MOM'S LIFE
11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial
Melly Febrida | HaiBunda
Minggu, 13 Sep 2026 14:25 WIBBunda mungkin pernah memperhatikan kenalan yang hampir tidak pernah membagikan kehidupan pribadinya di media sosial (medsos). Atau, jangan-jangan justru Bunda sendiri? Di akun media sosialnya tidak ada foto liburan, ulang tahun, kehidupan keluarga, bahkan momen-momen sederhana sehari-hari.
Selama ini, media sosial memang membuat berbagi kehidupan pribadi terasa seperti sesuatu yang biasa. Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba berhenti posting, orang di sekitarnya mungkin bertanya-tanya. Apakah sedang ada masalah? Apakah dia menjauh? Apakah dia kesepian?
Belum tentu juga, Bunda. Tidak banyak berbagi di media sosial bukan berarti seseorang tidak punya kehidupan sosial, lho. Ada orang yang memang memilih tidak banyak membagikan kehidupan pribadinya di ruang publik.
Lantas, seperti apa ciri kepribadian orang yang tak pernah memposting kehidupan pribadinya di medsos?
Ciri kepribadian orang yang tidak pernah posting kehidupan pribadi di media sosial
Seseorang yang tidak sering membagikan kehidupan pribadinya di medsos tidak otomatis berarti kesepian, antisosial, atau tak memiliki kehidupan sosial. Bisa jadi, mereka merasa lebih nyaman menyimpan sebagian kehidupannya untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat.
Psikologi justru melihat bahwa keputusan mengurangi postingan di medsos dapat berkaitan dengan berbagai hal. Mulai dari kebutuhan akan privasi, keamanan emosional, dan keinginan menjalani hidup yang lebih autentik, hingga berkurangnya kebutuhan untuk mendapat validasi dari orang lain.
Salah satu penjelasannya dapat dilihat melalui teori penentuan diri atau Self-Determination Theory yang dikembangkan psikolog Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis dapat meningkat ketika seseorang lebih banyak digerakkan oleh motivasi dari dalam dirinya, bukan semata-mata oleh imbalan atau pengakuan dari luar.
Dalam teori tersebut, manusia memiliki kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan orang lain. Sementara itu, media sosial sering kali memberikan bentuk validasi eksternal melalui jumlah suka, komentar, bagikan, atau reaksi dari orang lain.
Untuk sebagian orang, ketika kebutuhan untuk mendapatkan validasi tersebut berkurang, mengunggah kehidupan pribadi ke ruang publik pun bisa terasa tidak lagi terlalu penting. Mereka mungkin lebih menikmati pengalaman itu sendiri tanpa merasa perlu mengukurnya dari respons orang lain.
Selain itu, bisa saja orang tersebut mulai merasa bahwa tidak semua pengalaman perlu dibagikan kepada publik.
Berikut beberapa ciri kepribadian orang yang jarang atau bahkan tidak pernah memposting kehidupan pribadinya di media sosial, yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Memiliki batasan pribadi yang kuat
Orang yang jarang memposting kehidupan pribadi biasanya lebih selektif dalam menentukan hal-hal yang ingin mereka bagikan di media sosial. Mereka bisa saja tetap aktif menggunakan media sosial, tetapi tidak merasa harus membagikan semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
Mereka menganggap ada bagian kehidupan yang memang lebih nyaman disimpan sendiri.
Dalam psikologi, hal ini dapat dikaitkan dengan Privacy Regulation Theory dari psikolog Irwin Altman. Teori ini melihat privasi bukan sebagai bentuk isolasi, melainkan sebagai proses ketika seseorang mengatur seberapa banyak akses orang lain terhadap dirinya.
Maksudnya, menjaga privasi bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Seseorang tetap dapat memiliki hubungan dekat sambil menentukan informasi mana yang ingin dibagikan dan kepada siapa.
2. Lebih selektif dalam membangun kepercayaan
Tidak semua orang nyaman membuka kehidupan pribadinya di ruang publik. Ada yang justru lebih memilih berbagi cerita secara mendalam dengan orang-orang yang sudah mereka percaya.
Ini sesuai dengan Teori Keterikatan (Attachment Theory) yang awalnya dikembangkan oleh psikolog John Bowlby, seperti dilansir YourTango. Teori ini menjelaskan bagaimana pengalaman awal dalam hubungan dapat memengaruhi cara seseorang membangun kepercayaan, keintiman, dan hubungan emosional.
Dalam konteks media sosial, seseorang mungkin lebih nyaman berbagi cerita lewat pesan langsung, percakapan pribadi, atau dengan lingkaran pertemanan yang lebih kecil daripada mempostingnya untuk dilihat ratusan atau bahkan ribuan orang.
Jarang memposting kehidupan pribadi tidak otomatis berarti seseorang punya keterampilan sosial yang buruk.
3. Lebih menikmati momen tanpa harus membagikannya
Ada orang yang kalau sedang jalan-jalan langsung sibuk foto-foto buat diunggah. Ada juga yang malah memilih menyimpan ponsel dan menikmati suasananya.
Orang yang jarang posting kehidupan pribadi bisa saja merasa lebih nyaman menjalani pengalaman tanpa terlalu memikirkan bagaimana momen tersebut akan terlihat di media sosial. Bukan berarti orang yang suka posting tidak bisa menikmati momen. Keduanya tetap bisa dilakukan bersamaan.
Hanya saja, untuk sebagian orang, pengalaman terasa lebih seru ketika tak harus ditampilkan kepada publik. Fokusnya bukan lagi "bagaimana supaya terlihat", tetapi lebih ke "bagaimana supaya benar-benar menikmati."
4. Tidak terlalu tertarik dengan drama di media sosial
Media sosial bisa jadi tempat mencari informasi dan ngobrol dengan orang lain. Tapi kalau isinya terlalu ramai, drama, perdebatan, dan konten negatif juga bisa bikin capek.
Orang yang membatasi aktivitas di media sosial mungkin sengaja menjaga jarak dari hal-hal seperti itu. Mereka nggak merasa harus ikut berkomentar, ikut berdebat, atau tahu semua hal yang sedang ramai.
Daripada ikut terseret ke dalam keributan di layar, mereka mungkin lebih memilih menggunakan waktunya untuk kehidupan di luar media sosial.
5. Lebih suka menghabiskan waktu di luar media sosial
Orang yang tidak banyak membagikan kehidupan pribadi belum tentu enggak punya banyak kegiatan. Mereka bisa saja lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menjalani hobi, mengurus keluarga, bertemu teman, atau sekadar menikmati waktu sendiri.
Ini bukan berarti orang yang jarang posting pasti lebih suka berpikir mendalam atau punya kepribadian tertentu. Yang lebih mungkin, mereka memang tidak menjadikan media sosial sebagai tempat utama untuk menunjukkan apa yang sedang mereka jalani.
6. Tidak terlalu sibuk memikirkan citra di media sosial
Media sosial memberi kita kesempatan untuk menentukan seperti apa diri kita ingin dilihat orang lain. Foto yang dipilih, caption yang ditulis, sampai hal-hal yang sengaja enggak diunggah bisa ikut membentuk kesan tentang diri kita.
Dalam konsep Impression Management yang dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman, manusia memang dapat berusaha mengatur kesan yang muncul di mata orang lain. Konsep self-presentation ini juga digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang menampilkan dirinya kepada orang lain.
Tapi pada sebagian orang, terus memikirkan citra seperti itu bisa terasa melelahkan. Akhirnya, mereka memilih mengurangi posting karena nggak ingin terus merasa harus menunjukkan versi tertentu dari dirinya kepada publik.
7. Berusaha hidup sesuai dengan dirinya sendiri
Orang yang menjaga privasi di media sosial bisa mempunyai ruang yang lebih besar untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai dan pilihan pribadinya. Mereka nggak selalu merasa harus mengikuti tren atau menunjukkan bahwa hidupnya sama menariknya dengan orang lain di internet.
Dalam psikologi, autentisitas berkaitan dengan adanya keselarasan antara diri, nilai, dan perilaku seseorang. Orang yang merasa nyaman dengan pilihannya sendiri nggak selalu merasa harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.
Seseorang nggak harus meninggalkan media sosial untuk menjadi autentik. Yang penting, cara dia menggunakannya terasa sesuai dengan dirinya, bukan semata-mata karena merasa harus mengikuti orang lain.
8. Punya batasan dalam menggunakan media sosial
Jarang posting bukan berarti seseorang nggak menggunakan media sosial sama sekali. Mereka mungkin masih tetap scrolling, membaca berita, melihat unggahan teman, atau menggunakan aplikasi tertentu. Hanya saja, mereka punya batasan tentang apa yang ingin dibagikan.
Di tengah kebiasaan banyak orang membagikan hampir setiap aktivitas secara online, memilih untuk tidak ikut membagikan semuanya juga membutuhkan keputusan sendiri. Mereka tetap bisa aktif secara digital tanpa merasa harus selalu hadir dan terlihat.
9. Lebih memilih memproses perasaan secara pribadi
Ketika sedang bahagia, marah, kecewa, atau mendapatkan sesuatu yang membanggakan, sebagian orang langsung ingin membagikannya. Tapi ada juga yang lebih suka menikmati atau memproses perasaannya sendiri terlebih dahulu.
Mereka mungkin memilih cerita kepada pasangan, keluarga, sahabat, atau cukup menyimpannya untuk diri sendiri.
Nggak semua emosi harus dibawa ke media sosial untuk mendapatkan respons dari orang lain. Dan tentu saja, jarang posting juga bukan berarti seseorang pasti lebih pandai mengelola emosi. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi perasaannya.
10. Tidak terlalu membutuhkan validasi dari media sosial
Media sosial menyediakan banyak bentuk validasi. Ada like, komentar, pujian, sampai jumlah orang yang melihat sebuah unggahan. Tapi bagi sebagian orang, respons seperti itu mungkin bukan lagi ukuran utama apakah sesuatu terasa berharga.
Hal ini bisa dilihat dari perspektif Self-Determination Theory yang dikembangkan psikolog Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menekankan pentingnya motivasi yang berasal dari dalam diri serta kebutuhan psikologis akan autonomy, competence, dan relatedness.
Ini berarti seseorang bisa saja melakukan sesuatu karena memang merasa penting atau bermakna baginya, bukan karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Pertanyaannya pun bisa berubah. Bukan lagi, "Orang lain bakal suka enggak?"
Tapi lebih ke, "Aku sendiri merasa ini bermakna enggak?"
11. Tidak terlalu masalah kalau disalahpahami orang lain
Orang yang tidak banyak posting kadang bisa dianggap aneh, tertutup, sombong, atau bahkan enggak punya kehidupan sosial.
Padahal, belum tentu begitu, Bunda. Sebagian orang memang nggak merasa perlu menjelaskan kehidupan pribadinya kepada semua orang. Mereka bisa saja tetap punya keluarga, sahabat, dan hubungan sosial yang dekat. Hanya saja, kehidupan tersebut nggak semuanya perlu ditampilkan di media sosial.
Mereka juga mungkin nggak terlalu merasa perlu meluruskan setiap anggapan orang tentang dirinya. Selama pilihan untuk menjaga privasi itu terasa nyaman bagi dirinya, penilaian orang lain bukan sesuatu yang harus selalu direspons.
Jarang posting bukan berarti nggak punya kehidupan. Mereka bisa saja hanya memilih kehidupan itu tetap menjadi miliknya sendiri.
Mengurangi posting bukan berarti menarik diri dari kehidupan sosial
Pada akhirnya, frekuensi seseorang mengunggah kehidupan pribadi di media sosial tidak bisa menjadi ukuran tunggal untuk menilai kepribadiannya.
Ada orang yang aktif posting dan tetap memiliki hubungan sosial yang sehat. Ada pula yang hampir tidak pernah posting tetapi memiliki keluarga, sahabat, dan kehidupan sosial yang bermakna.
Teori Social Comparison dari psikolog Leon Festinger membantu menjelaskan mengapa media sosial bisa membuat seseorang lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi diri dengan melihat orang lain, terutama ketika tidak ada standar objektif untuk menilai diri sendiri.
Di media sosial, proses tersebut bisa semakin mudah terjadi karena kita terus melihat kehidupan, pencapaian, penampilan, atau pengalaman orang lain. Sejumlah penelitian menemukan bahwa social comparison di media sosial berkaitan dengan berbagai aspek kesejahteraan psikologis.
Pada sebagian orang, mengurangi penggunaan media sosial atau membatasi paparan terhadap konten tertentu mungkin membantu mengurangi perbandingan yang terasa melelahkan.
Misalnya, salah satu penelitian eksperimental menemukan bahwa membatasi waktu penggunaan media sosial dan mengurangi paparan terhadap konten orang asing dapat menurunkan social comparison pada sebagian peserta.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Ciri Kepribadian Orang Kreatif, Sering Punya Kebiasaan Ini
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
7 Kepribadian Orang yang Tidak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
TERPOPULER
11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial
3 Warna Favorit Orang dengan EQ Tinggi
13 Koleksi Gambar Masjid untuk Lomba Mewarnai Anak TK dan SD
Alami 5 Kali Keguguran, Bunda Ini Ungkap Luka yang Makin Berat karena Budaya Diam
Letak Kista saat Hamil dan Ciri-cirinya yang Perlu Diketahui
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Mini Vacuum Cleaner, Ukuran Kecil tapi Daya Isap Kuat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Waspada Abu Vulkanik, Ini 5 Barang Sebaiknya Dimiliki di Rumah untuk Lindungi Keluarga
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sandal Jepit Perempuan yang Stylish dan Nyaman untuk Berbagai Aktivitas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Kompor Portable Terbaik untuk Dapur dan Aktivitas Outdoor
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan untuk Masak Nasi Goreng yang Bagus, Anti Lengket, dan Awet
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Letak Kista saat Hamil dan Ciri-cirinya yang Perlu Diketahui
13 Koleksi Gambar Masjid untuk Lomba Mewarnai Anak TK dan SD
3 Warna Favorit Orang dengan EQ Tinggi
11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial
Alami 5 Kali Keguguran, Bunda Ini Ungkap Luka yang Makin Berat karena Budaya Diam
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Baju Jadi Belang? Bisa Jadi Kamu Salah Pilih Mode Setrika Uap
-
Beautynesia
BeauPicks: 3 Rekomendasi Serum Wajah dari Brand Lokal untuk Atasi Jerawat Membandel
-
Female Daily
Mau Tetap Fresh Seharian? Ini Hair & Body Mist Terbaru dari Botanical Essentials!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Rekomendasi 10 Drakor Terbaru 2026 Rating Tertinggi, Paling Seru!
-
Mommies Daily
7 Vitamin dan Mineral untuk Daya Tahan Tubuh saat Musim Pancaroba, Nggak Gampang Sakit!