Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Atalia Praratya Tanggapi Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta: Lirik Sunda Tapi Tak Hargai Perempuan

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Jumat, 03 Jul 2026 11:30 WIB

Atalia Praratya
Ilustrasi Atalia Praratya Tanggapi Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta: Lirik Sunda Tapi Tak Hargai Perempuan/Foto: Instagram @ataliapr
Jakarta -

Lagu ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejat’ belakangan menjadi sorotan publik. Karya Bupati Purwarkarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, itu menuai kontroversi karena liriknya dinilai merendahkan perempuan.

Kontroversi tersebut pun memicu beragam tanggapan dari warganet hingga sejumlah tokoh publik. Salah satu yang ikut angkat bicara adalah Atalia Praratya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.

Dalam unggahan itu, Atalia membagikan cuplikan video musik lagu tersebut lengkap dengan lirik berbahasa Sunda beserta terjemahannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Setelah memahami maknanya, ia mengaku tak menyangka isi lagu tersebut dinilai tidak menunjukkan penghargaan terhadap perempuan, Bunda.

“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia, dikutip dari laman Instagram @ataliapr, Kamis (2/7/2026).

Lagu Bupati Purwakarta dinilai merendahkan perempuan

Bunda tiga anak itu pun mempertanyakan pemilihan kata yang menurutnya tidak pantas untuk lagu tersebut.

“Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?” ungkap Atalia.

Atalia pun menegaskan bahwa budaya Sunda sejak dahulu telah menjunjung tinggi nilai saling menghargai satu sama lain.

“Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi,” tuturnya.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut yang seharusnya tercermin dalam setiap karya yang mengatasnamakan budaya Sunda, termasuk dalam memandang martabak seorang perempuan.

“Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” ungkap Atalia.

Atalia kemudian menyoroti mirisnya di tengah upaya banyak pihak memperjuangkan kesetaraan gender. Ia mempertanyakan munculnya narasi tersebut yang dinilai patriarkal dari seorang pejabat publik.

“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun, mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah? Bagaimana menurut kalian?” ujarnya.

Postingan Atalia pun langsung mendapat dukungan publik, mulai dari netizen membanjiri kolom komentarnya. Beberapa di antaranya:

“Miris lihat seperti ini. Kapan mau majunya bangsa Indonesia. Padahal kita banyak pahlawan perempuan yang membuktikan kalau jasa perempuan tidak kalah dengan laki-laki,” tulis akun @theresiadewianggr****.

“Yang kaya begini dijadiin pemimpin, Bapak lahir dari rahim perempuan loh, kok bisa-bisanya bikin lirik yang merendahkan perempuan,” tulis akun @anjaryp****.

Lirik lagu ‘Lalaki Langit, Lalaki Bejat

Sejumlah lirik lagu ‘Lalaki Langit, Lalaki Bejat’ menuai kritik dari warganet, Bunda. Salah satunya karena memuat penggalan lirik yang menyinggung anak perempuan usia SMP, termasuk mengenai keguguran dan keterlambatan menstruasi.

Berikut lirik lengkap lagu tersebut beserta artinya yang dapat Bunda ketahui:

Nuhun Gusti

Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki

Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Cacak mun jadi awewe

Andai saja jadi perempuan

ES-Em-Pe kelas tilu

SMP kelas tiga

Tos Karuron tujuh kali

Sudah keguguran tujuh kali

Nuhun Gusti

Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki

Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu meuli kutang

Tidak usah membeli bra

Nu busana leuwih gede batan susu

yang busanya lebih besar dari payudara

Nuhun Gusti

Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki

Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek

Tidak usah keluyuran mencari apotek

Alatan telat bulan

Karena telat bulan (datang bulan)

Nuhun Gusti

Terima kasih Tuhan

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki

Sudah menciptakan aku jadi laki-laki

Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata

Tidak usah melukis alis dan bulu mata

Sakalina ngiceup hese beunta

Sekali kedip susah melek

Lalaki langit

Lelaki langit

Lalanang bejad

Lelaki bejat

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda