Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Cara Mengenali Orang Egois dari 9 Ucapan yang Sering Mereka Katakan saat Ngobrol

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Jumat, 14 Aug 2026 11:06 WIB

Ilustrasi Teman
Ilustrasi cara mengenali orang egois dari ucapan yang sering mereka katakan saat ngobrol / Foto: Getty Images/iStockphoto/Thicha Satapitanon
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang terlihat baik dan menyenangkan, tetapi tanpa sadar selalu mementingkan dirinya sendiri. Sifat egois seperti ini terkadang tidak mudah dikenali karena bisa tersembunyi di balik cara bicara sehari-hari.

Namun, ucapan tertentu dapat menjadi petunjuk untuk mengenali orang yang cenderung hanya memikirkan dirinya sendiri. Terlebih jika kalimat tersebut terus diucapkan dalam situasi yang sama dan membuat Bunda merasa tidak dihargai.

Dengan mengenali ucapan yang sering mereka gunakan, Bunda bisa lebih bijak menjaga jarak dan tidak ikut terseret energi negatifnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


9 Ucapan yang sering dikatakan orang egois saat ngobrol

Dilansir Your Tango, orang yang menggunakan beberapa kalimat ini dalam percakapan santai, mereka mungkin punya sifat egois secara mental dan emosional.

1. “Aku hanya bicara jujur”

Meskipun jujur sering dikaitkan dengan kebaikan, ada saat-saat ketika kalimat seperti ini dapat menunjukkan sifat asli seseorang. Kata-kata menyakitkan dengan kedok kejujuran masih menyakitkan untuk didengar.

Lebih mudah bagi mereka untuk lolos dengan perilaku egois ketika menunjuk jari pada orang lain. Menggunakan kejujuran sebagai penutup untuk keegoisan mereka membuat orang percaya bahwa mereka memiliki kepentingan terbaik, meskipun itu jauh dari kebenaran.

2. “Aku tidak akan melakukan itu”

Bunda tentu pernah mengalami saat-saat ketika seseorang memberikan pendapatnya bahkan jika itu tidak beralasan. Ini bisa menjadi mekanisme yang dipikirkan dengan matang.

Menempatkan diri terlebih dahulu dapat membuat mereka terlalu menghakimi dan melihat hal-hal sebagai cara mereka. Ketika dapat mengendalikan Bunda, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang memberi makan kebutuhan egoisnya. 

Memainkan perilaku ini sebagai saran yang bermanfaat memungkinkan mereka untuk menyembunyikan niat yang sebenarnya, yaitu hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ideologi yang berpusat pada diri sendiri jarang akan menguntungkan siapa pun kecuali orang yang manipulatif. Jika mereka dapat membujuk untuk tidak mengambil keputusan dengan membuat orang lain merasa bersalah atau salah, mereka telah melakukan pekerjaannya.

3. “Aku melakukan segalanya untukmu”

Membuat seseorang merasa bersalah (guilt-tripping) bisa menjadi masalah serius dalam hubungan, baik hubungan romantis maupun pertemanan.

Seseorang yang sering mengungkit kebaikan atau bantuannya kepada kita bisa saja tidak benar-benar tulus.

Ketika mereka membuat Bunda merasa bersalah atas semua hal yang sudah mereka lakukan, bisa jadi mereka sebenarnya mengharapkan sesuatu sebagai imbalan atau ingin memiliki kendali atas Bunda.

4. “Aku tidak berurusan dengan ini”

Sering kali, orang yang menggunakan kalimat seperti ini sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Mengalihkan pembicaraan menjadi cara paling mudah untuk menghindari tekanan dan bisa menjadi bentuk pertahanan diri.

Mereka mungkin berharap Bunda berhenti membahas masalah tersebut dan mengakhiri percakapan, sehingga mereka tidak perlu menghadapi kesalahan sendiri atau membuka diri untuk memberikan dukungan emosional.

5. “Kamu selalu salah”

Beberapa orang mungkin lebih fokus pada diri sendiri dan bagaimana perlakuan orang-orang di sekitarnya memengaruhi perasaan mereka.

Menyalahkan orang lain membuat mereka merasa lebih unggul dan semakin yakin bahwa dirinya selalu benar, sementara orang lain yang salah.

Orang seperti ini sering mengira bahwa semua orang di sekitarnya selalu salah. Mereka cenderung melihat segala sesuatu hanya dari dua sisi, benar atau salah, dan menganggap orang lain seharusnya berpikir seperti dirinya. Ketika ada yang memiliki pendapat berbeda, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru.

6. “Aku tidak punya energi untuk itu”

Ada kalanya seseorang sedang menghadapi banyak hal dalam hidupnya sehingga tidak memiliki tenaga untuk membantu atau mendengarkan orang lain.

Hal tersebut wajar dan seharusnya tetap dihargai. Namun, sebagian orang bisa menggunakan alasan seperti “Aku nggak punya energi” untuk menghindari kewajiban hadir bagi orang lain.

Bagi orang yang egois, menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri terasa lebih penting, sementara membantu orang lain dianggap sebagai beban atau gangguan.

7. “Kamu selalu membuat semua tentang kamu”

Orang yang egois biasanya tidak suka jika perhatian tertuju pada orang lain. Mereka ingin mengendalikan percakapan agar pembahasannya kembali berpusat pada diri mereka.

Ketika Bunda mencoba bercerita tentang kehidupan atau masalah sendiri, mereka bisa bersikap defensif karena merasa perhatian yang didapatkan berkurang. Membuat Bunda merasa bersalah menjadi cara untuk mengalihkan perhatian kembali kepada mereka.

Orang yang seperti ini sebenarnya sering melakukan hal yang justru mereka tuduhkan kepada orang lain.

Mereka tidak benar-benar ingin mendengarkan cerita, pendapat, atau perasaan Bunda, tetapi selalu ingin didengarkan ketika membicarakan dirinya sendiri.

8. “Kamu tidak peduli”

Penting untuk menyadari bahwa orang seperti ini sering merasa masalah yang mereka hadapi jauh lebih berat dibandingkan orang lain di sekitarnya.

Ketika menceritakan kesulitannya, mereka biasanya berharap mendapatkan simpati. Mereka ingin Bunda memberikan perhatian dan meyakinkan bahwa perasaan mereka memang valid.

Jika tidak merespons seperti yang mereka harapkan, Bunda bahkan bisa dianggap sebagai orang yang jahat, meskipun sebenarnya sudah berusaha memberikan dukungan.

9. “Terserah”

Orang seperti ini biasanya menginginkan perhatian sesuai dengan keinginannya. Ketika Bunda mengatakan sesuatu lalu mereka menjawab, “Terserah,” itu bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Akibatnya, Bunda merasa bersalah dan bingung, yang justru bisa menjadi tujuan mereka.

Mereka juga bisa menggunakan ucapan seperti ini untuk mengabaikan masalah atau perasaan orang lain.

Mereka mungkin tidak ingin ikut memikirkan masalah orang lain dan memilih menghindari pembicaraan tersebut. Dengan mengatakan “Terserah”, mereka berusaha mengakhiri pembicaraan atau mengalihkan fokusnya.

Nah, itulah beberapa ucapan yang sering dikatakan orang egois saat ngobrol. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda