moms-life
Masalah di Tempat Kerja Bikin Kesal? Jangan Langsung Diviralkan tapi Lakukan Langkah Ini
HaiBunda
Jumat, 11 Sep 2026 20:40 WIB
Daftar Isi
- Kisah pekerja yang viralkan masalah di kantor
-
Cara bijak selesaikan masalah di tempat kerja
- 1. Jangan langsung meluapkan masalah di media sosial
- 2. Ceritakan masalah kepada pihak yang tepat
- 3. Susun kronologi kejadian
- 4. Kumpulkan bukti yang berkaitan dengan masalah
- 5. Lakukan klarifikasi sebelum berasumsi
- 6. Pahami kewajiban dan hak masing-masing pihak
- 7. Tempuh mekanisme penyelesaian perselisihan
Bunda punya masalah dengan atasan? Jangan langsung diviralkan, coba lakukan beberapa hal ini.
Masalah di tempat kerja memang bisa membuat emosi naik, terlebih ketika karyawan merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan atau pihak perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, media sosial sering menjadi tempat untuk meluapkan kekesalan.
Unggahan yang awalnya hanya ditujukan kepada teman dekat bisa saja menyebar lebih luas dan akhirnya diketahui pihak perusahaan. Hal ini bisa merugikan Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari bahas mengenai cara bijak menghadapi masalah di tempat kerja tanpa harus langsung diviralkan.
Kisah pekerja yang viralkan masalah di kantor
Sebelum memahami caranya, ada kisah yang dialami seorang karyawan di sebuah pabrik penggergajian kayu atau sawmill di kota kecil. Ia mengaku sedang mengalami kondisi keuangan yang sulit saat Natal sehingga menulis keluhan di Facebook.
Ketika seorang pengguna berkomentar mengenai kondisi sulit yang juga dialami perusahaan, ia membalas dengan menyindir bahwa atasannya lebih sering berlibur dibanding dirinya pergi berbelanja. Setelah itu, dalam rapat seluruh karyawan, sang atasan menyinggung keberadaan 'Facebook warriors' yang dianggap membuat pernyataan tidak pantas.
Karyawan tersebut mengaku sudah membatasi privasi akun Facebook-nya dan hanya berteman dengan beberapa orang dari tempat kerja yang benar-benar dipercaya. Namun karena tinggal di komunitas kecil tempat banyak orang pernah bekerja di perusahaan yang sama, ia menduga unggahannya sampai kepada atasannya melalui orang lain.
Ia pun mulai merasa khawatir setelah melihat atasannya dan supervisor semakin memperhatikan kesalahan kecil dalam pekerjaannya serta mulai melatih orang lain untuk mengoperasikan mesinnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa mengeluhkan persoalan pekerjaan di media sosial tetap memiliki risiko, sekalipun unggahan sudah dibatasi untuk orang-orang tertentu.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan karyawan ketika menghadapi masalah di tempat kerja?Â
Cara bijak selesaikan masalah di tempat kerja
Berikut cara bijak menyelesaikan masalah di tempat kerja.
1. Jangan langsung meluapkan masalah di media sosial
Media sosial mungkin terasa seperti tempat yang aman untuk mencurahkan kekesalan. Akan tetapi, begitu sesuatu diunggah ke internet, kendali atas siapa yang akhirnya melihat informasi tersebut menjadi semakin terbatas. Bahkan pengaturan privasi tidak selalu menjamin unggahan tak akan diteruskan kepada orang lain.
Pakar Matti Laukkarinen, sebagaimana dikutip dalam Harvard Business Review, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat jejak digital semakin mudah ditelusuri. Menurutnya, dengan bantuan perangkat berbasis AI, perekrut maupun pemberi kerja dapat menambang dan menganalisis berbagai informasi yang tersedia secara digital.
Untuk itu, jika sebuah unggahan berpotensi membuat atasan atau calon pemberi kerja memberikan penilaian negatif, pilihan paling aman adalah tidak mempublikasikannya sejak awal.
2. Ceritakan masalah kepada pihak yang tepat
Ketika terjadi perselisihan di tempat kerja, karyawan sebaiknya tidak menjadikan media sosial sebagai saluran utama untuk mencari penyelesaian. Langkah awal yang lebih tepat mengidentifikasi masalah dan menyampaikannya kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk membantu.
Karyawan juga perlu memberikan informasi berdasarkan fakta, bukan sekadar asumsi atau emosi. Jika persoalannya berkaitan dengan hubungan kerja, komunikasi dengan atasan, cerita ke HR atau pihak terkait sehingga menjadi langkah awal sebelum persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
3. Susun kronologi kejadian
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengingatkan agar pekerja tidak terburu-buru mengambil tindakan ketika menghadapi perselisihan. Salah satu hal yang perlu dilakukan menyusun kronologi kejadian, termasuk mencatat kapan peristiwa berlangsung, siapa saja yang terlibat, serta apa yang sebenarnya terjadi.
Kronologi yang jelas dapat membantu karyawan melihat persoalan secara lebih objektif. Catatan tersebut juga berguna ketika masalah nantinya perlu disampaikan kepada perusahaan, instansi ketenagakerjaan, maupun pihak lain yang berwenang.
4. Kumpulkan bukti yang berkaitan dengan masalah
Selain mencatat kronologi, karyawan disarankan mengumpulkan dokumen atau bukti yang berhubungan dengan persoalan. Kemnaker memberikan contoh bukti seperti surat kontrak, percakapan atau chat, slip upah, maupun dokumen terkait lainnya.
Bukti tersebut sebaiknya disimpan dengan baik dan digunakan untuk memperjelas duduk perkara. Hindari mengedit, menghilangkan bagian penting, atau menyebarkannya ke media sosial hanya untuk memperkuat argumen. Tujuan utama mengumpulkan bukti untuk membantu proses penyelesaian, bukan memperbesar konflik.
5. Lakukan klarifikasi sebelum berasumsi
Tidak semua tindakan atasan atau rekan kerja yang dianggap menyudutkan otomatis berarti seseorang sedang berusaha merugikan karyawan. Oleh sebab itu, penting melakukan klarifikasi kepada pihak terkait sebelum mengambil kesimpulan.
Kemnaker juga mengingatkan agar tidak hanya berasumsi, tapi melakukan konfirmasi informasi kepada pihak yang bersangkutan. Dengan cara ini, karyawan memiliki kesempatan untuk mengetahui penjelasan dari kedua sisi sekaligus menghindari kesalahpahaman.
6. Pahami kewajiban dan hak masing-masing pihak
Sebelum mengambil langkah lebih jauh, karyawan perlu memahami hak dan kewajibannya dalam hubungan kerja. Hal ini penting agar tindakan yang diambil tidak hanya didasarkan pada perasaan dirugikan, tapi juga memiliki dasar yang jelas.
Bunda juga dianjurkan memastikan terlebih dahulu kewajiban dan hak dari masing-masing pihak sebelum bertindak. Pemahaman ini dapat membantu karyawan menentukan langkah yang lebih tepat ketika menghadapi perselisihan.
7. Tempuh mekanisme penyelesaian perselisihan
Kalau permasalahan belum dapat diselesaikan melalui pembicaraan antara pekerja dan perusahaan, jangan langsung menjadikannya konsumsi publik. Perselisihan dapat dicatatkan pada instansi ketenagakerjaan setempat jika belum mencapai kesepakatan.
Setelah dicatatkan, penyelesaian dapat dilanjutkan sesuai mekanisme yang berlaku, mulai dari mediasi, konsiliasi, hingga arbitrase, bergantung pada jenis perselisihan yang dihadapi. Hal ini merujuk pada Pasal 3 dan Pasal 4 UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
Dengan demikian, ketika masalah di tempat kerja membuat kesal, menahan diri sebelum mengunggah keluhan ke media sosial bisa menjadi pilihan yang lebih aman. Unggahan mungkin memberikan kepuasan sesaat, namun dampaknya terhadap hubungan kerja atau reputasi profesional dapat berlangsung jauh lebih lama.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
5 Kebiasaan di Kantor yang Bikin Kerja Tak Produktif, Kerjaan Jadi Lama Selesai
Mom's Life
10 Cara Bisa Bahagia di Tempat Kerja, Biar Pulang ke Rumah Enggak Ngomel Bun
Mom's Life
5 Tips Agar Tak Didiskriminasi saat Jadi Perempuan Satu-satunya di Tempat Kerja
Mom's Life
Prediksi Zodiak Hari Ini, Wah Ada Tawaran Proyek Menarik Nih Buat Aries
Mom's Life
Catat Bun, Ini 5 Pertanyaan yang Bisa Diajukan ke HRD saat Wawancara Kerja
7 Foto
Mom's Life
7 Potret Bunda Seleb dengan Koleksi Boneka Labubu, Cathy Sharon hingga Ayu Dewi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Orang Cerdas Sering Merasakan Emosi Ini saat Memulai Pekerjaan Baru, Ternyata...
11 Ciri Kepribadian Karyawan dengan Performa Tinggi di Tempat Kerja, Jarang Dimiliki
4 Ciri Rekan Kerja Toxic yang Perlu Diwaspadai, Bisa Menguras Energi