Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

9 Perangkat Elektronik yang Bikin Tagihan Listrik Membengkak

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 11 Aug 2026 11:05 WIB

White power strip with a blue cord plugged into it. A cell phone is plugged into the strip
Ilustrasi perangkat elektronik yang bikin tagihan listrik membengkak / Foto: Getty Images/simpson33
Daftar Isi

Tagihan listrik di rumah tiba-tiba terasa lebih besar padahal pemakaian sehari-hari tidak banyak berubah, Bunda? Bisa jadi penyebabnya bukan hanya perangkat elektronik berdaya besar seperti kulkas, AC, atau mesin cuci.

Sejumlah perangkat yang terlihat sepele ternyata tetap menggunakan listrik meski sedang tidak digunakan. Kondisi ini semakin mudah terjadi di rumah yang sudah menggunakan banyak perangkat pintar.

Televisi, smart speaker, konsol gim, hingga charger ponsel bisa tetap menarik listrik ketika berada dalam mode siaga atau standby. Konsumsi setiap perangkat memang relatif kecil, namun jika jumlahnya banyak dan terus terhubung sepanjang hari, pemakaiannya dapat terakumulasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ben Thomas, CEO sekaligus pendiri Gatby, menjelaskan smart device pada dasarnya membutuhkan aliran listrik meski tidak sedang digunakan secara aktif. Hal tersebut diperlukan agar perangkat tetap terhubung ke jaringan dan dapat merespon perintah dengan cepat.

"Smart device sering kali tetap aktif untuk mendengarkan perintah atau mempertahankan koneksi jaringan. Kondisi ini menyebabkan konsumsi listrik tersembunyi atau yang sering disebut phantom power," ujar Thomas dilansir dari The Spruce.

Vincent Ambrose, Chief Commercial Officer FranklinWH, menambahkan bahwa kondisi tersebut juga dapat terjadi pada lampu pintar, modul colokan, dan speaker. Perangkat-perangkat itu membutuhkan sedikit aliran listrik secara terus-menerus agar tetap terhubung dengan Wi-Fi, menunggu perintah, dan dapat menyala dengan cepat.

Perangkat elektronik yang bikin tagihan listrik membengkak

Berikut deretan perangkat elektronik yang sebaiknya Bunda perhatikan di rumah agar tagihan listrik tidak semakin membengkak.

1. Televisi

Televisi menjadi salah satu perangkat yang sering dibiarkan dalam kondisi standby. Sekilas, TV yang sudah dimatikan melalui remote memang tampak tidak bekerja. Namun selama masih terhubung dengan sumber listrik, sebagian perangkat tetap mengonsumsi energi.

Data Utilita menunjukkan televisi yang dibiarkan dalam mode standby dapat menggunakan listrik sekitar £16,24 atau setara Rp391 ribu per tahun berdasarkan tarif dalam riset tersebut. Sementara itu, menonton televisi selama lima jam tercatat menggunakan sekitar 3,7 pence atau setara Rp89 ribu.

Smart TV juga dapat membutuhkan daya lebih besar dalam kondisi standby dibandingkan televisi biasa karena tetap menjalankan fungsi jaringan tertentu. Thomas bahkan menyebut konsumsi beberapa smart TV dalam keadaan standby bisa mencapai berkali-kali lipat dibandingkan TV konvensional.

Untuk itu, jika televisi tidak akan digunakan dalam waktu lama, terutama saat bepergian, Bunda bisa mempertimbangkan untuk mematikan sumber listriknya. Penggunaan stopkontak pintar atau smart power juga dapat membantu memutus aliran listrik dengan lebih praktis.

2. Konsol gim

Bunda punya anak yang gemar bermain PlayStation atau Xbox? Jangan hanya memperhatikan berapa lama konsol digunakan untuk bermain. Perangkat yang dibiarkan dalam mode standby juga tetap membutuhkan listrik.

Berdasarkan penelitian Utilita, konsol gim seperti Xbox dan PlayStation menggunakan sekitar 10 watt ketika berada dalam kondisi standby. Dalam perhitungan riset tersebut, konsumsi ini setara sekitar 4,45 pence atau setara Rp107 ribu per hari atau £16,24 atau setara Rp391 ribu per tahun.

Agar konsumsi tidak terus berjalan setelah sesi bermain selesai, pastikan konsol benar-benar dimatikan jika memang tidak akan digunakan lagi dalam waktu dekat. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi penggunaan listrik yang tidak perlu.

3. Laptop

Laptop yang sering menemani Bunda bekerja dari rumah ternyata juga bisa menjadi sumber konsumsi listrik meski sedang tidak aktif digunakan. Perangkat yang masuk ke mode idle tetap dapat menarik daya dalam jumlah tertentu.

Menurut data Utilita, penggunaan laptop selama lima jam membutuhkan biaya listrik sekitar 6,96 pence atau setara Rp166 ribu. Sementara ketika berada dalam kondisi idle, perangkat dapat menggunakan sekitar 3 watt yang dalam perhitungan tersebut setara sekitar 1,33 pence atau setara Rp32 ribu per hari atau £4,87 atau setara Rp117 ribu per tahun.

Jika laptop hanya ditinggalkan sebentar, mode sleep mungkin cukup praktis. Namun kalau tidak digunakan dalam waktu lama, sebaiknya perangkat dimatikan sepenuhnya dan adaptor dilepas dari stopkontak.

Selain mengurangi konsumsi listrik, mematikan laptop secara berkala juga dapat membantu menjaga perangkat tetap bekerja secara optimal. Jadi, jangan biasakan membiarkannya menyala sepanjang malam hanya karena akan digunakan kembali keesokan harinya.

4. Charger

Charger ponsel sering dianggap tidak membutuhkan listrik ketika tidak sedang mengisi daya. Padahal adaptor yang tetap tertancap di setopkontak dapat menggunakan sedikit energi meski ponsel sudah dilepas.

Menurut data yang dikutip dari Utilita, charger yang dibiarkan terhubung ketika tidak digunakan dapat menambah sekitar 32 pence atau setara Rp770 ribu pada tagihan listrik dalam setahun. Jumlah tersebut memang tidak besar jika hanya ada satu charger.

Coba hitung berapa banyak charger yang ada di rumah, mulai dari charger ponsel, tablet, smartwatch hingga perangkat elektronik lainnya? Jika semuanya dibiarkan tertancap sepanjang waktu, konsumsi listrik kecil tersebut dapat terakumulasi.

Adam Cain, pakar energi dari ElectricityRates, menyarankan penggunaan smart power strip yang dapat dimatikan dengan mudah. Cara paling sederhana tentu dengan mencabut charger setelah selesai digunakan, terutama jika perangkat tidak akan dipakai dalam waktu lama.

5. Smart speaker

Speaker pintar memang memudahkan aktivitas di rumah. Bunda dapat memutar musik, mengatur alarm, atau memberikan perintah hanya dengan suara. Namun fitur tersebut membuat perangkat perlu tetap terhubung dan siap menerima perintah.

Speaker pintar diperkirakan membutuhkan sekitar 2 watt ketika berada dalam kondisi standby. Berdasarkan perhitungan Utilita, konsumsi tersebut dapat menambah sekitar £3,45 atau setara Rp83 ribu per tahun untuk setiap speaker.

Satu perangkat mungkin tidak terasa dampaknya. Namun bagaimana jika di rumah terdapat beberapa speaker pintar yang aktif sepanjang hari? Ditambah dengan smart televisi, lampu pintar, dan perangkat lain yang juga selalu terhubung, konsumsi listrik standby dapat semakin besar.

6. Kulkas lama

Kulkas memang harus menyala sepanjang waktu untuk menjaga makanan tetap dingin. Namun jika perangkat yang digunakan sudah berusia sangat tua, konsumsi listriknya bisa menjadi pertimbangan tersendiri.

Nick Barber, salah satu pendiri Utilities Now, mengatakan kulkas yang berusia lebih dari 15 tahun mungkin perlu dievaluasi kembali. Menurutnya, kulkas lama dapat mengonsumsi hingga 1.000 unit listrik per tahun dengan biaya sekitar US$150 berdasarkan tarif yang digunakan dalam perhitungannya.

"Selain konsumsi listrik yang tinggi, kulkas lama juga mungkin tidak bekerja secara optimal akibat masalah pada insulasi atau kompresor yang sudah tua," ujar Barber dilansir dari Real Simple.

Kondisi ini sering ditemukan pada kulkas kedua yang ditempatkan di garasi atau ruang penyimpanan. Sebelum mengganti perangkat, Bunda dapat menghitung kembali biaya listrik tahunan dibandingkan harga dan efisiensi kulkas baru. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah kulkas dengan sertifikasi hemat energi.

7. Printer

Printer di rumah biasanya tidak digunakan sepanjang hari. Namun perangkat ini sering dibiarkan menyala dan terhubung dengan listrik supaya siap digunakan kapan saja.

Menurut data Utilita, printer yang tidak digunakan tapi tetap terhubung dengan listrik dapat mengonsumsi sekitar 4 watt. Dalam perhitungan tersebut, penggunaan ini setara sekitar 1,78 pence per hari atau Rp42 ribu.

Nominalnya memang relatif kecil. Akan tetapi, jika printer hanya digunakan sesekali, tidak ada salahnya mematikannya setelah selesai mencetak dan mencabut sumber listriknya.

Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan pada berbagai perangkat lain yang jarang digunakan. Prinsipnya sederhana, semakin sedikit perangkat yang terus berada dalam kondisi standby, semakin kecil pula potensi konsumsi listrik tersembunyi di rumah.

8. Water heater

Mandi air hangat memang nyaman, terutama ketika cuaca sedang dingin. Suhu water heater yang terlalu tinggi dapat membuat perangkat bekerja lebih keras dan mengonsumsi energi lebih banyak.

Kate Colarulli, Chief Strategy Officer di CleanChoice Energy, menyarankan agar suhu pemanas air diperiksa dan tidak diatur terlalu tinggi. Ia merekomendasikan pengaturan sekitar 120 derajat Fahrenheit atau sekitar 49 derajat Celsius.

"Menurunkan suhu water heater hingga 120 derajat Fahrenheit dapat membantu menghemat energi sekaligus mengurangi risiko terkena air yang terlalu panas," kata Colarulli.

Pada water heater dengan tangki, air dipanaskan dan disimpan pada suhu tertentu secara terus-menerus. Artinya, semakin tinggi suhu yang ditetapkan, semakin besar pula pekerjaan yang harus dilakukan sistem untuk mempertahankannya.

Dengan mengatur suhu secara bijak, bisa menjadi salah satu cara sederhana mengurangi penggunaan energi tanpa harus menghilangkan kebiasaan mandi dengan air hangat.

9. Perangkat dengan mode standby

Selain perangkat di atas, berbagai elektronik rumah tangga yang memiliki remote control, layar LED, atau adaptor juga patut diperhatikan. Televisi, cable box, perangkat streaming, microwave, coffee maker, hair dryer, hingga alat styling rambut dapat tetap menggunakan sejumlah kecil listrik ketika tidak benar-benar diputus dari sumber listrik.

Barber menjelaskan, salah satu tanda perangkat masih mengonsumsi energi meski terlihat mati adalah adanya remote control, layar LED, atau adaptor. Perangkat seperti ini dapat terus menggunakan listrik dalam jumlah kecil ketika tidak sedang digunakan.

Konsumsi tersebut sering disebut phantom energy, vampire energy, atau standby energy. Adam Cain menyarankan penggunaan smart power strip atau mematikan perangkat secara manual ketika sudah tidak diperlukan. Dengan begitu, aliran listrik ke perangkat yang sedang menganggur dapat diputus secara otomatis atau langsung.

Cara mengurangi listrik yang terbuang percuma

Selain memperhatikan perangkat elektronik, Bunda juga dapat melakukan beberapa kebiasaan sederhana di rumah. Misalnya saja, mencabut charger setelah digunakan, mematikan konsol gim dan televisi sepenuhnya, serta menggunakan stopkontak pintar untuk perangkat yang sering berada dalam mode standby.

Jangan lupa memeriksa peralatan HVAC secara berkala. Dan Simpson, pemilik Air Treatment Heating and Cooling, mengatakan filter udara HVAC yang kotor dapat menjadi salah satu penyebab tersembunyi meningkatnya tagihan listrik.

"Ketika filter udara dipenuhi debu dan kotoran, sistem harus bekerja lebih keras untuk mengalirkan udara. Akibatnya, konsumsi energi meningkat," ucap Simpson.

Menurutnya, filter udara yang kotor dapat meningkatkan biaya energi sekitar 10 persen hingga 20 persen tanpa disadari pemilik rumah. Ia menyarankan agar filter diperiksa setiap bulan dan diganti setiap satu hingga tiga bulan, tergantung jenis filter, tingkat debu, serta jumlah hewan peliharaan di rumah.

Pada akhirnya, tidak semua smart device otomatis membuat tagihan listrik melonjak. Beberapa teknologi justru dapat membantu menghemat energi jika digunakan dengan tepat. Kuncinya, mengetahui perangkat mana yang benar-benar dibutuhkan dan mengurangi konsumsi listrik ketika perangkat sedang tidak digunakan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda