HaiBunda

MOM'S LIFE

Dikira Punah 60 Tahun, Tanaman Langka Ini Tak Sengaja Ditemukan Kembali

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Sabtu, 22 Aug 2026 21:30 WIB
Ilustrasi / Foto: Getty Images/iStockphoto/Wendy Townrow

Ada tanaman langka yang disangka sudah punah ternyata ditemukan kembali. Tanaman apa yang dimaksud? Simak ceritanya, Bunda.

Bunda apakah pernah membayangkan sebuah tanaman yang selama puluhan tahun dianggap sudah punah ternyata masih tumbuh di alam liar? Hal tak terduga ini terjadi di pedalaman Australia.

Sebuah foto yang diambil secara kebetulan justru mengungkap keberadaan kembali tanaman langka yang sudah hampir 60 tahun tidak ditemukan. Tanaman tersebut adalah Ptilotus senarius, spesies langka dengan bunga berwarna merah muda keunguan yang sekilas tampak seperti kembang api kecil.


Mengutip Science Daily, hal ini bermula dari foto seorang warga yang kemudian diunggah ke platform sains warga iNaturalist. Berkat foto sederhana tersebut, ilmuwan akhirnya mengetahui bahwa tanaman yang sempat dianggap hilang dari alam ternyata masih bertahan.

Berawal dari foto tanaman yang dianggap aneh

Penemuan Ptilotus senarius bermula ketika Aaron Bean, seorang hortikulturis yang sedang membantu kegiatan pemasangan cincin pada burung di sebuah kawasan pedalaman Queensland, Australia, melihat tanaman yang menurutnya menarik. Ia kemudian memotret tanaman tersebut dan mengunggahnya ke iNaturalist setelah mendapatkan kembali akses jaringan telepon.

Foto itu awalnya hanyalah satu dari jutaan pengamatan yang dibagikan pengguna di platform tersebut. Namun unggahan Aaron akhirnya menarik perhatian Anthony Bean, ahli botani dari Queensland Herbarium. Ia langsung mengenali tanaman dalam foto tersebut sebagai Ptilotus senarius.

Terakhir terlihat pada 1967

Hal yang membuat temuan ini semakin mengejutkan adalah Ptilotus senarius sudah tidak terdokumentasi sejak 1967. Selama hampir enam dekade, tanaman tersebut diyakini telah menghilang dari alam dan dianggap punah secara lokal.

Anthony Bean bahkan merupakan ahli botani yang mendeskripsikan spesies tersebut sekitar satu dekade sebelum penemuan kembali ini. Thomas Mesaglio dari School of Biological, Earth and Environmental Sciences, UNSW, yang mendokumentasikan penemuan tersebut dalam Australian Journal of Botany, menyebut prosesnya berlangsung secara kebetulan.

"Ini adalah sesuatu yang sangat kebetulan," ujar Mesaglio.

Punya bunga mirip kembang api

Ptilotus senarius merupakan tanaman perdu berukuran relatif kecil dengan bunga berwarna merah muda hingga ungu. Bentuk bunganya tampak menyerupai kembang api kecil yang sedang mekar sehingga membuatnya cukup mencolok ketika tumbuh di antara lanskap kering.

Spesies ini diketahui tumbuh di kawasan medan terjal dekat Gulf of Carpentaria, Australia bagian utara. Lingkungan yang sulit dijangkau membuat keberadaan tanaman tersebut kemungkinan tidak mudah diketahui selama bertahun-tahun.

Statusnya tidak lagi punah

Setelah foto tersebut ditemukan, peneliti bekerja sama dengan pemilik lahan untuk mendapatkan spesimen tanaman. Pemeriksaan akhirnya mengonfirmasi bahwa Ptilotus senarius masih bertahan di alam liar.

Temuan ini membuat status tanaman tersebut berubah. Jika sebelumnya diyakini telah punah, kini Ptilotus senarius ditempatkan dalam kategori sangat terancam atau critically endangered. Perubahan status tersebut penting karena dapat membantu ilmuwan dan kelompok konservasi menentukan langkah perlindungan yang lebih tepat.

"Ini adalah salah satu situasi ketika semuanya harus terjadi pada waktu yang tepat dan ada sedikit keberuntungan," kata Mesaglio.

Warga biasa bisa bantu penelitian ilmiah

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa penelitian keanekaragaman hayati tidak selalu harus dilakukan oleh ilmuwan di laboratorium atau melalui ekspedisi besar. Masyarakat umum yang gemar memotret tumbuhan dan satwa ternyata dapat berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Platform seperti iNaturalist memungkinkan orang mengunggah foto organisme yang mereka temukan. Data tersebut kemudian dapat dipelajari oleh komunitas dan peneliti untuk membantu mengidentifikasi spesies, mengetahui persebarannya, hingga menemukan kembali organisme yang sebelumnya dianggap hilang.

Bagi Australia, kontribusi masyarakat menjadi semakin penting karena wilayah negaranya sangat luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Para ilmuwan tidak mungkin menjangkau setiap sudut wilayah secara rutin. Apalagi, sekitar sepertiga daratan Australia merupakan lahan milik pribadi.

Pemilik lahan bisa berperan

Menurut Mesaglio, keterlibatan pemilik lahan dapat membuka akses ke berbagai kawasan yang mungkin sulit dijangkau peneliti. Ketika pemilik lahan atau orang yang mendapat izin bisa mendokumentasikan tumbuhan dan satwa di sekitarnya, informasi tersebut dapat memperkaya data ilmiah.

Di New South Wales misalnya, terdapat program Land Libraries yang dijalankan Biodiversity Conservation Trust. Program tersebut memberikan pelatihan dan peralatan kepada pemilik lahan untuk membantu mereka mendokumentasikan satwa serta tumbuhan di wilayah masing-masing dan mengunggah hasil pengamatan ke platform sains warga.

Keterlibatan masyarakat seperti ini bukan hanya membantu ilmuwan. Menurut Mesaglio, semakin sering seseorang berinteraksi dengan alam dan terlibat dalam penelitian, semakin besar pula peluang munculnya kepedulian untuk menjaga keanekaragaman hayati di sekitarnya.

Foto tanaman sebaiknya tidak hanya dari satu sisi

Bunda yang gemar berkebun atau berjalan-jalan di alam juga bisa belajar dari penemuan ini. Jika menemukan tanaman yang belum dikenal, dokumentasi yang lengkap dapat membantu proses identifikasi.

Mesaglio menyarankan agar masyarakat tidak hanya mengambil foto close-up bunga. Sebab, beberapa spesies yang masih berkerabat dapat memiliki bentuk bunga yang sangat mirip. Foto daun, batang, kulit tanaman, hingga keseluruhan bentuk tumbuhan dapat memberikan petunjuk tambahan bagi para peneliti.

Selain foto, informasi mengenai lokasi dan kondisi tempat tanaman tumbuh juga dapat membantu. Misalnya saja, jenis tanah, tumbuhan lain yang berada di sekitarnya, atau keberadaan serangga dan hewan yang terlihat mendekati tanaman tersebut.

Bahkan informasi yang tidak bisa ditangkap kamera, seperti aroma tanaman, terkadang dapat menjadi petunjuk untuk menentukan spesies.

"Semakin banyak informasi dan konteks yang diberikan, semakin besar potensi kegunaan catatan tersebut di masa depan," ucap Mesaglio.

Penemuan Ptilotus senarius di atas bukan satu-satunya contoh bagaimana platform sains warga membantu penelitian. Dalam penelitian terpisah, Mesaglio menemukan bahwa data dari iNaturalist telah digunakan atau dikutip dalam berbagai penelitian ilmiah yang mencakup 128 negara dan ribuan spesies.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Daun Kelor Bantu Atasi Berbagai Penyakit

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri Orang yang Hidup Bahagia dari Kalimat yang Sering Diucapkan Menurut Pakar

Mom's Life Dilla Atqia Rahmah

Potret Gemas Cara Rose, Anak Rianti Cartwright yang Baru Rayakan Ultah ke-6

Parenting Annisa Karnesyia

Dikira Punah 60 Tahun, Tanaman Langka Ini Tak Sengaja Ditemukan Kembali

Mom's Life Arina Yulistara

6 Kebiasaan Orang yang Tetap Tenang di Bawah Tekanan Tinggi Tanpa Burnout

Mom's Life Amira Salsabila

Cerita Fanny Ghassani Pernah Merasa Tidak Dibela Suami saat Berjuang Punya Anak

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ciri Orang yang Hidup Bahagia dari Kalimat yang Sering Diucapkan Menurut Pakar

Dikira Punah 60 Tahun, Tanaman Langka Ini Tak Sengaja Ditemukan Kembali

Potret Gemas Cara Rose, Anak Rianti Cartwright yang Baru Rayakan Ultah ke-6

6 Kebiasaan Orang yang Tetap Tenang di Bawah Tekanan Tinggi Tanpa Burnout

Mengenal Gymnademics Global Mandiri Cibubur, Pusat Stimulasi & Pendidikan Bayi hingga Anak 3 Tahun

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK