Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

11 Tanda Suami Mulai Berubah dan Membuat Istri Merasa Diabaikan

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Kamis, 10 Sep 2026 20:40 WIB

technology and relationship problem concept - Asian man addicts social network media or video games and ignore couple relationship at home while woman is annoyed about their communication problems
Ilustrasi tanda suami mulai berubah dan membuat istri merasa diabaikan / Foto: Getty Images/PonyWang
Daftar Isi

Apakah benar suami Bunda mulai berubah? Mari pahami tanda-tanda suami berubah yang bisa membuat istri merasa terabaikan.

Pernikahan idealnya menjadi tempat bagi suami dan istri untuk saling berbagi cerita, memberikan dukungan, serta melewati berbagai persoalan bersama. Namun seiring berjalannya waktu, dinamika hubungan bisa berubah.

Kesibukan, masalah pribadi, maupun konflik yang tidak terselesaikan dapat membuat pasangan perlahan merasa semakin jauh. Perubahan sikap suami juga terkadang membuat istri bertanya-tanya apakah hubungan mereka masih berjalan seperti dulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ada sejumlah perilaku yang mungkin menunjukkan berkurangnya kedekatan emosional, mulai dari enggan berbicara hingga tidak lagi melibatkan istri dalam keputusan penting. Meski demikian, tanda-tanda ini tidak selalu berarti suami sudah tidak mencintai istrinya.

Kondisi tersebut sebaiknya dilihat secara menyeluruh dan dibicarakan dengan terbuka. Lantas, apa saja perubahan sikap yang bisa membuat istri merasa diabaikan? 

Tanda suami mulai berubah dan membuat istri merasa diabaikan

Berikut beberapa tanda yang patut diperhatikan.

1. Suami mulai menghindari percakapan yang mendalam

Mungkin dahulu suami mungkin menjadi orang pertama yang diajak berdiskusi tentang berbagai hal. Namun kini ia terlihat enggan membicarakan perasaan, persoalan rumah tangga, atau hal-hal yang sedang dipikirkannya.

Percakapan yang sebelumnya terasa dekat perlahan berubah menjadi obrolan singkat dan sekadar membahas kebutuhan sehari-hari. Ketika seseorang tidak lagi bersedia membuka diri kepada pasangannya, kedekatan emosional bisa ikut berkurang.

"Ketersediaan emosional memungkinkan orang untuk terhubung pada tingkat yang lebih dalam, serta menumbuhkan kepercayaan, keintiman, dan saling pengertian. Tanpa hal tersebut, hubungan dapat menjadi renggang, yang berujung pada kesalahpahaman dan kebutuhan yang tidak terpenuhi," kata Paper Cranes, seorang konselor hubungan asmara, dilansir dari Your Tango.

2. Suami tidak lagi tertarik menanyakan keseharian istri

Pertanyaan sederhana seperti "Bagaimana harimu?" mungkin terdengar sepele. Padahal perhatian kecil ini bisa menjadi cara pasangan menunjukkan bahwa ia masih tertarik dengan kehidupan satu sama lain.

Jika suami yang biasanya bertanya tentang pekerjaan, aktivitas anak, atau kejadian yang dialami istri tiba-tiba berhenti melakukannya, perubahan tersebut bisa terasa cukup menyakitkan. Bukan karena pertanyaannya penting, melainkan karena perhatian di balik pertanyaan yang membuat pasangan merasa dihargai dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan satu sama lain.

3. Suami terlihat tidak peduli dengan perasaan istri

Ketika istri sedang sedih, kecewa, atau berbahagia karena sebuah pencapaian, suami yang biasanya memberikan respon justru tampak biasa saja. Ia tidak lagi berusaha menghibur ketika istri terpuruk atau memberikan apresiasi ketika merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

Psikolog Guy Winch menyebut validasi emosional sebagai keterampilan penting dalam hubungan, termasuk ketika pasangan sedang menghadapi konflik. Menurutnya, proses tersebut dapat dimulai dengan mendengarkan sudut pandang pasangan dan memahami bagaimana perasaannya.

Setelah itu, pasangan dapat merangkum kembali apa yang didengar, mengajukan pertanyaan untuk memperjelas, dan menunjukkan empati. Sikap tersebut tentu membutuhkan kemauan dari kedua pihak. Jika salah satu pasangan tidak lagi bersedia mendengarkan atau memahami emosi pasangannya, hubungan dapat terasa semakin renggang.

4. Gestur romantis mulai menghilang

Tidak semua pasangan menunjukkan kasih sayang dengan cara yang sama. Namun jika sebelumnya suami terbiasa melakukan hal-hal romantis dan kemudian berhenti sepenuhnya, perubahan itu bisa membuat istri merasa kehilangan perhatian.

Bentuknya tidak harus selalu berupa hadiah mahal atau makan malam mewah. Mengajak kencan, memberikan kejutan kecil, membawakan makanan kesukaan, atau sekadar meluangkan waktu berdua juga merupakan bentuk perhatian.

Ketika berbagai usaha untuk menjaga kedekatan tersebut semakin jarang dilakukan, istri bisa merasa hubungan mereka tidak lagi menjadi prioritas.

5. Suami lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah

Punya kehidupan sosial dan waktu untuk diri sendiri sebenarnya merupakan hal yang sehat dalam pernikahan. Masalah dapat muncul jika suami justru terus-menerus mencari alasan untuk berada di luar rumah dan mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga.

Misalnya saja, ia semakin sering pulang larut karena pekerjaan, lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman, atau memenuhi hampir seluruh waktu luangnya dengan aktivitas pribadi. Jika pola itu berlangsung terus-menerus tanpa komunikasi yang jelas, istri dapat merasa ditinggalkan secara emosional.

Kurangnya waktu bersama bukan sekadar persoalan kuantitas. Ketika pasangan tidak lagi berusaha menyediakan waktu untuk terhubung, hal itu dapat menjadi tanda adanya persoalan yang lebih dalam dalam hubungan.

6. Suami terlalu sering mengkritik kekurangan istri

Setiap pasangan tentu memiliki kebiasaan yang terkadang membuat satu sama lain merasa kesal. Namun ada perbedaan antara memberikan masukan dan terus-menerus mencari kesalahan pasangan.

Terapis Jennifer Twardowski menjelaskan bahwa kritik yang sehat seharusnya berfokus pada upaya memperbaiki keadaan, bukan mendefinisikan seseorang berdasarkan kekurangannya.

"Orang yang terlalu gemar mengkritik akan menjadikan kekuranganmu sebagai senjata untuk menyerang dan membuatmu merasa rendah diri. Mereka memandang seseorang hanya berdasarkan kegagalannya, tanpa menawarkan solusi yang bermanfaat atau cara untuk memperbaikinya," ujar Jennifer.

Ketika suami mulai mempermasalahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah menjadi persoalan, istri bisa merasa apa pun yang dilakukan selalu salah. Dalam jangka panjang, pola komunikasi seperti ini dapat menumbuhkan rasa tidak percaya diri, sakit hati, dan kebencian dalam hubungan.

7. Tidak lagi membuat rencana masa depan bersama

Membicarakan masa depan merupakan salah satu cara pasangan menunjukkan bahwa mereka masih melihat satu sama lain sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu, perubahan dalam hal ini patut diperhatikan.

Suami yang sebelumnya senang membicarakan rencana liburan, kegiatan keluarga, rumah, atau berbagai tujuan bersama mungkin kini tidak lagi melakukannya. Ia hanya menjalani rutinitas sehari-hari tanpa membicarakan apa yang ingin dilakukan bersama beberapa bulan atau tahun mendatang.

Tidak adanya rencana bersama tak otomatis berarti hubungan akan berakhir. Namun kalau hal itu muncul bersamaan dengan perubahan sikap lainnya, kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa kedekatan dan rasa memiliki dalam hubungan sedang mengalami masalah.

8. Silent treatment ketika terjadi masalah

Diam sesaat untuk menenangkan diri setelah pertengkaran sebenarnya berbeda dengan sengaja mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman. Silent treatment yang dilakukan berulang kali dapat membuat istri merasa diabaikan dan tidak memiliki ruang untuk menyelesaikan masalah.

Konselor profesional berlisensi Gina Binder menjelaskan bahwa dalam pola silent treatment, satu pihak berusaha menuntut penyelesaian sementara pihak lainnya menarik diri. Akibatnya, komunikasi, keintiman, dan kepuasan dalam hubungan dapat menurun.

Menurut Binder, diam bukan selalu masalah. Persoalannya muncul ketika diam digunakan secara sengaja sebagai tindakan menghukum atau bentuk agresi pasif. Jika berlangsung terlalu lama, sikap tersebut dapat menjadi cara yang tidak sehat untuk mengendalikan pasangan.

9. Suami tidak lagi mau meminta maaf

Perselisihan merupakan bagian dari kehidupan rumah tangga. Yang membedakan hubungan sehat dan tidak adalah bagaimana pasangan berusaha memperbaiki keadaan setelah konflik.

Jika suami melakukan kesalahan namun tidak pernah mau mengakuinya atau hanya memberikan permintaan maaf yang terkesan menyalahkan pasangan, istri tentu dapat merasa tidak dihargai. Psikolog Dr. Cheryl Fraser menekankan bahwa proses memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik merupakan tanggung jawab kedua pihak.

10. Mulai mengambil keputusan penting tanpa melibatkan istri

Pernikahan pada dasarnya merupakan hubungan dua orang yang menjalani kehidupan bersama. Untuk itu, keputusan yang berdampak pada keluarga idealnya dibicarakan bersama.

Ketika suami mulai mengambil keputusan penting seorang diri tanpa meminta pendapat istri, hal ini dapat membuat pasangan merasa tidak lagi dianggap sebagai rekan hidup. Terlebih jika keputusan berkaitan dengan keuangan, anak, tempat tinggal, pekerjaan, atau rencana keluarga.

Kebiasaan mengambil keputusan sendiri juga dapat menunjukkan adanya jarak dalam hubungan. Bukan semata-mata karena keputusan tersebut benar atau salah, melainkan karena proses berdiskusi dan mempertimbangkan kebutuhan pasangan mulai ditinggalkan.

11. Tidak benar-benar mendengarkan istri berbicara

Mendengarkan bukan sekadar berada di dekat pasangan ketika ia bercerita. Perhatian penuh juga menjadi bagian penting dari komunikasi dalam rumah tangga.

Misalnya saja, suami terlihat mengangguk ketika istri berbicara, tapi sebenarnya sibuk melihat ponsel atau melakukan aktivitas lain. Ia mungkin hanya menangkap sebagian cerita dan tidak mampu mengingat apa yang sebelumnya disampaikan.

Jika kebiasaan tersebut semakin sering terjadi, istri akan merasa merasa cerita dan pendapatnya tidak lagi dianggap penting. Dalam jangka panjang, kurangnya kemampuan untuk saling mendengarkan bisa mengikis kedekatan emosional yang sebelumnya terbangun.

Perubahan sikap dalam pernikahan memang dapat menimbulkan kekhawatiran. Namun sebelas tanda tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa suami sudah tidak mencintai istrinya.

Stres pekerjaan, kelelahan, masalah keuangan, persoalan keluarga, kondisi psikologis, atau konflik yang belum selesai juga dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan memperlakukan pasangan. Untuk itu, penting melihat perubahan suami sebagai bagian dari pola, bukan berdasarkan satu kejadian saja.

Jika merasa mulai diabaikan, Bunda dapat mencoba membicarakannya pada waktu yang tenang. Sampaikan perasaan dan kebutuhan secara terbuka tanpa langsung memberikan tuduhan.

Dalam pernikahan, kedua pihak perlu memiliki kemauan untuk mendengarkan, memperbaiki kesalahan, dan kembali membangun kedekatan bersama.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda