Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

8 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang "Aku Baik-baik Saja" Padahal Tidak Menurut Psikolog

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Senin, 31 Aug 2026 14:25 WIB

Young woman having a headache while sitting on the sofa at home.
Ilustrasi / Foto: Getty Images/urbazon
Daftar Isi

Ketika ditanya kabar oleh orang lain, kata “Aku baik-baik saja” menjadi kata yang paling sering diucapkan terlepas keadaan yang sebenarnya. Respon ini bisa saja sesuai keadaan, refleks diucapkan ketika ada yang bertanya, atau untuk menutupi kondisi yang sebenarnya.

Menurut psikolog, ternyata ada ciri kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang tidak dalam kondisi baik.

Ciri kepribadian orang yang sering bilang "Aku Baik-baik Saja"

Penasaran apa saja ciri kepribadian tersebut? Yuk, Bunda, simak informasinya selengkapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Penghindaran konflik

Dalam sebuah perdebatan atau situasi yang memanas, kalimat “Aku baik-baik saja” bisa jadi ciri kepribadian orang yang sebenarnya sedang menghindar dari konflik.

Psikolog klinis sekaligus CEO Equilibria Leadership Consulting Dr. Nicole Lipkin, psyD, MBA, menyampaikan bahwa ucapan baik-baik saja bisa jadi tameng dibandingkan jujur soal kekesalan yang berujung pertengkaran.

“Mengakui bahwa mereka kesal terasa seperti membuka pintu menuju pertengkaran, jadi 'Saya baik-baik saja' menjadi tamengnya,” ungkapnya.

2. Orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain

Ciri kepribadian selanjutnya adalah orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Terkadang orang yang berkata baik-baik saja adalah cara untuk menyenangkan atau menenangkan lawan bicaranya.

Ia sengaja menyembunyikan perasaan sesungguhnya agar orang lain tidak khawatir akan kondisinya.

 “Jika mereka mengakui kesulitan yang mereka alami, mereka takut hal itu akan membebani orang lain.” ujar Dr. Lipkin.

3. Pengalihan emosi

Emosi yang berkaitan dengan kemarahan atau kekesalan seringkali dianggap negatif atau mengganggu ketenangan. Dengan berkata baik-baik saja, ini dapat memendam emosi sebenarnya, seolah-olah kondisi sedang baik.

Padahal, yang terjadi adalah kita lebih memilih memendam dibanding merasakan atau membagikannya kepada orang lain.

“Seiring waktu, mereka belajar bahwa lebih aman untuk mengesampingkan perasaan daripada mengambil risiko menunjukkan kerentanan,” kata Dr. Lipkin. 

4. Perfeksionis

Perfeksionis merupakan salah satu ciri kepribadian orang yang biasa berkata baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak. Mengutip laman Parade, sebagian orang mungkin tidak nyaman dengan kesalahan, kegagalan, atau persepsi negatif.

Sehingga, respon baik-baik saja keluar agar orang lain beranggapan kita memang sedang dalam kondisi baik. Berkaitan dengan hal ini, Dr. Lipkin juga berkata bahwa:

“Ketika identitas Anda terkait erat dengan penampilan yang sempurna, mengatakan 'Saya tidak baik-baik saja' terasa seperti kegagalan.”

“Jadi Anda terus tersenyum dan bersikeras bahwa semuanya baik-baik saja,” sambungnya.

5. Kewalahan secara emosi

Adanya emosi yang telah lama dipendam dapat menumpuk dan membuat seseorang menjadi kewalahan menghadapi emosinya. Ketika hal ini terjadi, kalimat "Saya baik-baik saja" menjadi lebih mudah dikatakan sebagai respon cepat. Namun, sebenarnya ini hanya baik untuk efek jangka pendek, Bun.

Psikolog dan Kepala Perawatan Klinis di Octave, Goole Abrishami, PhD berpendapat, mereka mungkin kewalahan secara emosional dan perasaan itu terlalu besar untuk diproses saat itu juga.

"Jadi mereka meremehkannya dengan sebuah kalimat sederhana,” katanya.

6. Menghargai kemandirian

Seseorang yang terbiasa sendiri atau mandiri seringkali tidak nyaman berbagi perasaan dengan orang lain. Mereka tidak nyaman untuk meminta bantuan atau dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

“Mereka mungkin hanya merasa bangga karena mampu menangani semuanya sendiri,” ucap Dr. Abrishami.

“Mengatakan 'Saya baik-baik saja' bisa jadi merupakan versi dari 'Saya bisa mengatasi ini sendiri.'” sambungnya.

7. Penyendiri

Hampir sama dengan ciri kepribadian sebelumnya, orang yang lebih senang menyendiri umumnya tidak ingin menimbulkan masalah, terlihat lemah, atau menarik perhatian. Sayangnya, hal itu dapat menyebabkan kesepian.

“Ada orang-orang yang telah belajar untuk hanya mengandalkan diri sendiri,” kata Dr. Lipkin. 

Dengan mengatakan baik-baik saja, seseorang sedang mempertahankan citra kekuatan dan kendali, meskipun di dalam hati mereka hancur berantakan.

8. Kewaspadaan

Kewaspadaan juga jadi ciri kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja. Ucapan ini dilontarkan demi menghindari kerentanan. Individu-individu ini umumnya cenderung membangun tembok pertahanan.

“Mengatakan 'Aku baik-baik saja' mencegah mereka melakukan percakapan yang lebih mendalam yang mungkin belum siap mereka lakukan,” kata Dr. Abrishami. 

Selain itu, sikap waspada dan takut akan kerentanan itu bisa berasal dari rasa takut dihakimi. Ini juga bisa terjadi karena mereka telah belajar untuk mengatasinya secara pribadi.

Itulah ciri kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak. Ucapan baik-baik saja memang dapat digunakan dalam situasi yang tepat.

Namun, apabila perasaan tersebut terlalu berat untuk ditanggung sendiri, akan lebih baik jika membaginya dengan orang-orang yang dipercaya. Dengan demikian, beban emosi yang dirasakan, bisa lebih terurai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda