Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Karakter Orang yang Suka Jalan Mondar-mandir saat Merasa Cemas Menurut Psikologi

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Sabtu, 12 Sep 2026 17:00 WIB

A woman dressed in professional attire stands indoors, focusing on her tablet in a modern office space with plants and warm wooden interior decor.
Ilustrasi karakter orang yang suka jalan mondar-mandir saat merasa cemas menurut psikologi / Foto: Getty Images/FreshSplash

Ketika ada seseorang yang mondar-mandir di sebuah ruangan, terkadang seseorang berasumsi bahwa orang itu sedang mengalami cemas. Namun karakter orang yang suka jalan mondar-mandir ternyata lebih kompleks dari sekadar kecemasan, Bunda.

Mengutip laman Economic Times, sebagian orang menganggap gerakan fisik menjadi cara alami untuk mengatur emosi, mengatur pikiran, dan melepaskan ketegangan fisik.

Namun, itu tidak berarti semua orang yang berjalan mondar-mandir mengalami stres, juga tidak berarti orang yang spontan berjalan mondar-mandir menandakan kecemasan atau kondisi kesehatan mental lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut psikologi, gerakan mondar-mandir lebih dari sekadar ekspresi kecemasan. Kegiatan ini juga dapat menjadi cara alami bagi seseorang untuk mengelola pikiran dan melepaskan ketegangan fisik.

Kebiasaan mondar-mandir bisa dilakukan oleh sebagian orang sebagai coping mechanism secara alami. Misalnya, ketika seseorang yang menunggu hasil wawancara kerja, alih-alih berdiam diri, mereka memilih berkeliling ruangan sebagai bentuk memproses ketidakpastian.

Kemudian, karakter orang yang suka jalan mondar-mandir juga bisa karena kemampuan berpikirnya dipengaruhi oleh tindakan fisik tubuh. Bagi sebagian orang, berjalan sambil berpikir dapat membantu seseorang mengatur ide secara lebih efektif dibandingkan hanya berdiam diri. Hal ini sejalan dengan konsep psikologi Kognisi Berwujud atau Embodied Cognition.

Selain itu, jalan mondar-mandir bisa jadi cara seseorang untuk menyalurkan stres tubuh, baik ketika marah atau khawatir. Alih-alih tetap diam dengan ketegangan yang meningkat, gerakan mondar-mandir memberikan saluran konstruktif ketika intensitas emosional secara bertahap menurun.

Jalan mondar-mandir juga merupakan bentuk regulasi diri. Regulasi diri yang dimaksud adalah berkaitan dengan kemampuan membimbing pikiran, emosi, dan perilaku menuju tujuan yang diinginkan. Ada banyak kegiatan yang dilakukan untuk membentuk regulasi diri, salah satunya dengan berjalan mondar-mandir.

Karakter orang yang suka jalan mondar-mandir juga dapat disinyalir sebagai upaya mengurai permasalahan yang kompleks. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas fisik ringan kadang-kadang dapat mendukung aspek tertentu dalam berpikir dan memecahkan masalah.

Misalnya, ketika seorang penulis sulit mengembangkan ide paragraf, berjalan di sekitar rumah bisa jadi cara untuk mengembalikan perspektif baru.

Kegiatan jalan mondar-mandir pun bisa menjadi cara bagi sebagian orang untuk merespon sebuah masalah. Ketika dihadapkan masalah yang rumit, setiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda dalam merespons.

Seseorang bisa saja menjadi lebih pendiam, yang lain mungkin akan membicarakan masalah ini. Ada pula orang yang secara naluriah mulai berjalan mondar-mandir.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa secara psikologi karakter orang yang suka jalan mondar-mandir lebih dari sekadar dilakukan ketika cemas.

Jalan mondar-mandir dapat menjadi karakter atau ciri seseorang dalam memproses emosi, meredakan ketegangan fisik yang menumpuk, dan berpikir lebih jernih.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda