Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Spons Dapur yang Terlihat Bersih Ternyata Bisa Picu Penyakit, Simak Faktanya

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 14 Jul 2026 11:05 WIB

Woman holding a soapy sponge above a kitchen sink, preparing for dishwashing. Dish soap and dirty cups clutter the background, highlighting daily cleaning routines in a home setting
Ilustrasi spons dapur / Foto: Getty Images/RealPeopleGroup
Daftar Isi

Tahukah Bunda kalau spons dapur bisa menjadi sarang penyakit jika tidak pernah diganti? Yuk simak faktanya di sini.

Spons dapur adalah salah satu peralatan rumah tangga yang hampir setiap hari digunakan untuk mencuci piring, gelas, hingga peralatan memasak. Meski tampak bersih setelah dibilas, benda kecil ini ternyata dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis bakteri yang berpotensi memicu penyakit jika tidak dirawat dengan benar.

Kondisi spons yang lembap, sering bersentuhan dengan sisa makanan, dan jarang diganti bisa menjadi lingkungan ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk memahami bagaimana bakteri hidup, kapan menjadi berbahaya, serta langkah sederhana yang bisa dilakukan agar spons dapur tetap higienis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengutip Healthline, berikut informasi seputar spons dapur yang terlihat bersih ternyata bisa menjadi sarang penyakit.

Fakta mengenai spons dapur

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Organisme ini hidup hampir di mana saja, mulai dari tubuh manusia, air, tanah, makanan, hingga berbagai permukaan benda di rumah, termasuk spons dapur.

Meski sering dikaitkan dengan penyakit, sebagian besar bakteri sebenarnya tidak berbahaya. Bahkan National Human Genome Research Institute (NHGRI) menjelaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan beberapa jenis bakteri, terutama yang hidup di saluran pencernaan untuk membantu proses pencernaan dan menjaga kesehatan.

Mengapa spons dapur mudah menjadi sarang bakteri?

Spons dapur memiliki pori-pori yang mampu menyerap air dan menyimpan sisa-sisa makanan. Kombinasi kelembapan, suhu ruangan, serta nutrisi dari sisa makanan membuat bakteri dapat berkembang biak dengan cepat.

Bakteri sendiri memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Sebagian jenis mempunyai lapisan pelindung yang membuatnya lebih tahan terhadap kondisi lingkungan, sementara jenis lainnya memiliki struktur seperti rambut halus yang membantu menempel pada permukaan, termasuk serat spons.

Para ahli pun membagi bakteri ke dalam beberapa kelompok berdasarkan bentuknya, seperti batang (bacilli), bulat (cocci), spiral (spirilla), berbentuk koma (vibrios), hingga menyerupai sekrup (spirochaetes). Selain bentuknya, bakteri juga dibedakan berdasarkan kebutuhan oksigen.

Ada bakteri yang membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup, beberapa justru mati jika terkena oksigen. Sebagian bakter juga bisa hidup dalam kedua kondisi tersebut. Keragaman inilah yang membuat bakteri dapat ditemukan hampir di semua lingkungan, termasuk spons cuci piring.

Penyakit yang dipicu bakteri berbahaya

Jika bakteri patogen berpindah dari spons dapur pindah ke tangan, makanan, atau peralatan makan, risiko infeksi pun dapat meningkat. Jenis bakteri berbahaya diketahui dapat menyebabkan berbagai penyakit.

Beberapa infeksi akibat bakteri, antara lain infeksi telinga, sinusitis, radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus (strep throat), batuk rejan, meningitis bakteri, infeksi saluran kemih (ISK), bacterial vaginosis, infeksi Salmonella, tetanus, hingga infeksi kulit seperti selulitis, folikulitis, dan impetigo. Bahkan beberapa bakteri juga menjadi penyebab infeksi menular seksual seperti klamidia, gonore, dan sifilis.

Bakteri baik tetap dibutuhkan tubuh

Di balik reputasinya sebagai penyebab penyakit, bakteri sebenarnya memiliki peran penting bagi kesehatan manusia. Peneliti memperkirakan jumlah bakteri di dalam tubuh bahkan jauh lebih banyak dibandingkan sel manusia.

Mayoritas bakteri baik berada di usus dan membantu mencerna makanan, menjaga keseimbangan sistem pencernaan, serta mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tak heran, sebagian orang mengonsumsi probiotik yang mengandung bakteri baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria, terutama setelah menjalani terapi antibiotik.

Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Namun obat ini tidak boleh digunakan sembarangan karena pemakaian yang tidak tepat dapat memicu resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap pengobatan.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan lebih dari 28 persen resep antibiotik sebenarnya tidak diperlukan. Oleh karena itu, antibiotik hanya boleh dikonsumsi sesuai anjuran dokter.

Para ahli juga mengingatkan agar pasien selalu menghabiskan antibiotik sesuai resep dokter, tidak menggunakan obat milik orang lain, dan tak menghentikan pengobatan meski gejala sudah membaik.

Cara menjaga spons dapur tetap higienis

Karena spons dapur dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, kebersihannya tidak boleh diabaikan. Bunda harus membilas spons hingga bersih setelah digunakan, memerasnya sampai tidak terlalu basah, serta membiarkannya mengering sebelum dipakai kembali. Ini dapat membantu mengurangi pertumbuhan bakteri.

Selain itu, spons sebaiknya diganti secara berkala, terutama jika mulai berbau, berubah warna, atau mudah hancur. Dengan kebiasaan sederhana tersebut, risiko perpindahan bakteri ke peralatan makan maupun makanan keluarga bisa terhindarkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda