisten. Dalam hubungan abusif, perlakuan kasar tidak terjadi sepanjang waktu.
Di sela-sela kekerasan, pelaku bisa memberikan hadiah, meminta maaf, bersikap romantis, atau mengucapkan janji manis. Otak kemudian lebih mudah mengingat momen-momen positif tersebut sebagai bentuk 'hadiah'.
Korban pun terus berharap pasangan akan kembali menjadi sosok yang penuh kasih seperti diawal hubungan. Konsep psikologi ini juga digunakan dalam berbagai bentuk perjudian, seperti mesin slot yang memberikan hadiah secara acak sehingga orang terdorong untuk terus mencoba.
Selain faktor psikologis, tubuh juga berperan. Saat korban menerima kasih sayang atau sentuhan setelah mengalami kekerasan, tubuh melepaskan hormon dopamin dan oksitosin yang menimbulkan rasa nyaman sekaligus kedekatan emosional. Kondisi tersebut semakin memperkuat ikatan dengan pelaku.
Tanda-tanda Bunda alami trauma bonding
- Menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak lagi menyukai pasangan, tapi merasa tak aman untuk mengungkapkan perasaan tersebut.
- Hubungan dipenuhi rasa bersalah, malu, dan ketakutan. Ketika menyampaikan kebutuhan pribadi, korban justru dianggap egois atau berlebihan.
- Merasa harus selalu berhati-hati atau seperti berjalan di atas kulit telur agar pasangan tidak marah.
- Mengalami siklus love bombing atau dibanjiri kasih sayang di awal, kemudian direndahkan, dikritik, bahkan dihina.
- Mulai menganggap perilaku kasar sebagai sesuatu yang normal karena telah berlangsung dalam waktu lama.
- Sulit membayangkan hidup tanpa pasangan meskipun hubungan tersebut menyakitkan.
- Menolak mengakui kesalahan pasangan dan terus mencari pembenaran atas perilaku mereka.
- Semakin bergantung pada pasangan dan menjauh dari keluarga maupun teman.
Banyak ahli menggambarkan trauma bonding sebagai siklus yang terus berulang dalam tujuh tahap, yaitu:
- Love bombing atau curahan kasih sayang berlebihan.
- Bangun kepercayaan sekaligus ketergantungan.
- Kritik dan merendahkan harga diri korban.
- Manipulasi serta gaslighting.
- Korban menyerah dan pasrah.
- Muncul tekanan emosional yang mendalam.
- Siklus kembali berulang dari awal.
Setiap kali hubungan memasuki fase kasih sayang, korban memperoleh harapan baru sehingga semakin sulit mengakhiri hubungan tersebut.
Siapa yang rentan alami trauma bonding?
Trauma bonding dapat terjadi pada siapa saja, tapi risikonya lebih tinggi pada orang yang sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan rasa aman secara emosional.
Anak yang memiliki hubungan tidak sehat dengan pengasuh atau orangtua berpotensi menganggap pola hubungan penuh konflik sebagai sesuatu yang normal ketika dewasa. Jadi, mereka lebih mudah tertarik pada pasangan manipulatif atau abusif karena otak sudah terbiasa dengan dinamika hubungan seperti itu.
Trauma bonding juga tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis. Ikatan serupa bisa muncul antara anak dengan pengasuh yang melakukan kekerasan, korban penculikan dengan pelaku, hingga anggota kelompok atau sekte dengan pemimpinnya.
Hubungannya dengan stockholm syndrome
Stockholm syndrome merupakan salah satu bentuk trauma bonding. Istilah ini berasal dari peristiwa perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada 1973, ketika sejumlah sandera dilaporkan mengembangkan kedekatan emosional dengan pelaku penyanderaan.
Trauma bonding memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup berbagai hubungan yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan emosional. Orang yang belum pernah mengalami kekerasan dalam hubungan sering bertanya mengapa korban tidak 'sekadar pergi'.
Faktanya, meninggalkan hubungan abusif jauh lebih rumit. Selain ketergantungan emosional, korban kerap menghadapi berbagai hambatan, seperti kekhawatiran kehilangan tempat tinggal, masalah ekonomi, ancaman terhadap keselamatan diri maupun anak, hingga rasa takut hidup sendiri.
Tubuh juga dapat memasuki respon 'freeze', yaitu salah satu mekanisme bertahan hidup ketika menghadapi ancaman. Dalam kondisi ini, korban lebih memilih bertahan dan mengabaikan rasa sakit demi mengurangi tekanan psikologis.
Cara mengatasi trauma bonding
Proses penyembuhan membutuhkan waktu dan dukungan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
- Kenali bahwa hubungan tersebut merupakan hubungan yang abusif.
- Menulis jurnal untuk melihat pola kekerasan yang selama ini terjadi.
- Berbicara dengan keluarga atau sahabat yang dapat dipercaya.
- Hentikan kebiasaan menyalahkan diri sendiri karena kekerasan bukanlah kesalahan korban.
- Batasi atau memutus kontak dengan pelaku apabila memungkinkan dan aman dilakukan.
- Susun rencana keselamatan, terutama jika terdapat ancaman kekerasan fisik.
- Cari bantuan psikolog atau terapis yang berpengalaman menangani trauma dan kekerasan dalam hubungan.
- Ikut kelompok pendampingan bagi penyintas kekerasan agar tidak merasa sendirian.
Melatih kasih sayang terhadap diri sendiri melalui pola hidup sehat, olahraga, serta aktivitas yang meningkatkan rasa percaya diri.
Salah satu perubahan pola pikir yang penting dalam proses pemulihan adalah berhenti menunggu pelaku berubah atau akhirnya menghargai diri korban. Penyintas perlu belajar menemukan kembali nilai dirinya tanpa bergantung pada pengakuan atau kasih sayang dari orang yang menyakitinya.
Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut, manipulasi, atau siklus luka dan permintaan maaf. Mengenali trauma bonding sejak dini merupakan langkah awal untuk keluar dari hubungan yang merugikan dan membangun kehidupan yang lebih aman, sehat, serta penuh penghargaan terhadap diri sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Cara Menghadapi Suami NPD
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
7 Tanda Pasutri Butuh Konseling Pernikahan, Jangan Ditunda-tunda Bun
7 Tanda Kesepian dalam Pernikahan, Penyebab & Cara Mengatasinya
Mengenal Arti Prioritas dalam Hubungan, Tanda Pasangan Melakukannya & Contohnya
7 Tujuan Menikah dalam Islam yang Perlu Diketahui
TERPOPULER
11 Cara Mengenali Orang Pemilik IQ Tinggi Melalui Cara Berbicara
5 Hal Penting Seputar Pergantian Tabung LPG 3 Kg ke Tabung Merah Putih
Denny Sumargo dan Olivia Allan Ungkap Sudah 4 Kali Gagal Program Bayi Tabung Anak Kedua
Gagal Masuk SD Negeri? Ini 65 Sekolah Dasar Swasta Gratis di Jakarta & Tangerang
Trauma Bonding: Kenapa Sulit Lepas dari Pasangan yang Kasar hingga Manipulatif?
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Stainless Steel 316 Terbaik, Lebih Aman, Tahan Panas & Karat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Tinted Sunscreen, Lindungi Kulit Wajah dari Sinar UV dengan Coverage Natural
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Matcha Bubuk yang Enak, Berkualitas hingga Terjangkau
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Vitamin D untuk Promil, Bagus untuk Suami Istri
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Panci Deep Fryer Kecil Multifungsi Stainless Steel Anti Lengket dan Tahan karat
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Jakarta X Beauty 2026 Resmi Digelar, Rayakan Pertumbuhan Industri Kecantikan dan Brand Lokal
Ruben Onsu Resmi Ajukan Gugatan Hak Asuh Anak, Sidang Pertama 15 Juli
5 Hal Penting Seputar Pergantian Tabung LPG 3 Kg ke Tabung Merah Putih
Denny Sumargo dan Olivia Allan Ungkap Sudah 4 Kali Gagal Program Bayi Tabung Anak Kedua
Gagal Masuk SD Negeri? Ini 65 Sekolah Dasar Swasta Gratis di Jakarta & Tangerang
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
T.O.P Bakal Gelar Fan Meeting di Jakarta, Jadi Kunjungan Pertama Setelah 14 Tahun
-
Beautynesia
7 Sayuran yang Mengandung Banyak Serat untuk Pencernaan
-
Female Daily
Guide Shaving di Rumah agar Kulit Tetap Mulus dan Bebas Iritasi, Simak Langkah yang Benar!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
4 Kali Cerai, Jennifer Lopez Anggap Putus Cinta Bukan Kegagalan
-
Mommies Daily
Tanpa Disadari, 5 Kesalahan Fashion Ini Bisa Membuat Anda Terlihat Lebih Tua